Sinopsis Reply 1988 Episode 20 Part 1

Cuplikan Epilog Episode 19
Empat ibu-ibu di Ssangmundong sedang ngumpul di rumah Keluarga Sung Salah satu yang menjadi topik pembicaraan mereka adalah mengenai ibu Dong Ryong yang setelah pensiun ternyata masih ingin bekerja—ia melamar kerja sebagai kasir di salah satu supermarket tak jauh dari sana. Usut punya usut, ibu Dong Ryong pernah meninggalkan rumah sekira dua-tiga minggu sebelumnya, ia lari ke rumah saudaranya di Daejeon. Selagi mengawasi cucu-cucunya, ia merasa frustasi. Ibu Dong Ryong tak merasa bahagia hanya dipanggil Dong Ryong Eomma atau Dae Ryong Eomma.
“Namaku Cho Soo Hyang...” ucapnnya getir.
Ia yang selama ini terbiasa berada di luar rumah, sibuk bekerja tiba-tiba harus menghabiskan seluruh hidupnya di rumah—aku pun, yang dulunya terbiasa bergerak ke sana-ke mari jaman kuliah. Ikut organisasi ini, organisasi itu tiba-tiba harus meninggalkan semuanya karena satu dan lain hal. Atau seperti Ayah yang terbiasa bekerja lalu mendadak harus istirahat total karena satu hal—kekosongan yang datang secara tiba-tiba membuat seseorang merasa sakit. Aku sepenuhnya bisa mengerti posisi Ibu Dong Ryong. Ia bukanlah tipe ibu rumah tangga seperti Ra Mi Ran, Lee Il Hwa atau Sunyoung yang sudah terbiasa beraktivitas di rumah.
Sebab itulah, selama beberapa waktu ibu Dong Ryong tak kelihatan di sekitaran Ssangmundong, dan Ryu Appa-lah yang menggantikan posisi beliau mengurus rumah dan cucu-cucunya.
Ryu Appa, seorang pria, suami dan ayah yang baik. Ia membiarkan istrinya istirahat sejenak dan menunggunya merasa lebih enakan barulah ia akan menjemputnya—pengertian sepenuh hati yang diberikan pada ibu Dong Ryong adalah wujud cinta lainnya. Cinta yang dewasa itu tidak egois. Ia menguatkan.
Tak berapa lama datanglah Bora, ia membawa persimon—persimon kering mengingatkanku pada Ji Chang Wook di Empress Ki ㅋㅋㅋ. Il Hwa tak luput memerhatikan cincin yang melingkari jari manis puterinya. Miran berseloroh semakin hari Bora terlihat semakin baik (baca; cantik)—bukankah sudah saatnya dia menikah? Il Hwa tersenyum bahagia, ia menebak saat ini Bora sedang berpacaran.
Hanya berselang beberapa menit, Sunwoo muncul. Ia membawakan Bungeoppang untuk ibunya.
Taraaaaaaaa! Cincin di jari Sunwoo menarik perhatian dua ibu ini... Jangan menyepelekan feeling seorang ibu.
\
***
Desember, 1994. Seoul, Dongbong-gu, Ssangmundong
Hujan turun sangat deras. Bora turun dari bus. Ia terkejut ketika tahu-tahu Sunwoo muncul memayunginya—kapaaaan hati ekeh ada mayungin .
“Apa ini? Apa kau seorang penguntit?” tanya Bora sembari tersenyum.
Iye, aku penguntit hatimuuuuu kakaaaaak eaaaa~
Gak ding, Sunwoo menjawab—kenapa Bora baru menyadarinya sekarang kalau ia adalah seorang penguntit. Aduh inget scene ini pernah bikin trit Suntaek kalang kabut. Pas lagi syuting ada netter yang ngepost ini di DC kalo gak salah inget. Nah, main tebak-tebakkan lah kita. Ketar-ketir jangan sampai itu Deokseon dan Junghwan, pan mereka berdua identik sama bus scene yah? Tapi salah satu member Suntaek keukeuh kalo itu Sunwoo sampe tas Bora diperhatiin sedatil-detailnya. Duh. Ibarat kata di episode 17 Taek udah pasti husband-nya, hanya twist di dua episode terakhir yang bisa membuat Junghwan menjadi husband. Twist yang tak pernah datang hingga detik terakhir.
Sunwoo dan Bora singgah berteduh sambil minum kopi. Inget gak pertama kali Sunwoo nyium pipi Bora, yang lagi ujan-ujanan itu? Itu tenpat yang sama. Bora menanyakan kabar orangtua Sunwoo. Kata Sunwoo, ibu, jinjoo dan ajeossi (Choi Appa) baik-baik saja. Mereka sehat dan sangat bahagia meski tanpa kehadirannya. Dari ucapannya tersirat seolah-olah Sunwoo akan pergi ke suatu tempat yang jauh.
“Jika aku menikah, aku harus meninggalkan rumah.”
“Kau akan menikah?” Bora sedikit cemberut.
“Ya. Kau tidak tahu?
“Aku akan cepat menikah, sebelum kekasihku semakin beranjak tua.” –HAHAHA Sunwoo nge-dish Bora.
Intinya, Sunwoo yang terburu-buru ingin menikah. Begitu ia menjalani magang-nya, ia akan menjadi semakin sibuk. Ia tak ingin mengkhawatirkan pernikahan ketika mereka berdua sama-sama disita kesibukan. Sepanjang Bora setuju dengan itu, Sunwoo ingin menikah tahun depan. Sunwoo melihat bayangan keragu-raguan di wajah kekasihnya. Ia menenangkan Bora dengan mengatakan mereka takkan terburu-buru.
“Kau tahu kan, banyak rintangan yang harus kita lewati?”
Sunwoo tahu, biar dia saja yang mengatasi semuanya. Ia meminta agar Bora tetap disisinya dan jangan sekali-kali berpikir untuk melarikan diri. Lalu dieratkannya pelukannya di bahu Bora. Ia paling suka suasana seperti saat itu. Karakter Sunwoo adalah bukti paling akurat bahwa usia bukan jaminan seseorang bisa dikatakan dewasa atau tidak. Ia tiga tahun lebih muda dari Bora, tapi visi-misinya tentang masa depan sudah tersusun rapi di dalam kepalanya.
Noeul menonton tivi, pertanyaannya adalah apakah iklan yang sedang ditampilkan saat itu iklan jeruk tropis atau iklan lipstik? Noeul mengambil satu jeruk, ia menoleh ke kiri dan wajahnya seketika berubah—ia mengernyit.
“Nuna...” panggilnya.
Wae?” Deokseon yang sedang bercermin, menurunkan cerminnya dan... bibirnya... silaaaauuuu.
“Tidakkah kau makan jeruk terlalu banyak?”
Ekspresi bahagia Deokseon langsung berubah.
“Itu—lipstik, hanya cocok pada Lee Young Ae. Mengapa bibirmu berwarna orange?” kata Noeul lagi.
“Aku hanya mencoba-coba! Tak bisakah kau menyimpan pendapatmu untuk dirimu sendiri?” Deokseon manyun.
“Nuna, tolong... toloooong, berhentilah mengikuti selebriti di televisi. Bijaklah sedikit.”
“Tapi seseorang mengatakan ini terlihat cantik...”
Noeul kesal. “Bawa kemari. Bawa kemari dia. Aku harus tahu orang gila macam apa yang mengatakan itu...”
....
Beberapa saat sebelumnya...
Orang gila itu adalah Taek. BWAHAHAHA. Apa jadinya ya kalau Noeul tahu ini.
Yippeo...” Taek tersenyum manis. Maaaniiiiiissss baaaangeeeeeet *gue ngebias, mau apa lo?*
“Benarkah tak apa-apa? Ini lipstik Lee Young Ae.”
“Kau terlihat lebih cantik dibandingkan Lee Young Ae.”
“Apakah kau tahu siapa Lee Young Ae”
Taek mikir sejenak... “Kau tetap yang tercantik.” DAN AKU BERANI BERTARUH TAEK GAK TAU LEE YOUNG AE. ATAU DIA TAHU, TAPI GA BERANI BILANG, TAKUT DI-GEDEBAG-GEDEBUGIN DEOKSEON HAHAHA. LEE YOUNG AE ITU SALAH SATU ICON-NYA KOREA.  CANTIK BANGET. Pemeran Dae Jang Geum yang fenomenal itu.
Dan Dua pabo-couple ini pun saling tersenyum satu sama lain ㅋㅋㅋㅋ
Taek mengingatkan besok mereka sudah janjian nonton film bareng. Deokseon tidak bisa membatalkannya. Deokseon balik merengut, Taek yang jangan sampai membatalkan seperti yang sudah terjadi—di episode 16, ngomong-ngomong lagunya Sad Fate-nya Nami masih terngiang-ngiang .
Taek mengambil ancang-ancang memeluk Deokseon, namun dengan cepat gadis itu menghindar. Ia melihat sosok mungil Jinjoo memasuki lorong. Hadoh! Padahal aku pengen liat mereka pelukaaan.
“Jinjoo annyeoooong...” Deokseon bersikap se-normal yang ia bisa.
Jinjoo heran melihat oppa-nya ada di sana bersama Deokseon. Jinjoo ini cocok sama Noeul. Insting mereka sama-sama kuat LOL.
Deokseon udah capek-capek berkilah—bilang ia dan Taek sekadar ngobrol saja di sana, eeeh Taek-nya malah dengan polosnya bilang ke Jinjoo kalau dia akan memberitahu semuanya pada adik bungsunya itu. Deokseon segera menyodok rusuknya. HAHAHA. Susaaaaah, orang polos kayak Taek mah... Itu, ngakak aja liat keseriusan wajah Taek pas ngomong, ‘JinJoo-ya I’ll tell you everything later~’ Aigoooo, uri oppa nomu jakka-da. Gak bisa boong.
JinJoo menyadari ada yang salah pada bibir Deokseon. “Heeih, eonni... ada apa dengan bibirmu? Warnanya sangat aneh.”
Dan Jin Joo pun berlalu meninggalkan Deokseon yang... gak tau mau nerjemahin kayak apa eskpresinya. Mbeeeeek. Kambing siapa yang lewaaat barusan?
Taek sekilas menatap kepergian adiknya, lalu ganti menatap Deokseon. Meneliti bibirnya. “Tidak aneh!” tegasnya.
HAHAHA TOLOOOONG... wajahnya itu loooh. Apa ada kata lain dari polos? Bagi Taek, biar pun seluruh dunia bilang Deokseon jelek, di matanya Deokseon selalu cantik, selalu. Ada satu terjemahan lain dari sikap ngotot Taek soal lipstik Lee Young Ae ini. Taek tau Deokseon tidak secantik itu—ia hanya menerapkan white lies-nya di sini. Kebanyakan wanita—aku ga bilang seluruhnya, senang dipuji cantik, meski kadang kenyataannya tidak. Taek tahu itu. Taek tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Deokseon soal lipstik itu. Taek ini sarkas juga ya. Bayangkan jika Junghwan yang ditanya begitu sama Deokseon... ^^
Bora pulang ke rumah. Noeul bertanya apakah di luar hujan dan dijawab singkat kakaknya. Noeul bergumam kalau kakaknya beruntung punya payung, entah dari mana ia mendapatkannya—instingmu Noeul-ah...
Bora melihat bibir Deokseon dan kaget. Ia menyuruh adiknya menghapus lipstik yang dipakai Deokseon. Noeul ngakak sambil memegang perutnya ㅋㅋㅋ
Jujur, aku setuju dengan Taek. Deokseon cantik. Aku merasa Deokseon semakin cantik sejak jatuh cinta pada Taek bila dibandingkan dia di tahun 1988.
Deokseon makan jeruk, dimasukkannya dengan penuh kehati-hatian potongan jeruk itu ke dalam mulutnya. ㅋㅋㅋ aku inget banget pertama kali pake lipstik, aku makan persis kayak Deokseon. Takut lipstiknya terhapus... Deokseon menanyakan keberadaan ayah dan ibunya. Rupanya mereka di atas—rumah Junghwan. Mereka sedang membahas sesuatu yang sangat penting, mengenai kepindahan mereka. Deokseon tak menyangka Kim Sajang akan pindah juga. Tentu saja itu bukan ide buruk mengingat betapa dekatnya mereka. Mereka akan bosan kalau berpisah satu sama lain.
Ada Lee Moon Sae Eoraboni-nya Deokseon muncul di tivi membawakan acara mingguan—The Night Person.
Diskusi soal pindah rumah masih berlangsung. Il Hwa ingin pindah ke Gangnam, ia ingin hidup di Gangnam sebelum ia mati. Dong Il menyambut antuasias, ia pun sama ingin ke Gangnam juga.
“Kau tak bisa ke Gangnam!” sergah Miran.
“200 juta Won tak cukup untuk apartemen seluas 20 pyeong di Gangnam. Jangankan yang baru, bahkan itu tak cukup untuk apartemen tua.” Kim Sajang menjelaskan.
Il Hwa sadar, mereka butuh menyisihkan uang untuk keperluan pernikahan dua puterinya. Dengan sisa uang yang ada, Gangnam bukanlah pilihan yang masuk akal. Miran dan Kim Sajang mengajak Il Hwa dan Dong Il pindah bersama mereka. Il Hwa kembali antusias, ia bertanya di mana Miran dan suaminya akan pindah—Il Hwa lupa nama tempatnya meski sudah diberitahu sebelumnya. Tapi bagi Dong Il tempat itu sangat jauh. Jika mereka ingin ke Seoul, lebih baik tinggalkan Daejeon. Setelah dikompori Miran dan Kim Sajang, Dong Il mulai terpikir akan mempertimbangkan tempat itu. Il Hwa bertanya sekali lagi nama tempatnya.
Bang-yo...
Another parody ㅋㅋㅋ
Selamat Tinggal Masa Mudaku, Selamat Tinggal Ssangmundong .
Keesokan harinya. Taek menunggu Deokseon di bioskop. Lemah Hayati ama cowok yang pake baju item.
JIAHAHAHA beberapa orang mengenal Taek. Waktu menunggu Taek pun berubah jadi acara jumpa fans dadakan. 

