Uuuuuyeeeaaaah! Akhirnya teaser The Dramatic keluar juga! The Dramatic yang dibintangi MBLAQ ini semacam mini seri 2 episode yang rencananya akan ditayangan di stasiun tivi MBC Every1 pada tanggal 2 dan 9 Agustus 2013. Many many happy! *Engrish ala Mir* 

Selain MBLAQ ternyata ada Girl's Day, Rainbow dan ZE;A juga, kirain cuman MBLAQ doang hehehe
 
Cekidot pic member MBLAQ yang aku capture dari video teasernya :

Mir! 
Noona padamu, dek Cheolyong... \(^O^)/


Lee Joon
Omooo, tatapannya mauuut maaaak


Cheondong
Baby face...


G.O 
di sini dia gak dapet peran anak sekolahan, mungkinkah seorang guru? Hihihi


And the last, our Yang Leader
The killer!


Huuuuaaaa gak sabar nunggu 2 Agustus >_<
Preview The Dramatic episode 1



Chapter 3
Rust
Written by Nafilah Nurdin (@Zeero_Aplus)
Brak!
Bunyi keras pintu yang didobrak paksa mengalihkan seluruh perhatian penghuni kelas itu. Sontak, keriuhan yang terjadi mendadak hening. Terpusat pada satu sosok berkacamata di depan pintu. Pelaku pendobrak pintu. Bang Cheolyong. Seolah tatapan itu berisi pertanyaan, preman kampung dari mana yang baru saja mengacaukan waktu bebas mereka di kelas?
Cheolyong meneliti wajah-wajah bingung di depannya, mencari seseorang.
“Di mana Park Sanghyun?” tanyanya setelah yakin tak menemukan yang ia cari.
Tak ada yang menjawab.
Cheolyong membiaskan kejengkelannya dengan menendang meja yang ada di hadapannya membuat beberapa murid perempuan terpekik kaget.
“Aku tanya di mana Park Sanghyun! Kenapa tidak ada yang menjawab?!” bentak Cheolyong.
“Kau mencariku?”
Cheolyong memutar badannya, didapatinya sosok menjulang itu berdiri tak jauh darinya. Park Sanghyun memasuki kelas tanpa keraguan, menuju bangkunya. Dilewatinya Cheolyong seperti tak peduli ada kemarahan yang siap meledak di mata itu.
Cheolyong mengeluarkan decakan sinis. “Dasar bermuka dua. Naga! Kita selesaikan urusan kita di luar. Di sini terlalu banyak mata.”
“Aku tidak merasa punya urusan denganmu,” tolak Sanghyun sambil memakai earphone-nya. Diangkatnya kedua kakinya di atas meja lalu menyandarkan tubuhnya di sandarak kursinya.
Mulai muncul bisik-bisik di kelas melihat konfrontasi dua pihak yang mungkin saja akan segera meledak beberapa saat lagi. Beberapa murid terlihat diam-diam meninggalkan ruangan itu. sebagian lagi bertahan, ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya antara seorang murid teladan dan si pembuat onar. Ini tontonan yang menarik.
“Cih! Aku benar-benar muak melihat wajah sok malaikatmu itu.”
Cheolyong menghampiri bangku Sanghyun dan tanpa ragu menarik earphone milik cowok itu. “Aku benci ekspresi macam itu!” Cheolyong membuang earphone itu ke lantai. Aura ketegangan meninggi tapi Sanghyun tak terpancing. Ia menyunggingkan senyum manis.
“Sampai kapan kau akan menutupi dirimu dengan kekerasan? Kau mau memukulku? Silakan...”
“Brengsek!” Cheolyong mendendang meja Sanghyun. Sangat keras hingga nyaris saja membuatnya terjungkal ke belakang. Untunglah ia sigap melompat berdiri. Sanghyun melepaskan desah panjang.
“Kuperingatkan kau sekali lagi, jangan pernah menyampuri urusanku! Lihat saja, aku tidak akan segan-segan membuat pergitungan denganmu. Ingat itu!” cetus Cheolyong tajam. Ia sekali lagi menyebarkan tatapannya ke seluruh kelas. Bahasa matanya kurang lebih berbunyi : Apa lo liat-liat, macem-macem gue matiin atu-atu!