Ada yang minta tanda tangan, ada yang minta foto-foto juga. Susaaaah orang terkenaaaal. Lucu deh liat Taek yang sopaaaan banget sama fansnya. Mikir, ini Choi Taek atau Park Bo Gum? ㅋㅋㅋ
Ia tersenyum melihat kedatangan Deokseon. Ganteeeeeeeeeeeeeng. Mungkinkah Hayati perlu periksa ke dokter ahli jantung, bang. Jantung Hayati selalu berdegub kenceng tiap liat senyummu bang... atau mungkinkah ini cinta? Tapi kau sudah jadi milik orang lain. Hayati kudu piye bang *Hayati pun jadi bimbang* .
Bus yang ditumpangi Deokseon terjebak macet. Taek lagi-lagi berbohong demi Deokseon—ia bilang baru saja tiba di sana saat Deokseon bertanya apakah Taek sudah lama tiba. Tolong seseorang kasih tahu Deokseon. Itu, saking lamanya nunggu sampe ada jumpa fans dadakan, Neng.
Taek dan Deokseon menonton film-nya Brad Pitt dan Kirsten Dunst Interview with The Vampire—yang diberi tanda italic adalah potongan dialog film yang sedang mereka tonton. Aku sengaja memasukannya atas nama detail.
“Kau akan meninggalkan aku untuk Armand jika dia menarik perhatianmu,”
“Tidak pernah.” Louie menampik yakin.
“Dia menginginkanmu, seperti kau menginginkannya. Dia menunggumu. Dia menginginkamu sebagai teman. Dia menunggumu di tempatnya. Menurutnya itu membosankan dan tak bernyawa seperti yang kita lakukan.
Taek memalingkan wajahnya, menatap Deokseon dengan tatapan yang... bikin melting. Apa aku perlu jadi Deokseon agar bisa ditatap kamu, baaaaang. Hayati lelah baaaaaang. Hayati ingin pulang kampung sajaaaa *HEEEH! Lebaran belum lewat Hayatiiiii* .
Kau tahu apa yang jiwanya katakan padaku? Tanpa sepatah kata?”
Deokseon menunduk, menatap tangannya.
“Biarkan aku pergi, katanya...”
“... biarkan dia pergi,”
Deokseon tersenyum.
“Itukah yang harus kulakukan, Louie? Membiarkanmu pergi?”
Deokseon pelan-pelan, memutar tangannya, ia memberikan sambutan balik pada genggangaman tangan Taek. Ia tidak akan membiarkan Taek pergi.
“Ayahku, Louie-ku.... Jangan buat aku... “
Taek dan Deokseon kembali menatap layar besar, kali ini duaduanya sama-sama tersenyum. Aih.
Scene ini menunjukkan betapa cerdasnya Lee Woo Jung dan Shin Won Ho. Sama seperti Forrest Gump, film vampire ini seperti sengaja dipilih dan dihadirkan sebagai koneksi hubungan Taek dan Deokseon. Perhatikan detail dialog dan ke mana arah kamera menuju. Hubungan Taek dan Deokseon sangat kuat. Terlalu kuat malah, yang ke depannya bisa menjamin bahwa sesulit apa pun masalah yang akan mereka hadapi, mereka takkan melepaskan tangan satu sama lain. I LOVE YOU, SHIN WON HO! I LOVE YOU LEE WOO JUNG! Ng, mau tau yang lebih koplak lagi? Dua orang pria di belakang Taek dan Deokseon adalah manajer Park Bo Gum  dan Hyeri HAHAHAHA. Jadi ngerasa yang ngedate bukan Deokseon-Taek tapi Bogum-Hyeri.
Jungbong memilah-milih kaset lagu yang akan diputarnya. Ia menulis note untuk Man Ok-ie. Ia lalu menelepon Man Ok-ie, ngingetin kalau tengah malam ini mereka ada janji makan bareng—BGM yang lagi diputer lagunya Bohwal yang juga pernah diputer di Reply 1997 waktu Yoon Jae pergi ke blind date yang diajukan Taewoong dan Yoon Jae malah bertemu Shiwon di sana. Lagu ini juga pernah dinyanyikan Kim Yeon Woo di King of Mask Singer.
Kim Sajang nonton tivi malam-malam. Junghwan bertanya ke mana ibunya. Rupanya Miran sedang berbelanja bareng gengnya. Kim Sajang minta diambilkan fruit punch ke Junghwan. Niat hati mau melawak di depan Junghwan, yang terjadi malah Junghwan melarikan diri dari hadapan ayahnya. ㅋㅋㅋㅋㅋ
Junghwan kembali ke kamarnya dan menelepon Sunwoo. Sunwoo hendak bertemu Bora. Junghwan mendesis, ia belum terbiasa mendengar Sunwoo memanggil Bora tanpa ‘Nuna’ di depannya. Mereka—gang Ssangmundong akan bertemu di kamar Taek nanti. Sehabis menelepon Sunwoo, Junghwan bertanya-tanya di mana Sunwoo dan Bora akan bertemu? Para ibu ngumpul di mana saja. Sebenarnya Junghwan khawatir mereka tertangkap basah  tap beberapa detik kemudian pria itu menggerutu, terserah. Ia tak mau ambil pusing urusan orang—Junghwan’s style.
Bora dan Sunwoo bertemu. Pertama yang disinggung Junghwan, lalu Deokseon. Bora tahu kalau Taek dan Deokseon pacaran ㅋㅋㅋ Sunwoo bilang, Deokseon itu penuh kejutan orangnya. Dia bisa menjadi orang yang kikuk, tapi dia juga bisa menjadi orang yang menyenangkan.
“Kenapa kau lebih tahu adikku lebih dari yang kulakukan?” tanya Bora. Ia dan Sunwoo sama-sama tertawa. Bora menyuruh agar Sunwoo lekas pergi dari sana. Jika mereka terus-menerus bertemu di sekitaran situ, mereka bisa ketahuan suatu saat nanti. Bora menge**p bibir Bora. Bora mendorong mesra kekasihnya. *Diiiih, bisa gak sih ngehargain dikiiiit aja yang lagi jomblooo. Kan ngeselin banget liatnya* yang nanya loooo siapaaa, Azz sayaaaaang...
Sunwoo hendak mencium Bora, lagi. Seketika matanya melebar melihat pemandangan di hadapannya saat itu.
Annyeeoooooong! Emak-emak yang tadinya haha-hihi mendadak terpaku di tempat. PWAHAHAHAHA. 
Bora dan Sunwoo salah tingkah. Bingung apa yang harus mereka lakukan di situasi seperti itu. Il Hwa berlari ke arah kanan, Sunyoung ke kiri, Miran mematung tak ke mana-mana. Il Hwa dan Sunyoung balik ngintip tapi pergi lagi, Bora berlari ke arah tangga, Sunwoo ke arah berlawanan trus Bora berbalik kembali ke arah Sunwoo menghilang HAHAHA mana BGM yang diputer mirip lagu game yang dimainkan Yoon Jae cs di rumah Shiwon.
Dong Il duduk di depan toko Moosung. Ia menghela napas berat, tertawa pendek. Tawa yang tak terdengar menyenangkan. Moosung keluar membawa dua gelas minuman hangat. Jadi berita mengenai Sunwoo dan Bora sudah tersiar ke mana-mana. Gang Ssangmundong terlalu kecil untuk menyimpan rahasia.
“Kenapa dan bagaimana semua berakhir menjadi Sung Sunwoo?” ucap Sung Dong Il getir.
Sunyoung terbaring lemah, kepalanya dibalut kain putih. Pusing. Hal yang sama terjadi pada Il Hwa.
Topik Sunwoo-Bora juga ikut menjadi bahasan di meja makan antara Kim Sajang dan Miran. Kim Sajang terdengar lebih tenang. Bukan berarti Sunwoo dan Bora akan segera menikah. Lagipula, belakangan ini pernikahan dengan nama depan yang sama sudah tak menjadi masalah. Sepupu Miran juga melakukannya. Itu karena marga mereka Kim. Marga Kim sudah biasa. Terlalu banyak orang yang menggunakannya, marga Sung—Bora dan Sunwoo masih sangat jarang digunakan.
Apa yang sempat dikhawatirkan Junghwan benar-benar terjadi. Seharusnya Sunwoo lebih berhati-hati.
Junghwan, Taek, Sunwoo dan Deokseon berkumpul di kamar Taek. Excuse meeeeeeee, kenapa Taek dan Deokseon harus make baju yang samaan. Gue gak terimaaaaa *elu siapa, Azz?* ㅋㅋㅋㅋ Wufff, Taek manly pisaaaan. Hayati jadi susah napaas.
“Bagaimana dengan Bora Nuna?” tanya Junghwan pada Deokseon.
“Katakan padanya supaya datang ke sini,” sambung Taek.
Bora tak mau meninggalkan kamarnya. Jika hal seperti itu terjadi pada Deokseon, Deokseon bakal lari ke rumah temannya—Piuh, untung marganya Taek, Choi. Sunwoo bahkan sudah menyuruh Bora keluar tapi gadis keras kepala itu memilih tetap di rumah. Sung Bora sangat kuat.
Dong Ryong datang belakangan, berita itu sudah sampai padanya juga. Mengapa suasananya jadi tegang begini? Tanyanya. Bukankah pada akhirnya semuanya akan tahu juga? Hanya saja timing nya tak tepat saat itu. Mereka terlalu cepat mengetahui sesuatu yang seharusnya mereka tahu nanti—ketika semua sudah merasa siap. Apa yang dikatakan Dong Ryong mirip dengan kata-kata Kim Sajang sebelumnya—banyak orang yang nama depannya sama, tetap bisa menikah. Orang-orang bilang hukum akan berubah juga.
“Ya, Deokseon-ie, bagaimana perasaanmu jika punya kakak ipar Sunwoo?” Dong Ryong tanpa basa-basi langsung bertanya pada Deokseon.
“Ya, apakah kau akan menikahi Sung Bora?” Deokseon balik bertanya pada Sunwoo. Sunwoo mengangguk mantap. Dong Ryong tertawa kagum. Ia lalu bertanya bagaimana cara Sunwoo meminta restu ibunya? Selama ini Sunwoo tak pernah melawan ibunya. Deokseon mengiyakan—ia lebih mengkhawatirkan Sunwoo ketimbang kakaknya sendiri. Junghwan turut meningkahi, pasti banyak yang dikhawatirkan Sunwoo sekarang. 
Taek beda sendiri, ia tahu kakak satu bulan-nya itu akan baik-baik saja. Cieeeee yang ngebela kakaknya cieeeeee.
“Aku akan bertanggung jawab atas hidupku sendiri, kalian urusi saja hidup masing-masing,” sahut Sunwoo akhirnya.
Wooooo, Sung Sunwoo! Ia punya tingkat kepercayaan diri yang mengagumkan.
Sunwoo larut dalam pikirannya sendiri, malam itu.
Bora tak bisa menyembunyikan beban pikirannya. Deokseon menepuk bahu kakaknya pelan. “Himnae...” lirihnya. “Jangan membalikan tubuhnya, ini memalukan.” Deokseon menguatkan kakaknya dengan caranya sendiri. Bora tersenyum.  Kapan lagiiii bisa liat Sung Sister kayak gini? Gak ada itu aksi saling teriak apalagi jambak-jambakan rambut. 
Miran menanyakan keberadaan Jungbong pada Junghwan. Kata Junghwan Jungbong akan segera pulang. Miran menyinggung soal putera tertuanya yang menyerah pada ujian masuk Fakultas Hukum. Junghwan sudah tahu itu.
“Terimakasih sudah mengatakannya dengan jujur,” Miran menghembuskan napas berat. Junghwan memanggil ibunya sebelum perempuan parobaya itu masuk kembali kamarnya. “Apakah ibu baik-baik saja?”
Miran segera tertawa kecil menimpali pertanyaan puteranya. Ia baik-baik saja. Dan kita sudah pernah sama-sama menjadi saksi bahwasanya, kata baik-baik saja  yang keluar dari bibir Miran, adalah tanda ia tidak baik-baik saja. Operasi Jungbong, monopause-nya... Dan kali ini, gara-gara Jungbong lagi.
Jungbong dan Man Ok-ie menuju tempat mereka janjian makan di tengah malam itu. Jungbong sedikit merasa tidak enak pada Man Ok-ie, ia masih berpikir kalau pacarnya itu—yang terbiasa tinggal di rumah mewah tak begitu suka makan dan bepergian di tempat-tempat semacam itu. Man Ok-ie segera menampik—ia suka. Ia berjanji akan pelan-pelan memberitahu Jungbong—tentang jati dirinya.
Cieeee Jungbong ragu-ragu. Ia ingin memegang tangan Man Ok-ie. Setelah beberapa saat tangan mereka saling bersinggungan, pria itu pun dengan mantap menggenggam jemari kekasihnya. Man Ok juga menyambutnya. Namja!
Selagi jalan bersama itulah, Man Ok tersadar kalau jalan yang mereka lewati mengarah ke toko ayahnya. Dan memang benar, ayah Man Ok sedang melayani seorang pembeli. Ia hendak menyapa Man Ok ketika dilihatnya puterinya itu. Sedihnya, Man Ok berjalan cepat—Jungbong sama sekali tak menyadari situasi tersebut. Mereka sudah agak jauh meninggalkan toko ayah Man Ok, tiba-tiba gadis itu menghentikan laju kakinya, Jungbong tak bisa menyembunyikan keheranannya. Man Ok hendak melepaskan tangan Jungbong, tapi dengan sedikit tekanan halus Jungbong menahan agar tangan Man Ok tidak terkepas dari genggamannya. Diberikannya tatapan lembut pada Man Ok. Detik itu, Man Ok tahu apa yang harus dilakukannya. Jungbong, dalam ketidaktahuannya, ia tetap bisa memahami orang yang dicintainya. I LOVE YOU, JUNG BONG OPPAAAA!
Lagi-lagi Kim Sajang terbangun dan mendapati istrinya duduk bersandar di lemari. Temaram lampu yang sama, kesedihan yang serupa membayang di wajah Miran.
“Miran-ah...” panggilnya pelan. “haruskah kita jalan-jalan keliling kompleks?”
Miran mengangkat wajahnya.
“Ayo kita cari angin segar...” kata Kim Sajang lagi.
Jadilah malam itu, pasangan suami istri itu berjalan-jalan di sekitaran kompleks sambil berpegangan tangan.
Jungbong lah yang membuat Miran tak bisa tidur. Ia memberitahu suaminya kalau anak tertuanya itu menyerah pada ujian masuk fakultas hukum. Kim Sajang tertawa kecil—ia tak pernah menaruh harapan tinggi.
“Dia bisa kuliah, entah tes ketujuh atau bukan, aku tak punya ambisi lagi... sama sekali tak ada. Jungbong hanya agak lambat dibanding anak lainnya. Kurasa Jung Bong akan menemukan jalannya sendiri.”
Miran sebenarnya setuju, tapi.... “Dia hanya terlalu lambat!” serunya gusar.
Mereka lalu duduk di bale yang biasa dipake Taetiseo untuk ngegocip.
Dari Miran mengalir kisah di masa lalu, ketika itu Kim Sajang bekerja sebagai pengantar jajangmyeon. Ia melihat Jung Bong dan Junghwan bermain di jalan bersama teman-temannya. Kim Sajang berniat melarikan diri agar anak-anak tak malu gara-gara ayah mereka. Tetapi Jung Bong meraih tangan adiknya dan berteriak, ‘Appaaaa!’ dan memeluk ayahnya. Kim Sajang pulang ke rumah, sambil menangis dan tertawa. Ia menceritakan hal itu pada istrinya.
“Apakah kau sebahagia itu?” tanya Miran.
“Ya. Kerongkonganku kering, bahkan jika kuingat itu sekarang. Kupikir mereka akan malu melihat ayah mereka memegang jajangmyeon. Mereka bilang, ‘Appaa’ dan berlari memelukku. Mana mungkin aku tak bahagia? Itu adalah hari paling bahagia untukku....” ucap Kim Sajang haru.
“Anak mana yang merasa malu karena orangtuanya? Itu anak yang tak sopan!”
“Benar, kan? Tapi aku perhatikan, dalam hidup, itu tak selalu yang menjadi masalah. Kita sangat diberkahi.”
“Kita tinggal di satu ruangan di samping rumah Pak Guru Ryu. Jung Bong terbiasa menangis sepanjang malam, berteriak kesakitan. Pada hari selanjutnya kita kehabisan beras. Kadang, aku bertanya-tanya apa sebaiknya kita nyalakan kompor dan mati gara-gara gas (bunuh diri). Aku punya banyak pikiran negatif. Tapi aku bertahan hari demi hari dengan melihat wajah anak-anak kita yang hebat. Kurasa aku bisa bertahan karena mereka. Bukan aku yang membesarkan mereka, merekalah yang membesarkan aku.”
“Aku membesarkanmu...” ㅋㅋㅋㅋ Kim Sajang.
Miran pura-pura kesal, “aku yang membesarkanmu!”
“Ya sudah, kita saling membesarkan.”
“Itu sebabnya kau suamiku...” Miran menyanyikan sepotong lirik. –Lee Woo Jung dan Shin PD, terimakasih untuk scene mengharukan ini. Air mataku mengalir tanpa sadar. Kita tahu bersama betapa tingginya angka bunuh diri di Korea Selatan sana, banyak disebabkan karena depresi atau stres berat yang ditimbulkan oleh tekanan hidup—ekonomi dll. Melalui scene ini—dialog Kim Sajang dan Ra Miran, Lee Woo Jung ingin memberikan harapan pada mereka-mereka yang saat ini sedang mengalami getirnya hidup. Hope. Harapan. Tak ada sesiapun di sini yang ingin menghakimi apalagi sok tahu mengenai beban hidup yang kamu alami. Tapi, sesulit apa pun itu, cobalah untuk hidup dengan harapan bahwa esok, hari yang baik akan datang padamu, dan kamu tak perlu menangis lagi, kamu tak akan lagi tertatih menangkap asa dengan jaring-jaring kasatmata. Jika kamu merasa tak ada lagi jalan keluar, ketika kamu ingin mengakhiri hidupmu, paksa hatimu untuk percaya bahwa kamu hanya perlu hidup hari itu, kamu hanya perlu bertahan hari itu, simpan pesimismu atau keinginanmu bunuh diri esok hari. Dan jika esok datang kembali, lakukan hal itu terus-menerus. Karena Tuhan selalu tahu, kamu kuat. Kamu hanya perlu bersabar menjalani ujianmu. Iya bersabar. Sedikit lagi... sedikit lagi... Seperti Ra Mi Ran... Lalu pada suatu hari yang lapang, kamu bisa tersenyum sambil mengenang hari-hari sulitmu. Kau pun bisa berbisik haru pada hatimu, ‘terimkasih sudah bertahan lebih lama, terimakasih....”
Mengapa Ra Miran tak kehilangan jati diri meski kini keluarga sudah kaya raya? Tak lain karena ia menghargai masa lalunya, ia tahu bagaimana sulitnya hidup yang serba kekurangan itu. Begitulah cara Miran berterimakasih.
Jung Bong tetaplah Jung Bong yang sama, yang berlari menyongsong ayahnya sewaktu kecil dulu, ia yang tak sedikit pun tak merasa malu meski ayahnya hanya pengantar Jajangmyeon. Tatkala Man Ok berbalik dan menarik tangannya kembali ke toko ayahnya, ketika gadis itu mengenalkan ayahnya pada Jung Bong, Jung Bong tak kaget sama sekali. Ia memuji ayah Man Ok—yang memulai usahanya dari nol dan kini telah sukses di bidang tekstil. Jung Bong menyebut ayah Man Ok seperti Bill Gates—ayah Man Ok mengaku kalau dirinya sedikit lebih baik dari orang tersebut. Bill Gates dari sono-nya sudah pandai berbahasa Inggris. Beda halnya dia, yang hanya tahu berbahasa Korea tapi bisa menjual barang-barangnya hingga ke Amerika dan Jepang.
“—dan lagi, apakah Bill Gates cuma lulusan SD sepertiku?”
“Dia kuliah di Harvard,” sahut Jung Bong.
... mbek... ㅋㅋㅋㅋ
Jung Bong segera mengatasi kesalahan kecilnya dengan mengatakan kalau ayah Man Ok jauh lebih baik. Suasana pun segera cair. Ayah Man Ok mengajak mereka makan bersama. Hanya berselang sekian detik, ayah Man Ok mengerutkan kening.
“Tunggu sebentar. Kau terdengar tak asing. Pernahkah kita berbicara di telepon? Bukankah pria ini yang menjadi pacarmu saat di SMA?” tanyanya pada Man Ok.
“Aku sangat yakin ini suara di telepon itu,” lanjutnya.
Man Ok pura-pura tak tahu apa-apa. “Di luar dingin. Ayo masuk ke dalam!” Ia menarik lengan Jungbong.
Jung Bong akhirnya menentukan pilihan hidupnya. Ia melepaskan ujian masuk fakultas Hukum dan mulai bekerja paruh waktu. Ia sampaikan seluruh rencana pada kedua orangtuanya. Keputusan yang kita ambil, harus diikuti dengan tanggung jawab  seutuhnya.
Miran menceritakan hal itu pada Il Hwa. Il Hwa menyayangkan keputusan Jung bong, padahal ia cukup yakin Jung Bong bisa sukses suatu saat—dia konsisten dan gigih. Masalahnya Jung Bong mengambil kuliah hukum bukan atas dasar keinginannya, di situlah masalahnya ia tak pernah berhasil. Betul gak? Miran mengajak Il Hwa main Go-Stop, sekalian ajak Sunyoung. Tapi Il Hwa menolak. Ia belum bisa bertemu Sunyoung dalam situasi seperti ini. Miran mengomel. Kenapa harus memusingkan nama marga yang sama? Toh suatu saat hukum akan berubah. Jadi, pada saat itu kalau dua orang menikah dengan Marga yang sama, pernikahan tersebut tak bisa didaftarkan, begitu pun ketika anak mereka lahir. Il Hwa tak bisa membayangkan jika hal tersebut menimpa anaknya.  Ia bukannya tak menyukai Sunwoo. Di mana lagi bisa ditemukan anak sebaik dia?
Sunwoo dan Bora di saluran telepon. Bora akan makan malam bersama temannya yang waktu itu hendak menjodohkannya dengan Trash Oppa. Sunwoo berjani akan mentraktir temannya itu sebagai ungkapan terimkasih. Kembali ke topik orangtua. Sunwoo akan berbicara pada orangtuanya hari ini. Bora jangan melarikan diri lagi. Ia akan bertanggung jawab sepenuhnya bahkan bila perlu ia akan berbicara pada orangtua Bora. Bora melarangnya, ia akan mengurus urusannya sendiri.
Setelah memikir sejenak, Sunwoo memutuskan pulang ke rumah.
Sunyoung dan Moosung duduk sambil minum teh.
“Taeki, akan pulang terlambat hari ini kan?” tanya Sunyoung—yang jelas-jelas bukan itu yang sedang dipikirkannya. Ia hanya sedang mencoba mencari topik yang bisa mengalihkan kegusarannya.
Ya, kata Moosung. Taek harus menjalani pertandingan hari ini, esok dan lusa. Dan Sunwoo membuka pintu di waktu yang nyaris bersamaan. Kedua orangtuanya tentu saja kaget.
... Sunwoo meminta restu ibunya. Ia ingin menikahi Bora.
“Sunwoo-ya..” ibunya mulai bicara. “Jangan terlalu terburu-buru. Bukan maksud ibu tak setuju. Tapi kamu belum menyelesaikan kuliahmu. Kau harus lulus terlebih dulu. Masih banyak yang harus kau lakukan. Dan mengenai kau dan Bora saat ini... Perasaan kalian terlalu menggebu-gebu hingga tak bisa melihat jauh ke depan.  Kalian tak tahu apa yang akan terjadi kelak. Jadi, pelan-pelan saja. Ok? Perlahan... pikirkan dulu.”
Eomma... Aku pacaran dengan Bora selama 6 tahun. Ini bukan sejenis perasaan yang bisa lewat begitu saja. Dan aku datang berbicara pada ibu bukan karena aku ingin menikah sekarang juga. Aku ingin pacaran dengan Bora dengan memasukkan pernikahan ke dalam rencana masa depan kami. Pertama aku ingin meminta restu ibu dulu, agar kami bisa resmi pacaran.”
Sunyoung terlihat sedih...
“Ibu... hingga sekarang, aku tak pernah melakukan sesuatu yang ibu larang. Bahkan dengan teman kuliahku, jurusanku, kulakukan semua yang ibu inginkan. Aku tak menyesali apapun. Tapi pernikahanku, setidaknya aku ingin melakukannya dengan orang yang kucintai.”
Sunyoung menarik napas panjang dan menghembuskannya. Moosung tak mengeluarkan komentar apapun. Ia diam menyimak.
“Ibu.. tidak bisakah ibu melepaskan apa yang ibu rasakan sekarang? Sekali ini saja...”
Sunyoung membisu. Ia menundukkan wajahnya. Sunwoo sedih melihat respon ibunya. Ia ganti menatap Moosung. Pria yang kini telah menjadi ayahnya itu, memberikan isyarat berupa anggukan kecil—ia akan mengurus sisanya. Mungkin itu yang ingin dikatakan pada puteranya. Choi Appa, saranghae~yo....
Sunwoo beranjak—ia akan kembali ke rumah sakit.
Moosung berusaha menengkan istrinya.
Sudah saatnya Junghwan kembali ke Sacheon. Miran tergesa menghampiri anaknya.
“Kunci mobilmu? Hati-hati menyetir.”
Ayahnya juga ikut mengingatkan. “Jika kau mengantuk, istirahatlah di rest area. Ok?”
“Kalian selalu begini setiap kali aku di sini. Aku di sini setiap waktu. Apakah aku tamu atau semacamnya?” sela Junghwan.
Anak-anak menjadi tamu ketika mereka beranjak dewasa...” kata Miran.
Begitu Junghwan menghilang di balik pintu, Miran tak kuasa menahan air matanya. Kim Sajang merangkulnya. .
Dalam perjalanannya Junghwan melihat Sunwoo minum sendirian di warung tenda. Ia sejenak ragu, menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya. Junghwan menengok jam tangannya, menggenggam kunci mobilnya.
Junghwan mengambil keputusan tepat—sesuatu yang tidak biasa ia lakukan. Ikut campur urusan orang lain. Malam itu Junghwan menemani Sunwoo—sahabat karibnya, minum-minum. Tak ada kata-kata. Begitulah adanya pria, jauh berbeda dari perempuan hehe. Junghwan bahkan berbohong kalau mobilnya rusak. Ia akan naik bus ke Sacheon. Saranghaeyo, Junghwan oppa.
Moosung dan Sunyoung terlibat percakapan panjang sebelum tertidur.
“Sunyoung-ah... aku mengatakan ini dengan mudah bukan karena dia bukan anak kandungku. Jangan salah paham dan dengarkan aku dulu...” kata Moosung memulai.
“Taek, saat Taek pertama kali bilang ingin bermain baduk, kau ingat betapa aku sangat menentangnya?”
“Ya, aku mengingatnya. Bora Appa ke klub Baduk dan dia ingin mendaftarkan Deokseon. Tapi Deokseon, gadis itu terus mengejar truk sterilisasi setiap waktu. Makanya Taek-lah yang akhirnya ikut bersamanya. Kalau dipikirkan, hidup memang aneh. Pasti.”
“Bora Appa mencoba meyakinkanku agar Taek menjadi Cho Hoon Hyun kedua. Jadi kubiarkan dia melakukannya, hanya sebulan. Tapi, Ya Tuhan... aku merasa dia telah menyerahkan hidupnya pada papan baduk. Itulah sebabnya hari itu, aku membuang papan baduk dan semua batunya. Lalu, mungkin sehari setelahnya, kukira dia tidur jadi kubuka pintu. Taek di kamarnya, diam-diam memandang papan baduknya. Aku sudah membuangnya, dia mengambilnya kembali. Dia ketakutan, dia pikir akan mendapat masalah. Matanya sangat kaget.  Bahkan saat itu, dia berusaha keras agar tak kehilangan papan baduknya. Bagaimana bisa aku menang melawan anak seperti itu? Hari itu, aku memaksa menutup mataku. Kubiarkan dia main baduk. Aku tak punya cukup keyakinan untuk mendukungnya dalam baduk. Aku ingin anakku hidup normal. Tapi aku sadar itu semua adalah keserakahanku semata. Anak-anak tak akan melakukan apa yang kita—orangtua inginkan mereka lakukan....
Apakah kau pikir kau bisa mengalahkan Sunwoo?”
Sunyoung tertawa pahit. Tak menjawab apa-apa.
“... Bahkan jika kau menang, apakah itu kemenangan yang sesungguhnya? Orangtua tak bisa mengalahkan anak-anaknya. Dia—Sunwoo tak mengatakan hal yang salah. Tak sepatah kata pun.”
Aku tahu Sunyoung, jauh di dalam hatinya ingin meluluskan keinginan puteranya. Seorang ibu, di mana pun dia, selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Sunyoung hanya mengkhawatirkan bila nanti Bora dan Sunwoo menikah—dan hukum tak berubah sama sekali, ia tak kuasa membayangkan anak, menantunya dan cucu-cucunya dianggap tak sah di lingkungan karena pernikahan mereka tak terdaftar.
Pada waktu yang hampir sama, Sung Dong Il dan Lee Il Hwa bersiap-siap untuk tidur ketika terdengar suara Bora. Kepulangannya yang tak biasa—malam mulai larut saat itu, tak ayal membuat ibu dan ayahnya bertanya-tanya.