Cheolyong meninggalkan kelas.
“Kau benar-benar belum berubah, Cheolyong-ah...” bisik Sanghyun, ia menjatuhkan pandangannya keluar jendela, menatap daun-daun berwarna kecokelatan yang mulai berguguran diterpa angin siang hari. Hatinya terasa dingin dan sepi. Diusapnya wajahnya perlahan.
“Cheolyong-ah, mianhe...”
Gwaenchanha?” Nicole yang sedari tadi diam memperhatikan saja, kini mendekati Sanghyun.
“Aku tidak apa-apa.”
“Anak itu, kenapa tidak bisa sedikitpun menghargai orang? Haruskah kita melaporkannya pada guru kelas?” tanya Nicole.
“Tidak perlu, sudah kubilang aku tidak apa-apa. Jangan khawatir berlebihan.” Sanghyun memungut earphone-nya.
Tapi Nicole punya pemikiran berbeda.
***
“Kau yakin Sanghyun yang melaporkan kita pada Jio Hyung?”
“Tentu saja! Hanya dia yang tahu kalau hari ini kita membolos. Kau ingat tadi sebelum melompat pagar belakang, dia melihat kita? Tidak ada tersangka lain. Pasti dia.”
Cheolyong dan Kkongchi berjalan beriringan keluar dari gerbang sekolah di antara murid-murid lain yang sama-sama bersuka cita kelas berakhir hari ini.
“Lalu, setelah ini kita akan kemana?” tanya Kkongchi.
Molla. Kita bisa memikirkannya sambil jalan. Yang jelas aku belum ingin pulang ke rumah.”
“Bagaimana kalau kita menemui Suzy?”
“Tidak setelah apa yang kita lakukan padanya. Dia tidak akan melepaskan kita begitu saja jika ia tahu rencananya sudah bocor. Gadis itu bisa lebih kuat berkali lipat saat marah. Lebih mengerikan dari ibuku.” Cheolyong mengacak-acak rambutnya. Frustasi.
Saat itu, tanpa diduga sama sekali. Sosok itu muncul.
Ciiiiiaaaat!!
Bugh!
“Rasakan ini!”
“Auuwww! Ige mwoeyaaa!!” Cheolyong berteriak kaget mendapat serangan tiba-tiba dari orang yang tidak dikenalinya. Sementara itu Kkongchi hanya bisa berdiri kebingungan. Belum bisa mencerna apa sebenarnya yang sedang terjadi.
“Ini akibat kalau kau berani mengganggu Sanghyun oppa!”
“Oppa?” cetus Cheolyong heran sambil mengelak dari hantaman tas bertubi-tubi yang mengenai wajah dan bagian tubuhnya yang lain. Itulah yang menyulitkannya mengenali siapa yang tanpa babibu menyerangnya. Ia sibuk mengelak dan tak sadar kacamatanya terjatuh. Ia tidak bisa melihat jelas tanpa itu.
Ya! Bang Cheolyong! Aku akan membiarkanmu lolos kali ini tapi tidak untuk selanjutnya! Kau dengar itu?”
Shit. Cheolyong memungut kacamatanya.
Neo!” Cheolyong tak bisa menyembunyikan kekagetannya begitu melihat jelas sosok cewek garang di depannya.
“Ne, jeoyeyo!” Nicole bertelekan pinggang dengan wajah dimajukan. Menantang.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukulku?” Cheolyong meringis memegangi bahunya yang sakit kena pukulan.
“Karena kau mengganggu Sanghyun Oppa!”
Cih. Sanghyun Oppa? Cheolyong tersenyum sinis.
“Dasar anak kecil. Minggir! Aku tidak punya urusan denganmu. Kkongchi-ah, ayo jalan!”
Ne!” Kkongchi tergagap.
Dianggap angin lalu seperti itu membikin Nicole geram sepenuh hati.
“Rasakan ini!” Lalu gadis itu membuka sepatunya. Memusatkan tenaga penuh pada genggamannya. “Hana... Dul...”
Bukkkk! Dan sepatu itu mendarat telak di belakang punggung Cheolyong...
Kkongchi terperangah. Waktu seolah berhenti. Membeku. Nicole diam tak bergerak, menanti apa yang akan terjadi berikutnya. Walaupun ada secuil rasa takut menghinggapi hatinya tapi ia pura-pura tak menampakan hal itu.
Cheolyong meniup anak rambutnya jatuh di keningnya. Bak adegan slow motion di pilem-pilem, ia membalikkan tubuhnya. Melangkah pasti mendekati Nicole. Gadis itu hendak mundur tapi Cheolyong berhasil menangkap bahunya.
“Apa kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Aku tidak peduli siapa Oppa-mu, tindakanmu barusan sudah berlebihan, Nicole-sshi. Aku tidak mau mengotori tanganku dengan memukuli perempuan. Tapi apa kau tahu, aku paling benci orang-orang yang suka menyampuri urusan orang lain seolah mereka paling tahu apa yang terjadi.”
Nicole menundukkan wajahnya menghindari mata Cheolyong. Perasaannya tidak enak entah kenapa hanya dengan menatap sepasang mata di balik kacamata itu.
“Urusanku dengan Oppa-mu tidak sesederhana yang kau pikir. Jadi, jika kau tidak ingin terluka, menjauhlah... ini bukan permainan anak kecil,” desis Cheolyong.
Darah Nicole berdesir. Apa ini?
Nicole masih tak bergerak.
“Aku akan mengambil sepatu ini sebagai balasan tindakan sembronomu barusan. Kkongchi-ah, kaja!
Kkongchi mengekori Cheolyong.
“Apa kau tidak terlalu berlebihan, Cheolyong-ah...?”
“Dia cantik...” Cheolyong tidak nyambung.
Ye?”
“Sayangnya terlalu galak.” Ia menimang sepatu sebelah kiri milik Nicole di tangannya. Senyumnya mengembang.
“Sanghyun Oppa?” batinnya.
Ini pasti akan lebih menarik.
“Eotteohge... Haiiish!Nicole menggumam kesal. Ia duduk memeluk lutut, memukul-mukul kaki kirinya yang hanya berbalut kaos kaki putih. Bagaimana caranya ia pulang dengan sepatu yang lengkap?
“Gadis ceroboh...”
“Sanghyun Oppa!” Nicole memekik riang menyadari kehadiran Sanghyun. Lebih bahagia lagi mengetahui cowok itu membawakan sepatu olahraga miliknya. Jangan-jangan Sanghyun mengikutinya sepulang sekolah tadi?
“Kau benar-benar keras kepala. Bukankah aku melarangmu turut campur? Biar aku sendiri yang menyelesaikannya dengan Cheolyong. Ini urusan kami berdua.”
Hajiman...”
Deuleo bwa, Nicole... Jogeum, Jangan membuang-buang waktumu dengan mengurusi hal ini. Cepat atau lambat urusan ini akan selesai.” Sanghyun menunduk. Ia meletakkan sepasang sepatu itu tepat di hadapan Nicole. Karena tak ada inisiatif dari gadis itu untuk menukar sepatunya, akhirnya Sanghyun membantunya membuka dan memasang sepatu olahraga itu.
“Kau terlalu baik mengurusi hal-hal semacam ini... Aku hanya khawatir kau terluka.”
Nicole menampakkan wajah sedihnya. “Oppa...”
“Kkeut.” Sanghyun berdiri. Menepiskan kedua belah tangannya. “Ayo, pulang!” Lantas ia berjalan mendahului.
“Oppa!”
Sanghyun terus berjalan.
“Ppalli, Nicole! Aku sudah lapar!” Ia mengangkat tangannya. “... Dan berhentilah memanggilku Oppa!”
***
“... Ne. Arasso. Kita bertemu di tempat biasa. Geogjeongma, Jio Oppa belum pulang seharian ini. Jadi aku bisa bebas pergi. Ne. Kkeunho.
Suzy mengantongi kembali ponselnya. Ia merapikan anak rambutnya di depan cermin. Lalu disambranya tas sampir di atas ranjang bergegas keluar kamar. Ia bertemu Changsun.
Eodi ganeungeoya?”
“Bukan urusanmu. Jika Jio Oppa menanyakanku bilang saja kau tidak tahu.”
“Apa kau sedang mengajariku berbohong?”