Suasana yang sama juga terjadi di rumah Bora seperti yang baru saja dilewati Sunwoo. Bora, tanpa basa-basi langsung mengutarakan keinginannya menikah dengan Sunwoo dan ia meminta restu kedua orangtuanya.
Il Hwa menghela napas, “kau tak bisa melakukannya. Kalian berdua memiliki nama depan yang sama. Jika kalian bersikeras menikah, pernikahan kalian tidak bisa didaftarkan. Kalian akan dianggap kumpul kebo! Andai nenekmu masih hidup, dia akan pingsan mendengarnya! Itu benat-benar tidak boleh terjadi!”
Bora menoleh pada ayahnya. “Ayah? Bagaimana dengan ayah? Apakah ayah juga berpikir begitu?”
Dong Il hanya membuang napas tanpa berkata sepatah kata pun.
“Ini bukan karena kalian tak menyukai Sunwoo, kan?”
“Masalahnya bukan Sunwoo, siapa yang bilang dia masalahnya?” sela ibunya.
“Lalu, apakah karena dia lebih muda dariku?” ucap Bora lagi.
“Aigo, ibu dan ayahmu tak sekolot itu.”
“Lalu, hanya karena hukum? Kalau tak ada masalah hukum, apakah kalian akan memberikan restu pada kami?”
Dong Il dan Il Hwa menatap Bora.
“Tahun depan, mereka akan mengijinkan pernikahan dengan nama depan yang sama. Kongres sedang menyiapka rancangannya,” kata Bora melanjutkan.
“Lalu, apakah kau akan hidup bersama dengannya satu tahun? Bagaimana kalau kalian memiliki anak? Kau bahkan tak bisa mendaftarkan kelahirannya! Apa yang akan kau lakukan nantinya?” suara Il Hwa meninggi.
“Tahun depan, mereka akan sementara mengijinkan pernikahan ini. Dan ada diskuis untuk mengijinkan menjadi permanen. Itu sudah pasti. Aturan yang melarang pernikahan dengan nama depan yang sama takkan berlaku lagi.”
Bora tersenyum sambil mengatakan ini, “ aku dan Sunwoo tak bisa segera menikah. Tahun depan, saat pelatihanku selesai, dan Sunwoo menyelesaikan tahun keempatnya... kami akan menikah setelah itu. Takkan ada lagi masalah hukum. Apakah aku pernah mengecewakan kalian? Aku bisa hidup bahagia bersama Sunwoo...”
Raut muka Bora perlahan menjadi sedih, “Ibu... Ayah... percayalah padaku, kali ini juga.”
Baik Il Hwa dan Dong Il tak ada satu pun dari keduanya yang menyela ucapan Bora. Mereka hanya menarik napas panjang.
Sepeninggal Bora, hanya ada Dong Il dan Il Hwa di tempat yang sama. Duduk diam dalam hening.
“Aigooo...” Il Hwa yang pertama bersuara. “Aku penasaran putera siapa dia... dia benar-benar cerdas.”
Dong Il, entah jenis ekspresi macam apa yang diberikannya.
Ssangmundong siang hari. Lorong terlihat sepi .
Sunyoung memasuki rumah Kim Sajang dengan langkah-langkah cepatnya sembari merapatkan sweater-nya. Di luar dingin—pertengahan musim dingin, ia heran kenapa pintu dibiarkan terbuka. Miran sedang menyiapkan makanan.
Santai saja Sunyoung mencomot makanan di atas meja dan memakannya.
“Di mana suamimu?” tanya Miran.
“Dia akan segera ke sini,” sahut Sunyoung. Ia mencari-cari kimchi. Miran bilang mereka bisa menggunakan bumbu. Tapi bagaimana pun mie butuh irisan kimchi biar terasa lebih enak! Begitu bantahan Sunyoung.
Di pintu terdengar suara yang tak asing lagi; Il Hwa. Ia datang bersama kimchi. Terlihat nyata betapa Sunyoung dan Il Hwa merasa kikuk satu sama lain. Miran juga melihat itu. Dia lah yang mencairkan suasana dengan menyuruh Sunyoung mengambil mie-nya. Sambil menyiapkan makanan dan sup, Miran menyinggung soal Cha In Pyo dan Shin Ae Ra yang akan segera menikah—dua artis yang sedang naik daun saat itu. Bukankah In Pyo akan segera wamil?
“Mereka akan menikah setelah In Pyo Oppa keluar wamil. Aku tahu ada sesuatu di antara mereka sejak Star in My Heart. Tatapan matanya bukan akting semata.” ㅋㅋㅋ Sunyoung Eomma mulai lagi deh.... Mungkin kita bisa minta beliau menilai akting Bogum dan Hyeri, apakah mereka sekadar akting atau.... ㅋㅋㅋ I’ll stop here. Oya kalo ga salah film Star in My Heart pernah nongol di Reply 1997.
“Kenapa dia Oppa-mu?” cetus Il Hwa tersenyum.
“Karena dia tampan.” Sunyoung menertawakan jawabannya sendiri. Lia mana Liiiaaaa! Liaaaa eodini? Menurut Sunyoung eomma kita bisa manggil Oppa ke Bogum. Kenapa? Karena dia tampan. PWAHAHAHA.
“Haruskah aku meletakkan banyak kimchi di mie-mu?” tanya Sunyoung pada Il Hwa. Tak ada lagi sisa awkward di antara keduanya. Miran tersenyum.
“Aigooo, kenapa anak laki-laki tak datang ke sini?” desah Il Hwa.
“Anak laki-laki?” Miran heran.
“Kau tahu... laki-laki penjaga toko jam, The hanil bank boy...”
Seketika Miran terbahak mendengar kata-kata Il Hwa.
“... Kim Sajang,” Il Hwa menutup candaannya. Sunyoung juga tak bisa menahan tawanya.
... Dan Taetiseo-nya Ssangmundong pun kembali akrab seperti biasa. .
Para ayah ngumpul di kamar Kim Sajang. Kim Sajang mengeluhkan betapa sepinya kompleks mereka. Anak-anak sudah dewasa dan mereka semua pergi.
“Di mana Jin Joo?” tanya Kim Appa.
“Dia di sekolah,” sahut Choi Appa.
“Kalau tak ada Jin Joo, tempat ini bakal jadi panti jompo,” sambung Sung Appa. Ia lalu menanyakan ke mana Taek, ia tak melihatnya sejak kemarin hingga hari ini. Apakah ada pertandingan besar?
“Dia akan memulai kompetisi baru,” Choi Appa menjawab.
“Ini?” Kim Appa menunjuk mie bertabur kimchinya ㅋㅋㅋ
“Benar. Kau harus makan yang banyak, tumbuh besar dan menangkan sesuatu.” Sung Appa pura-pura kesal. Ia kembali ke topik soal Taek. “Saat aku melihat Taek, wajahnya terlihat sangat lelah.”
Choi Appa mendesah, “lalu mengapa kau harus membuatnya setertarik ini—pada baduk.
Sung Appa membelalakkan matanya. “Apa yang sedang kau bicarakan?”
“Bora aboeji, apakah kau sedang mengalami monopause juga? Kau kehilangan memorimu,” pungkas Kim Appa
Sung Appa ngedumel. HAHAHAHA Sung Appa gak inget kalo beliau-lah yang pertama kali mengenalkan baduk pada Taek.
Sung Noeul berteriak memanggil ayah dan ibunya dari luar.
Eomma! Appa! Taek terkena skandal pacaran!” begitu bunyi teriakannya.
Seluruh ayah dan ibu berkumpul dengan Noeul bertindak sebagai narasumber LOL. Ia mengangkat sebuah surat kabar yang sepotongnya menampilkan Taek yang sedang tersenyum—maniiiiiiis *gue emang ngebiiiaasss abiiiissssss mau apa loo? ㅋㅋㅋㅋmianhae.
“Ini salah satu sisi fotonya.”
Para Appa dan Eomma mendekatkan wajah pada surat kabar yang disodorkan Noeul.
“Dengan siapa?”
“Apakah dia seorang aktris?”
“Jangan kaget,” Noeul sok tegang.
TADAAAA! Noeul membentangkan surat kabar dan terlihat siapa gerangan gadis yang menjadi pasangan kencan Taek. Deokseoniiiiiiiiii! ㅋㅋㅋㅋㅋ