“Demi kebaikan bersama. Lakukan saja.”
“Aku tidak terbiasa berbohong.” Changsun menampik.
“Kau tidak perlu menjadi mahir untuk berbohong. Cukup lakukan. Aku pergi.”
Changsun melambai. Ia sedang malas adu argumen, ia lebih tertarik mengetahui makanan apa kira-kira yang ada di kulkas. Perutnya keroncongan sesiang ini. Ia belum cukup sehari seminggu di sini tapi rasanya berat badannya menurun drastis.
Langkahnya belum sempurna mencapai dapur ketika telinganya menangkap suara tapak kaki. Ia kaget mendapati Suzy kembali, berbeda saat ia hendak keluar tadi. Wajahnya sudah bertukar dengan tekukan sebal. Changsun mengurungkan niatnya bertanya. Ia sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat Jio mengikuti di belakang. Nampaknya akan terjadi perang saudara di rumah ini...
Ia menangkap isyarat mata Jio menyuruhnya menyingkir dari sana.
“Ehhhmmm... cuaca siang ini panas sekali. Kurasa aku butuh udara segar...” Changsun berdehem. Menatap Jio sejenak lalu mengayuh kakinya keluar.
“Aigooo... tatapannya benar-benar menyeramkan. Hanya dengan melihat matanya, aku bisa sangat yakin ia pernah dekat dengan Yang Seungho. Kalau sudah begini, di mana aku bisa menemukan makanan? Sial.” Changsun mengelus perutnya.
Ia tak menyadari ada seseorang yang mengamatinya di kejauhan sejak keluar dari pagar rumah itu.
***
Udara yang dihirup terasa menyakitkan dalam situasi seperti itu. Suzy duduk tanpa suara. Ia tak berani memandang langsung ke arah wajah Jio.
“Kau tidak pernah berniat mendengarkan aku.” Jio membuka suara. “Beberapa hari ini kamu berusaha menemui Jooyeon, kau pikir aku tidak tahu?”
Suzy terhenyak.
Museun sori...”
Arayo... Aku tahu semua yang kau lakukan, Suzy-ah. Kau tidak perlu melakukannya lagi. Bukankah selama ini kau lihat aku baik-baik saja? Jooyeon sudah bahagia dengan hidupnya, pun dengan aku. Kau tahu, bukan? Gelas yang sudah retak mana mungkin bisa direkatkan seperti semula? Lagipula semua sudah berlalu...” suara lembut Jio bukannya menenangkan Suzy malah semakin menyakitinya.
“Tidak. Aku tidak akan menyerah. Ini belum selesai. Aku baru akan melepaskan mereka nanti... Najunge... setelah mereka minta maaf atas kesalahan yang mereka perbuat pada kita!”
“Suzy-ah...”
Igeoseun animnida!” Suzy menahan agar air matanya tidak jatuh. “Bila perlu aku akan membawa Jooyeon eonni dan membuatnya berlutut di hadapanmu, Oppa!
Suzy menggeser pintu kamarnya dengan keras.
“Cheolyong-ah... Aku akan membunuhmu!”
***
Di tempat lain di waktu yang hampir bersamaan....
Cheolyong menahan langkahnya.
“Ada apa?” tanya Kkongchi. “Kenapa berhenti? Bukankah kita harus menemui Suzy dan Eunyoung di tempat biasa? Dua gadis itu bisa-bisa mengomel tanpa henti kalau kita terlambat.”
“Kurasa aku barusan mendengar suara Suzy mengomel.”
Ye? Itu khayalanmu saja. Kurasa kau terlalu merasa bersalah karena memberitahu Jio hyung soal rencana Suzy.
“Perasaanku tidak enak.”
“Setidaknya kita akan menghadapinya berdua.” Kkongchi terkekeh.
Jamkkanman!” Tiba-tiba Cheolyong berseru tertahan. Telunjuknya mengarah ke seberang jalan yang tak terlalu ramai baik oleh kendaraan maupun pejalan kaki. Kkongchi yang penasaran mengikutkan arah pandangannya.
“Astaga!”
Nun di sana, dua orang berlawanan jenis sedang bergadengan mesra melewati restoran cepat saji. Si pria dengan manis membukakan pintu untuk teman wanitanya.
“Itu bukannya Jooyeon Noona?” terperangah Kkongchi. “Loh, bukankah itu pria berbeda yang kita temui sebelumnya? Ige mwoeya?”
“Aiiisssh! Kenapa dia harus muncul di saat Suzy tidak bersama kita...” omel Cheolyong pendek.
Ponselnya berdering. Nama Suzy terpampang.
Bang Cheolyooooooong, aku akan membunuhmu!!”
Kkamjjagiya!” Cheolyong mematikan sambungan telpon cepat-cepat sebelum gendang telinganya pecah oleh teriakan Suzy di seberang sana.
“Kita benar-benar dalam masalah.” Cheolyong meringis.
Kkongchi tergelak. Pasrah.
***
Di sebuah gedung perkantoran yang maha tinggi. Kesibukan siang itu terlihat jelas dengan lalu lalang karyawan. Kontras terlihat berbeda dengan situasi di dalam ruangan direktur. Ada kegelisahan menggantung di sana.
“Kau yakin itu bukan dia?” Yang Seungho berdiri menghadap jendela. Memunggungi sekretaris Kevin yang datang melaporkan sesuatu padanya.
“Saya sudah mengecek ke tempat itu. Menurut pemilik rumah, mereka sudah lama pindah dari sana.”
“Benarkah?” Seungho kembali ke tempat duduknya. Masih dengan sketsa gelisah, ia mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja kerjanya yang dilapisi kaca bagian atasnya.
“Jangan berhenti mencari. Aku sangat yakin, mereka belum meninggalkan kota ini. Mungkin mereka menetap di suatu tempat yang tidak mencolok bagi orang lain. Lambat laun kita akan menemukannya.”
“Baik.” Sekretaris Kevin membungkuk sebelum pamit keluar.
Sepeninggal Sekretaris Kevin, Seungho menumpukkan ujung sikunya di atas meja dan menangkupkan tangannya di wajahnya.
“Akan sampai di mana kita berlari, Jio-ah...? Aku tidak akan lelah mengejarmu hingga bisa membawamu pulang kembali.”
Matanya lekat pada sosok di dalam foto yang terpajang manis di atas mejanya.
-Bersambung-


 Chapter 2 : I Think You Know (The lost memory)
Written by Nafilah Nurdin
@Zeero_Aplus
Just For Fun, guys! ^^
Warning! Yang puasa hati-hati dengan khayalannya menjelang ending chapter 2 xD *evil laugh* ups!
***
Suzy membuka matanya. Pelan. Setengah meringis. Hal pertama yang ia lihat pagi ini saat terbangun di kamarnya adalah wajah datar Jio. Tidak ada ekspresi apapun di sana.
“Kau sudah bangun?” sambut kakaknya, setengah berdiri dari kursi yang didudukinya di sisi kiri ranjang Suzy. Mengamati Suzy seksama. “Ada yang sakit?”
Sekali lagi Suzy meringis. Ditariknya ujung selimutnya hingga menutupi separuh wajah pucatnya. Ia hapal gelagat kakaknya melebihi siapapun di dunia ini. Setelah apa yang terjadi semalam dan pagi ini kakaknya bersikap seolah tidak terjadi apa, itu mengindikasikan akan ada hal buruk yang akan terjadi. Siapa lagi tersangka utamanya kalau bukan Suzy?
Gwaenchanha-yo... temanmu masih tidur. Mungkin dia kelelahan semalam. Aku sudah menyiapkan bubur hangat untuk kalian. Makanlah. Hari ini kau tidak boleh ke mana-mana. Istirahat saja di rumah, mengerti?” Habis berkata demikian, Jio beranjak dari kursinya.
Suzy melongo menatap Jio yang melangkah keluar dari kamarnya. Jamkkanman... Apakah ia sedang bermimpi? Hanya segitu saja? Tidak ada acara marah-marah? Ceramah panjang lebar atau investigasi mendalam mengenai siapa laki-laki yang membersamainya semalam dan apa yang mereka lakukan di bawah guyuran hujan? Berakhir sampai di sini? Kkeut?