“Keren, bukan? Bukankah ini mengejutkan?”
Sepersekian detik kemudian serempak para Appa dan Eomma menggeleng tak percaya.
“Ayolah, itu pasti kesalahan.”
“Kau berlebihan.”
“Mereka sering berpegangan tangan,” tepis Il Hwa.
“Ya, tapi Deokseon terlihat cantik di foto,” Sunyoung memuji Deokseon.
“Mereka sering menonton film bareng juga, “ kali ini Choi Appa yang berkomentar.
“Puteriku terlihat manis. Cantik,” ucap Sung Appa bangga.
“Mereka biasa mandi bareng saat kecil dulu... itu bukan sesuatu yang baru. Apa yang inging dilakukan penulisnya?”
BHAHAHAHAHA jadi Deokseon dan Taek.... HAHAHAHA
Noeul gregetan dan stres sendiri. Dia yang tadinya pengen bikin surprise malah dibikin kehilangan kata-kata melihat reaksi biasa-biasa para orangtua. Mbeeeeek. Punteeeen, embek mau lewaaaattt
Okeh, Azz mau ngomenin ucapan Choi Appa mengenai Taek yang akan memulai kompetisi baru. Seraaah ya mau bilang saya lagi bikin teori baru apa gak, aku melihat kaitan kompetisi baru yang dibilang Choi Appa dengan hubungan Taek-Deokseon yang telah memasuki fase baru. Aku jadi benar-benar ingin mempelajari baduk karenanya. Menurutku, bukan sebuah kebetulan yang biasa Lee Woo Jung memasukan baduk sebagai central utama cerita. Step by step-nya. Mungkin dengan mengerti dan memahami pola permainan baduk kita bisa semakin mendalami perjalanan hubungan Taek dan Deokseon—dan Reply 1988 secara umum. Di antara para orangtua, aku yakin Choi Appa sudah tahu hubungan puteranya dan Deokseon—beliau sudah tahu bahkan jauh sebelum tahun 1988 kalau Taek menyukai Deokseon bukan semata karena mereka berteman. Dan Kompetisi Baru, gak lantas menjadikan Taek dan cintanya sebagai ajang kompetisi. Ini hanya metafora ya jangan diambil hati apalagi diambi pusing ntar kamu gak enak makan. Kan kaasiiiaaaan kamu-nyaaaa gitu.
Taek dan Deokseon terbiasa mandi bersama saat kecil—bisa kalian bayangkan betapa dekatnya mereka... sampe terbiasa mandi bareng—WAKTU KECIL YAAA BUKAN PAS GEDE! PIKIRANNYA JANGAN KE MANA-MANA TEMAN-TEMAN.... HALOOO ㅋㅋㅋㅋ
Baduk centre. Dan ada Deokseon di parkiran lengkap dengan seragam pramugarinya sedang menunggu Taek. Ada surat kabar yang sama seperti milik Noeul, terselip di tangannya. Deokseon terlihat resah.
Direktur datang dan senang melihat Deokseon di sana. Begitu pula halnya Deokseon. Ia memberitahu kalau Taek sudah selesai dengan pertandingannya. Ia akan segera keluar. Pertandingan hari itu berjalan 13 jam. 13 jam=13 episode. Hitung mulai episode 6 hingga episode 19. Meskipun Taek terlihat lelah, ia bisa menang dan mengalahkan lawannya.
“Dia menderita, ia pantas mendapatkannya.
Deokseon tak paham apa maksud Direktur.
“Kekasihnya datang dan menunggunya.”
Jadi Taek sudah memberitahu dua orang penting di Pusat Pelatihan Baduk soal hubungannya dengan Deokseon. Namja!
“Terimakasih,” ucap Direktur tulus dan lega.
“Untuk apa?” tanya Deokseon.
“Hanya... terimakasih,” dari ucapan Diretktur, aku curiga beliau tahu lebih banyak apa yang terjadi pada Taek dalam rentang waktu setelah pembatalan nonton bareng di episode 16 oleh Taek hingga di tahun 1994. Taek pasti sangat menderita. Lebih dari yang kita bayangkan. Direktur mengingatkan agar Deokseon dan Taek lebih berhati-hati terkait dengan skandal yang muncul hari ini. Taek tahu dari wartawan setelah pertandingan. Lebih baik mereka mengakuinya ke semua orang. Toh semuanya benar. Direktur menyerahkan kunci mobil pada Deokseon.
Tak lama berselang, Taek muncul dari belakang. Dipeluknya pinggang Deokseon sambil menjatuhkan wajahnya di bahu gadis itu.
“Ini bukan mimpi, kan?” tanyanya pelan.
Deokseon memutar wajahnya hingga menghadap Taek sepenuhnya.
“Pertandingan baduk macam apa sampai 13 jam?” cetusnya.  
“Aku tahu...” sahut Taek. Duh.... Bang jangan bikin Hayati pengen meluk guling lagi deh.
“Kau sudah bekerja keras,” kata Deokseon.
Taek mengangguk. “Ya. Kau juga.”
Kita—Suntaek Shipper juga.
Taek merentangkan tangannya dan segera disambut Deokseon. Mereka berpelukan... di parkiran. *sepak guling*
Duh udah masuk scene di mobil. Aku rada-rada mengalami yang namanya tekanan batin. Keinget rikues di grup LINE ㅋㅋㅋㅋ.... Aku orangnya konservatif. Maaf jika detail-nya tidak sesuai harapan .
Taek dan Deokseon masih di dalam mobil. Deokseon duduk di kursi sopir. Itu, Taek-nya kenapa manyun gitu?
“Lakukan seperti yang aku katakan, ok?” pinta Deokseon. “Dua keluarga sedang kesulitan dengan Sunwoo dan Bora. Kalau mereka tahu hubungan kita, mereka bisa trauma.”
Taek diam saja. Tapi jelas sekali ia tak setuju.
“Jadi, bilang pada mereka kalau skandal di surat kabar hari in tidak benar. Ok?”
“Tidak mau. Aku tak mau berbohong.” Taek memalingkan wajahnya pada Deokseon. “Aku sudah menyimpannya selama 6 tahun—kebohongan. Aku tak mau melakukannya lagi.
Deokseon memajukkan sedikit badannya. Ia memelankan suaranya. “Begitu waktu berlalu, kita bisa melihat situasi dan memberitahu mereka—orangtuamu dan orangtuaku. Mereka yang akan lebih mendengarkan kita. Tapi sekarang... sekarang bukan waktunya.”
Melihat Taek yang tak tergugah sama sekali, Deokseon kembali menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil. “Aku yakin perasaanku takkan berubah. Bagaimana denganmu?”
Taek menatap Deokseon. Suer tatapannya serem kayak orang lagi marah besar .
ㅋㅋㅋㅋ Noeul sebagai narasumber duduk di tengah-tengah. Para orangtua masih berkumpul di rumah Kim Sajang.
“Kau setidaknya bertanya padanya,” usul Miran.
Sunyoung menampik sambil tertawa, “ tak bisa, itu tak boleh terjadi—hubungan Taek dan Deokseon.”
Noeul masih ngotot juga kalau itu benar. Ada yang sesuatu di antara mereka berdua. Sung App sampai berteriak saking kesalnya dengan kengototan putera bungsunya.
“Berhenti bicara aneh!”
“Apakah kau ingin melihat ibumu pingsan? Tutup mulutmu.” Il Hwa kesal. “Sudah cukup berurusan dengan nama depan. Aku tak mau ada masalah dengan dua menantu dari satu keluarga. Kalau pemakaman ibumu sudah siap, teruslaj menyalak.” Il Hwa pun segera bangkit.
Noeul dalam bisiknya masih keuhkeuh. Mungkin Nisa perlu ngasih pukpuk ke Noeul. Nisa yang mana aja ㅋㅋㅋㅋ
Saatnya pulang ke rumah masing-masing. Saat Keluarga Choi dan Keluarga Sung keluar dari rumah Kim Sajang, pintu gerbang dibuka dari luar. Deokseon muncul disusul Taek. Makin semangatlah Noeul karenanya.
“Lihat! Lihat! Ada yang berbeda di antara mereka!”
“Kenapa kalian bisa pulang bersama?” tanya Sung Appa.
Deokseon terlihat gugup, sebaliknya Taek tampak tenang.
Il Hwa menanyakan perihal artikel di surat kabar hari ini. Itu tidak benar kan? Choi Appa juga bertanya hal yang serupa pada anaknya. Artikelnya salah, kan? Kalian tak pacaran kan? Sunyoung menambahkan pertanyaan.
Taek masih belum menjawab. Deokseon menatapnya dengan sorot mata yang bisa dibilang sedih juga khawatir. Insecure. Dan Taek jelas-jelas bisa membaca itu.
“Itu tidak benar. Kalian tahu bagaimana hubungan kami.”
Mendengar penjelasan singkat Taek, seluruh orang melempar desah kelegaan dengan kompak—kecuali Noeul. Mari kita pukpuk masal dia!
“Apakah hubungan kami seperti akan berubah?” Taek bertanya.
“Benar. Benar. Kalian berdia sudah lama saling mengenal....” sela Kim Appa.
.... Aku sukaaaaaaa sekali gestur yang samar diberikan Deokseon pada Taek—senyum kecil di bibirnya. Dan Taek yang seolah bilang, ‘kau bisa memercayakannya padaku....’ . *Hayati cemburu....*
Flashback di mobil
“Aku percaya padamu. Apakah hubungan kita akan berubah dengan mudah? Aku takkan berubah.”
Wajah Taek yang tadinya super duper serius, berubah rileks. Ia tersenyum.
“Jadi mari kita cari waktu yang tepat untuk memberitahu mereka. Ok?”
Taek masih berat hati. Dihelanya napas panjang seraya melungsurkan tubuhnya. Bibirnya manyun. Taeki manyun itu, gemesnya berkali-kali lipat. Jadi pengen nyulik trus dibawa ke KUA. .
“Aku akan memberikan hadiah untukmu...”
Taek menoleh. Deokseon memajukkan badannya.
Saranghae....” suaranya lembut, tulus, dan jujur.
TAEK! TAEK-NYA MELELEH DENGER DEOKSEON BILANG SARANGHAE! Marahnya hilang, diganti senyum. Jadi kalo Taek lagi ngambek, Deokseon Cuma perlu bilang saranghae ke dia. Gampaaaang.
Dan.... dan setelah ucapan saranghae keluar dari bibir Deokseon, Taek menatap Deokseon dengan tatapan yang hm... sedikit liar, naughty dan mupeeeng *dihajar fans Taek* tatapannya bikin matik. *telepon 112*
Tuh kaan tuh kaaaaaaaaaaaan gue bilang apaaaaah! Taek memajukkan wajahnya, mendekat pada Deokseon. Mau ngapain lagi kalo bukan nge-kiss! Ih Taeki nakaaal! Maen nyosor.
Deokseon menarik sedikit wajahnya. Tersenyum manis. Setelah jeda pendek Taek lanjut mencium Deokseon. Aku mau jujur di sini, aku bukan penonton drama yang menonton semua kiss scene di drama yang kuikuti. Banyak sekali di antaranya yang  aku skip karena aku gak berani liat atau ga nyaman nontonnya TAPIIIIIIII, kiss scene antara Taek dan Deokseon masuk pengecualian bagiku. Entah karena sinematografi dan background music-nya yang padu padan dan cara kedua aktor mengeksekusi scene ini yang bikin aku menyukainya. Fakta kalau Bogum-HyeriTaek dan Deokseon menikmati kiss scene tidak bisa dipungkiri. Aku tidak tahu apakah di skrip tertulis Taek harus memegang wajah Deokseon saat menciumnya ataukah itu atas inisiatif Shin PD ataaaauuuu gerakan refleks dari Taek sendiri karena di kiss scene di hotel, Taek juga memegang wajah Deokseon. Soal bunyi yang keluar pas adegan ini, aku 100% yakin itu asli. Saking menghayatinya kaleeeeee PWAHAHAHAHA.
.......
2016, Deokseon sedang melakukan wawancara. Ia menceritakan bahwa pada masa itu, dua menantu dengan satu keluarga lebih buruk dari nama depan yang sama. Ia dewasa dengan cepat dan Taek hanya bermain baduk ㅋㅋㅋ
Ia harus berbicara padanya, meyakinkan dia untuk tak mengumumkan hubungan mereka. Ia dan Taek pacaran sekira dua tahun lalu menikah (berarti mereka menikah di tahun 1996, setahun setelah Sunwoo dan Bora).
“Aku sibuk, dia juga. Kurasa, sekira dua bulan, pertemuan kami sangat singkat. Dan untuk pacaran... kami melakukannya di jalanan kompleks.”
Deokseon mau berangkat kerja, Taek-nya baru bangun tidur....
Deokseonnya udah mau bobo, Taeknya baru pulang. Jadilah mereka hanya bisa keliling kompleks malam hari.
“Kami tak melakukan sesuatu yang spesial ketika pacaran. Kami seperti pasangan lainnya. Bisa dibilang kami mengikuti adegan di film dan acara TV....”
Deokseon yang lagi asik karaokean harus berhenti gara-gara Taek nongol. HAHAHA. Deokseon segera mengejar Taek.
“Hey, heiii heiiiiiiiiiiii, Taek-ah! Kalau aku minum dan pesta lagi, aku bukan Sung Deokseon. Aku akan jadi puterimu!” LOL ucapan Deokseon mirip ucapan ayahnya saat sekeluarga nonton acara tv—yang Sung App gagal mulu tebakannya.
“Kau sengaja begini untuk membuatku marah? Sudah kubilang aku tak suka!” Taek benar-benar kesal....
Deokseon mengejar Taek, sampe keseret gitu karena berusaha merayu Taek.
Pada hari yang lain, giliran Taek yang kena omel Deokseon. Pasalnya, Taek dengan mudahnya meminjamkan uangnya pada rekannya. Sorry, tapi aku bukannya kasian liat Taek tapi malah ngakak. Lucu bangeeeeet.
“Berapa banyak?”
Taek mengangkat tiga jarinya.
“Kau ingin mati?” bentak Deokseon. “kau pikir 30 juta Won itu main-main? Kau biarkan orang pinjam 30 juta Won?”
“Sudah cukup...” Taek ingin mengelak. Ia bangkit namun segera ditahan Deokseon. Ia pun duduk kembali. Pukpuk...
Siapa dia? Sebutkan namanya.”
“Cuma seseorang. Rekan yang latihan denganku...Kau tak mengenalnya.”
“Berikan aku nama! Siapa namanya?!”
“Dia akan membayarnya, segera...”
“Sebutkan mananya!!” suara Deokseon makin meninggi.
Taek memegang dadanya. Kaget. Mirip Jungbong jadinya HAHAHAHA
Nah. Asal muasal kenapa Taek bisa tahu soal Deokseon yang ditolak Sunwoo saat salju pertama turun.
Deokseon membuka-buka buku diari lamanya. Tangannya terhenti di tulisan tentang kartu post untuk Sunwoo yang dikirimkan ke radio. Deokseon menyobeknya. Setelah kebingungan beberapa saat, ia memutuskan membuangnya ke tenpat sampah. Ia bergidik ngeri sendiri, tak percaya ia pernah se-alay itu. Tahu-tahu Taek muncul dari belakang dan merebut potongan kertas tersebut dari tangan Deokseon.
“Kau membacanya?”
“Tidak. Aku tidak bisa membacanya.”
Deokseon menyuruh Taek segera masuk. Ia pun lantas berlari pulang ke rumahnya. Pandangan Taek tak tertebak.
Apakah Taek membacanya? Dia membacanya. Karena beberapa saat kemudian, Sunwoo baru kembali dari rumah sakit. Taek menyambutnya dengan tepukan keras di punggungnya. Sunwoo yang kelihatan separuh sadar separuhnya mengantuk meringis kesakitan.
“Lama tak keliatan...” kata Taek dengan poker face-nya.
“Sakit! Mengapa kau lakukan itu?”
“Karena aku terlalu bahagia melihatmu...” Taek berlalu sambil tertawa BAHAGIA. IYA. BAHAGIA.
2016, giliran Taek yang diwawancara. 
Ia ditanya apa bagian terbaik dari hubungannya dengan Deokseon—efek baiknya.
“Aku berhenti minum obat tidur sejak aku pacaran dengannya.” Taek meneguk minumannya dan tak sengaja mencipratkan ke bajunya. Inget gak scene di pantai? Taek melakukan hal yang sama. Kayaknya ini jadi bagian kebiasannya deh.
Ia lalu ditanya kapan dia mulai menyukai Deokseon. Ia tidak mengingatnya. Taek tertawa karena Deokseon bilang di tahun 1989.
Musim gugur 1978...
Musim gugur 1979....
Luka di kening Taek, itu gara-gara Deokseon yang mengajaknya main gulat HAHAHA.
Scene di pantai, Deokseon menunjukkan reaksinya saat Taek melindunginya dari bola.
“Aku menyukai Deokseon, bukan sebagai teman, tapi sebagai wanita...”
Dan tibalah hari paling bersejarah itu...
Deokseon menatap sesuatu di tangannya.
“Ini apa?”
“Kura-kura,” sahut Taek.
“Apa artinya?”
“Cinta abadi...”
“Kau bilang kau mau melamar... apakah ini akhirnya?”
“Bukan...” Taek seperti kebingungan sendiri. Ia lalu menatap Deokseon, senyum kecilnya terbit. “Deokseon-ah...” panggilnya.
Deokseon menoleh.
“Saranghae....” Taek. Ngomong. Saranghae. Dan. Tawa kecil. Yang. Muncul. Setelahnya. Sooooooooooo romantiiiiiiiiiiiiiic. Simple, tapi tulus. Itu yang penting. Deokseon ikut tertawa jadinya—yang nonton juga, tertawa sambil menyepak guling.