Suzy menggaruk kepalanya. Bingung apakah ia harus bahagia atau was-was. Sejak kapan Jio berubah adem-ayem melihatnya bersama orang asing? Jangankan orang asing, teman-temannya saja selalu kesulitan mencuri waktu bersamanya sekadar bepergian ke tempat ramai. Aniya... Ini tidak benar. Pasti ada yang salah dengan kakaknya.
Suzy mengerutkan keningnya. Pening.
Ta, tapi... kenapa ia tidak bisa mengingat apapun setelah ia berseru kaget saat Jio mendapatinya di luar pagar bersama laki-laki itu? Ada apa ini? Jangan-jangan dia ikut pingsan pula. Yang ia tahu ingatannya terputus di bagian itu.
“Ah, molla...” Suzy mengacak-acak rambutnya.
Hattchiiih!
Aigoo, Suzy baru menyadari hidungnya berair. Bersin barusan membuat denyut di kepalanya semakin terasa. Ia benci hujan!
***
Jio berdiri di luar kamar Suzy. Matanya berkilat. Ada emosi yang ia tahan semenjak berada di dalam kamar adiknya. Kebetulan macam apa ini? Sesaat ia teringat sesuatu. Jio mengepalkan tangannya. Wajahnya mengeras. Ia sempat melirik ke arah kamar tamu sebelum memutuskan berangkat ke sekolah.
***
Di sebuah gang sempit tak jauh dari SMA Favorit di daerah itu pada waktu yang berbeda di hari itu...
“Kau yakin dia akan datang hari ini?”
“Tentu saja... dia sendiri yang bilang padaku kemarin sebelum berpisah.”
“Kenapa belum muncul juga? Kita akan kehilangan kesempatan jika terlambat datang ke sana...”
Dua siswa berseragam terlihat menunduk di gang itu, mengamati jalanan lengang di depan mereka.
“Eunyoung. Telpon dia, tanyakan apakah ia bersama Suzy sekarang. Ppalli!” salah seorang berseru. Setengah panik usai melihat jarum jam tangannya. Sementara rekannya sibuk mengutak-atik ponselnya, anak laki-laki berusia delapan belas tahun itu melongokkan kepalanya ke arah gerbang sekolah. Lewat pukul sepuluh pagi. Suzy sudah sangat terlambat. Ke mana anak itu? Tidak biasanya ia mengingkari janji. Aiiish.
“Suzy tidak akan datang.”
Mwoeya? Ya. Bukankah kau yang bilang dia akan datang? Kenapa kau jadi plin-plan begini?” sungut anak laki-laki itu tanpa mengalihkan pandangannya dari gerbang sekolah.
Bukan jawaban yang ia terima tapi tarikan baju belakangnya yang semakin lama semakin kencang.
“Cheolyong-ah...” bisik temannya. Nada suaranya bergetar.
Wae? Diamlah. Kita tunggu sebentar lagi. Kalau Suzy tidak datang, kita saja yang ke sana. Eotteo? Kkongchi-ah, berhentilah menarik bajuku! Bisa-bisa kau membuatnya sobek!” Cheolyong membalikkan badan dan tercenganglah ia melihat siapa yang kini berdiri di dekat mereka. Pantas saja suara Kkongchi menciut dan ganti menarik bajunya dari belakang.
Cheolyong menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, memperbaiki letak kacamatanya. Nan jug-eoss-eo... rutuknya dalam hati.
“Aigooo. Hyung... sejak kapan kau di sini?” cetusnya tertawa keras melepas kikuk habis tertangkap basah membolos sekolah. Jio berdiri di hadapan mereka
“Kurang lebih tiga menit yang lalu. Aku sempat mendengar nama Suzy disebut. Apa yang sedang kalian rencanakan? Bisakah kalian berbagi padaku? Berhubung Suzy tidak bisa datang, tidak ada salahnya jika aku mengetahui rencana kalian. Aku oppa-nya.” Jio mengedipkan sebelah matanya namun itu justru menambah pucat wajah Cheolyong dan Kkongchi. Keduanya tertunduk seperti kucing basah. Cheolyong menyikut rusuk Kkongchi.
“Kenapa kau tidak bilang Jio Hyung di belakang kita?”
“Aku juga tidak sadar. Tahu-tahu dia menepuk punggungku. Kutarik bajumu sebagai isyarat, kau malah mengomeliku...”