=Bersambung ke part 2
***
Pelajaran moral yang bisa diambil dari Sunwoo dan Bora, bagiamana mereka menghadapi dan memenangkan hati kedua orangtua masing-masing. Benar, mereka merasa yakin dengan pilihan hidup yang akan mereka tempuh, tapi tidak lantas itu membuat mereka jumawa dan egois menghadapi orangtua mereka. Siapa yang tidak Sung Bora di Ssangmundong? Si keras kepala yang teguh pada pendiriannya. Tapi, begitu menemui ayah dan ibunya, Bora melakukannya penuh kehati-hatian dan penuh penghargaan. Ia utarakan maksudnya, ia dengarkan dari sisi ayah dan ibunya. Bora sudah tahu apa yang akan dilakukannya, tapi untuk bisa melakukannya terlebih dahulu ia harus tahu apa yang membuat kedua orangtuanya tak sependapat dengan keinginannya. Tak selamanya, semua harus diraih dengan kengototan. Mendengar pendapat pihak lain juga perlu. Tanggung jawab, setelah keputusan diambil, bertanggung jawablah atas itu. Kau sudah tak punya hak menyalahkan sesiapa jika pada akhirnya keputusan yang kau pilih—misalnya keliru.
Pun jika kedua orangtua kita keliru menilai sesuatu, kita tak punya hak menghakimi mereka karena itu. Percayalah, selalu ada jalan untuk menyampaikan pendapat atau kebaikan pada orangtua kita—bukan karena kita yang lebih tahu. Jangan pernah sekali-kali bersikap sok tahu di hadapan mereka, itu pasti akan sangat melukai. Cara terbaik untuk bisa nyambung dengan ibu-bapak—dan orang lain pada umumnya. Perbanyak diskusi, sharing, sesering yang kita bisa. Pelan-pelan bangun pondasi. Kelak, tembok yang menghalangi kita akan runtuh tanpa kita sadari. Kedekatan tidak dibangun dengan instan tapi dengan komunikasi yang intens.
Salah satu yang paling mengharukan dari Reply 1988 adalah kumpul bersama dan tukar-cerita yang mengikutinya. Sebab itulah tak ada yang namanya rahasia pribadi di sana—kecuali kamu menyimpannya rapat untuk dirimu sendiri ㅋㅋㅋㅋ
Saya di usia 18 adalah pemberontak paling keras kepala, di keluarga saya. Tapi beberapa tahun setelahnya, ketika saya sudah hampir selesai dengan proses healing, saya akhirnya paham bahwa jejak-jejak saya di belakang—terhadap orangtua saya, sepenuhnya keliru. Dan tak perlu ada penyesalan, karena Tuhan selalu menyelipkan hikmah untuk kita pelajari pada setiap perjalanan hidup. Untuk kita agar tidak lagi mengulangi kesalahan atau kekeliruan yang sama. Karena hanya orang bodoh—yang tak mau belajar—yang jatuh di lobang yang sama, bukan? ^^
Pelajaran moral untuk Deokseon, jangan keseringan merayu Taek dengan bilang saranghae—saya yakin kalian tahu apa alasannya ㅋㅋㅋ
... 30+ halaman dan 100+ pics. Rekor baru HAHAHAHAHA.

Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan, atau detail scene yang luput saya masukan.

P.s : Saya tidak janji bisa memposting part 2 secepatnya. Maaf—untuk semuanya. Dan terimakasih sudah menunggu.

22 comments:

  1. Ngakak bacanya, sampai bingung mau komen apa
    Kuatkan hatimu hayatii...jangan biarkan senyum taek mnggodamu haa #plak
    Makasih mba azz
    #TeamTaek #suntaek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Sri ^^

      Kasian Hayati. Doakan dia kuat menghadapi cobaan ini! ㅋㅋㅋㅋ

      Delete
  2. Pelajaran moral:Gue hrs pake baju pramugari,poni dijepit ampe jidat keliatan,blg saranghae kl mau dikissu hot co macem Taek.Oke sip!!!
    Azzzzzzzz knp itu kiss disensor lg yak?
    Eyke malu nama eyke terpampang nyata di situ.Hayati msh hidup kan ya.Kasian dia azz.
    Aku ketawa ketiwi sendiri baca ini.Makasih ya azz udah bikinin sinopsis ini.Jgn bosen2 bikin postingan soal bogum atau reply lagi.Eyke msh blm bisa mupon. T_T

    ReplyDelete
  3. Aku penganut konservatif yang taat, Liaaa. Nulis recaps kiss scene aja mpe gemeteran lol.

    Li, catet ya Bogum itu oppa kita dan kita masih 17 tahun titik. Kalo Nisa punya Abby sebagai partner, aku mau dong jadi partnermu.....ㅋㅋㅋ

    pelajaran moral nomor kesekian; Nama Lia harus dimensyen biar doi mau nongol dan komen!

    Aku pun juga belum bisa mupon ������

    ReplyDelete
  4. Semacem bertolak belakang yak.Eyke pecinta kissu terutama kissunya suntaek, eh salah Bogum Hyeri.Azz konservatif.Jadi malu ketauan otak eyke gesrek begini.
    Iyaaaaaaaaaaaa.Kita mah masih muda begindang.Bogummy oppa neomu neomu saranghaeeeeeeeeeeee.
    Kepriben iki susah mupon.Blm minat nonton drama yg lain.Trs aku kudu pie Bogummy Oppa??? T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo mau ngajak gesrek-gesrekan mending kaka ngajakin aku aja deh ka soalnya akunya udah gesrek duluan jadi ga pa2 XD

      tuh ka lia liat ka azzhu nulis recaps kiss scene tangannya sampai gemetaran,

      aku jadi bayangin gimana kalo yg nulis recaps kiss scene itu aku atau ka lia mungkin kitanya bakal dengan semangat berkobar semangat 45 tuh nulisnya ngetik-ngetik tuts keyboard mungkin kalo kita berdua yg nulis recaps kiss scene nya bakal ngabisin 2 halaman atau lebih ka lia cuma buat ngejelasin itu adegan sampai detail-detailnya sampai asal muasal bunyinya kan itu adegan favoritnya kitah haha

      Delete
  5. asyik akhirnya ada postingan ep 20 juga..
    aku sebenernya masih bingung sama maksud adegan 'orange lipstick' di ep 20 ini, tapi setelah baca postingan kak azz, aku akhirnya 'connect' juga sama pesan dari adegan itu..hahaha super adorable 'yeepo' scene..
    wah ternyata kak azz juga punya pikiran yang sama juga ya pas adegan suntaek nonton bioskop. gesture dan ekspresi bogeum di adegan nungguin deoksun sampai 'fan-sign' sama pas narik tangan deksun, menurut aku itu bukan choi taek tapi beneran bogeum..hahaha serius aku beneran ketawa ngakak waktu ngulang2 scene itu..aigooya uri taekie kenapa kau sangat ganteeeng...hahaha sama kayak hayati, jantung aku juga selalu berdegup tiap kali melihat senyum-nya..wkwkwk...
    terimakasih kak azz untuk tetap menuliskan detail dialog film interview with vampire di sinopsis ep 20, soalnya ini moment suntaek favorit aku di episode 20..hehe.. dan aku beneran dibuat ngakak guling2 sampe nangis ini sama postingan kak azz..sumpah kak aku baru ngeh kalo yang duduk dibelakang suntaek itu manajer nya bogum-hyeri...wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk
    i love you shin pd-nim and lee woo jung cakka-nim.. you two are 'genius crazy bastard'..hahahaha..
    dan satu lagi super favorit scene aku di episode ini adalah 'turtle proposal scene'.. benar sekali apa kata kak azz Sooooooooooo romantiiiiiiiiiiiiiic. Simple, tapi tulus.. aku juga mau banget kalo dilamar 'calon suami' kayak begitu..hehehe

    aku sependapat dengan tulisan kakak dibagian ini..
    ..tak selamanya, semua harus diraih dengan kengototan. mendengar pendapat pihak lain juga perlu. tanggung jawab, setelah keputusan diambil, bertanggung jawablah atas itu. kau sudah tak punya hak menyalahkan sesiapa jika pada akhirnya keputusan yang kau pilih—misalnya keliru..
    benar sekali kak jalan terbaik untuk menyambungkan semua itu adalah dengan berkomunikasi sesering yang kita bisa dan pasti selalu ada jalan dari tuhan agar kita bisa mengambil hikmah dari setiap keputusan yang sudah dipilih..

    kak azz terima kasih banyak sudah membuat sinopsis episode 20..
    pokoknya sukses terus buat kakak..

    ReplyDelete
  6. Taek modus ngajakin nonton film segala padahal intinya pengen berduaan sama deok sun aja *Oops*

    aku bingung ka mau komen apaan makanya baru komentar sekarang di post-post sebelumnya komentarku udah panjang kali tinggi kali lebar jadinya aku kehabisan stok kata-kata deh haha

    nah tuh deok sun dengerin nasehat yg lebih tua *eh*
    jangan keseringan ngerayu taek yg dirayu-rayu ini masalahnya nangkep umpan terus jadi lebih hati-hati ya *you know what i mean*

    omong-omong soal partner in the crimenya daku ka deota,partnernya daku lagi liburan sekarang efek sakit hati gegara choi taek milih deok sun daripada dia jadinya kaka deota kesayangannya akuh minggu-minggu ini suka ilang-ilangan gitu *mulai ngawur sendiri komennya*

    agak Out of the topic dikit ya ka komentarnya cuma masih ada sangkut pautnya kok,aku rada kecewa nih sama si tvn content trend leader,pertama korban mereka si park bo gum dia lead malenya di reply tapi kesannya jadi kaya second lead gitu lah sampai-sampai punya haters baru gegara ending reply lah sekarang korban mereka berikutnya si park hae jin adegannya di episode 14 nyaris di cut semua padahal lead malenya dia lho ka sampe-sampe si penulis webtoon aslinya angkat bicara soal ini,entah apa yg salah sama otaknya Tvn bukannya aku mau menghakimi mereka tapi kesannya sekarang-sekarang ini tvn makin menjadi-jadi kalo bikin drama kaya bikin ada "Duality Character" disana ga jelas lead male siapa second lead siapa mungkin maksudnya mereka,mereka pengen semua karakter mendapatkan screentimenya masing-masing gitu tapi jadinya fokusnya malah kebagi-bagi dan ujungnya ga adil kalau istilah keren ciptaannya aku sih dalam drama-drama tvn sekarang seperti ada "2 matahari" disana bayangin deh ka bumi dengan 1 matahari aja udah panas banget apalagi kalo sampe ada 2 matahari perumpaannya gitu *makin ga jelas komen apaan*

    omong-omong aku masih penasaran juga sama adegan taek-deok sun di ayunan yg dipotong menurut analisisnya aku adegan itu kemungkinan untuk episode 18 tapi karna sesuatu hal jadi di cut deh sama tvn,mungkinkah adegan itu adalah another kiss scene taek-deok sun? atau mungkin another romantic scene atau lovey dovey diatara mereka berdua? mari tunggu Bts Dvd cutnya saja yg masih lama keluarnya

    sekian.

    ReplyDelete
  7. Mb.azz saranghae....kerenn...epi20 pemecah rekor yaahhh...i'm lovin it....kamsahada...

    Bogum saranghae...kiss...kiss

    Agak sedih baca epi terakhir ini...bakalan gk bs ngakak guling2 setelah part2 hadir...tapi tiap postingan mb.azz sllu bikin ngakak sih dg sisipan komen2nya...
    Sllu merindukan postingan tt suntaek...mb.azz fighting...

    Pasti ada hal baru yg baru aku sadar dg baca sinop mb.azz...kayak pas movie ternyata d blkgnya manajer bogum hyeri...kyaaa coba didunia nyata beneran kayak gitu yaa...gumri feelsss

    Helloooww...nisa my crime partner...merindukan menggila denganmu disini...wkwkwkwkwkw
    Bener2....ayunan scene itu sayang bgt gk airing...kayaknya itu bagian dr kencan mrk...pasti so sweet kan pas ds duduk d ayunan dia pake jas hitam taek...kyk yg d konser ituuu
    Hahahhaaaa...si keju lg ngehits yaa...aku sih blm bs ntn drama lagi...efek r88 terlalu dalam...susah move on hayati...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aduh kaka partner in the crimenya aku kok baru muncul sekarang lagi sibuk liburan bareng bogum ya ka~

      Iyah kalo ga dibilangin ka azz aku juga ga bakal nyadar kalo itu manajernya bogum-hyeri aduh ngeliat adegan itu jadinya berasa kalo bogum-hyeri itu our ship sailing in real life pantesan waktu fansign kemarin manajer hyeri-bogum keliatan akrab gitu ini toh sebabnya hihi *delulu kumat lagi*

      Kaka partner in the crimenya aku udah baca line belum aku nulis banyak soal interview bogum yg pastinya bakalan bikin kaka makin cintah sama bogum~

      Delete
  8. so sweet.... Suntaek Shipper....

    ngakak it pas liat emak2 mergoki sunwoo bora, sama pas noeul ngasih tw para ortu dn ga dpercaya... hahahaha.....

    ReplyDelete
  9. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  10. mba aku juga boleh masuk grup line gak? id line : rizkyamalyap . terimakasih mba :)

    ReplyDelete
  11. Mbak Azz mohon dijawab dengan sangat ya. Saya baru nonton Reply 1988. Saya baru nemu blog mbak dan langsung baca postingan² mbak soal Reply 1988. Saya baca salah satu postingan mbak, disitu mbak tulis Park Bo Gum bilang "demi kebahagiaan Deokseon biarkan Deokseon sendiri yang menentukkan pilihannya....". Itu Bo Gum bilangnya dimana ya mbak? Di interview? Atau dia bilang sebagai Choi Taek? Saya sekarang baru nonton Reply 1988 sampe eps 6 sih, hehe. Tolong di jawab ya mbak. >< Saya juga #TeamTaek mbak. Salam kenal ya mbak. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku bantu jawab ya,kata-kata itu diucapkan oleh park bo gum sendiri di sela-sela interview :)

      Delete
    2. Lupa interview dimana karna interview park bo gum jumlahnya banyak sekali dan ga sedikit

      Delete
    3. Oh gitu, makasih infonya ya :)

      Delete
  12. Baru x ini ketemu blog yang bahas drama serta sinopsis korea yg amat sangat beda dan aku suka banget caranya...menyelipkan pendapat pribadi yg kdg2 buat aku mikir "ahhh akupun merasa gt" 😃 apalagi aku team Taek😆 dan kalo mereka mau ntn ulang (manatau sakit hati ga mau ntn lagi hehe) sbnrnya lbh banyak sweet moment antara Doek Sun dan Taek. Dan writter diawal2 jg terlalu jelas mau mengecoh kita dgn membuat future husband terlihat bersikap seperti Jung Hwan. Kalo kita salah nebak diawal2 berarti twist writter berhasil donk😆. Kalo segampang itu mana seru nih drama haha. Dan menurutku dgn siapa Doek Sun akhirnya menikah tdklah penting. Ini hanyalah drama fiktif..yg lbh penting pesan2 moral yang coba disampaikan di drama ini dan betapa hangatnya pertemanan para tetangga sangat patut diacungi jempol. Ga ada tuh sirik2an dan sindir2an. Ga mirip di *tittt* 😂😂😂
    Tetap semangat menulis and figthing💪💪💪

    ReplyDelete
  13. Lupa bilang manatau mbak senang bacanya(emang elu siapa?) Hihihi...pertama baca blog ini langsung aku bookmark😆 dan di hpku cuman blog ini yang aku bookmark lo😄😄😄

    ReplyDelete
  14. maaf kak apa blog ini cuma buat sinopsis reply 1988 ep 19 sama 20. pengen deh ada jga dari episode 1 😊

    ReplyDelete
  15. salam kenal azz, suka deh baca tulisan2 kamu :)

    ReplyDelete