“Aiisshh... Jinja...”
“Apa yang kalian diskusikan?” sela Jio dengan suara ditinggikan. “Hari ini aku akan melepaskan kalian dan pura-pura tidak melihat kalian di sini...”
Jeongmal?”
Jio mengangguk. “Tapi dengan satu syarat.”
Musnah sudah sumringah di wajah dua murid yang dikenal bebal seantero SMA Guruu. Warning : kau tidak akan pernah bisa lari dari cengkeraman Jio jika sudah terlanjur berurusan dengannya. Menyerahlah jika kau masih ingin tersenyum manis. Ini rumus paling sederhana dan tingkat kesuksesannya bisa dijamin.
“Syarat apa?” tanya Cheolyong.
Jio tersenyum. Mata sipitnya kian hilang. Di mata Cheolyong dan Kkongchi itu lebih pada ikrar kemenangan.
“Ceritakan padaku apa yang dilakukan Suzy belakangan ini hingga dia selalu pulang ke rumah saat menjelang tengah malam? Jangan lupakan cerita apa yang akan kalian lakukan hari ini sampai-sampai kalian berdua memilih membolos sekolah. Bagaimana? Kalian tidak punya waktu banyak untuk berpikir. Kepala Sekolah sedang dalam perjalanan menuju ke sini.”
“Apaa??” Cheolyong dan Kkongchi berseru bersamaan.
“Bagaimana ini? Aku tidak mau menerima surat peringatan lagi. Kau tahu apa yang dikatakan ayahku saat aku memberikan surat peringatan dari sekolah minggu lalu? Dia akan menggantungku kalau aku membuat masalah lagi di sekolah!” Kkongchi mendecit takut. Terbayang wajah sangar ayahnya beserta pisau pemotong dagingnya.
“Kau kira aku tidak takut? Kau tahu kan betapa mengerikannya Nuna saat marah? Akhir-akhir ini dia sering mengancam akan memulangkanku ke desa...”
“Bagaimana?” desak Jio. Ia bisa mencium aroma kemenangan di pihaknya.
Mian haeyo, Suzy-ah... Aku lebih takut pada Nuna... Cheolyong mengeluarkan hembusan napas pasrah.
***
Sepeninggal Jio ke sekolah, Suzy berjingkat-jingkat, menggeser pintu kamarnya lalu menuju kamar tamu. Ia yakin laki-laki itu ada di sana. Tiba di depan pintu kamar, Suzy tanpa mengetuk langsung saja membuka dan menjulurkan kepalanya.
Kosong melompong. Loh. Kamar tamu itu dalam keadaan rapi.
“Kau mencari siapa?” suara di belakangnya membuat Suzy terduduk.
“Kau mengagetkanku!” omelnya. Suzy misuh-misuh.
Changsun tergelak. Ia sudah bertukar baju dengan milik Jio. Rambut basahnya menitikkan air di ujung-ujungnya menyisakkan titik-titik basah di sekitar baju kaos biru yang dikenakannya. Suzy sejenak terpana. Wangi sabun mandi tercium hidungnya.
Wae? Ada yang salah denganku hingga kau menatapku tanpa kedip seperti itu?”
Ye? Ah. Tidak.” Suzy gagap.
Changsun berjalan melewati Suzy masuk ke dalam kamar. Tanpa diketahui Suzy, Changsun mengulum senyum samar.
“Kau bilang namamu Lee? Kau masih mengutang penjelasan padaku. Bukan berarti kau bisa tinggal di sini kau bisa lolos begitu saja.” Suzy mengekor di belakang.
“Maksudmu?”
“Aku harus menyusun alasan agar kakakku tidak berpikir macam-macam.”
“Aah, kakakmu.” Changsun menangkap arah pembicaraan Suzy. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan dia. Aku sudah menjelaskan perihal diriku padanya.”
Mata Suzy membola. “Geotjimal jaeng-i...”
“Apa di matamu aku menyerupai pembohong?” Changsun membungkuk, menempatkan wajahnya kurang sejengkal lagi dari wajah Suzy. Gadis itu terpekik kaget. Pipinya merona merah. Changsun tertawa keras, senang bisa menggoda gadis itu.
“Kau tidak usah khawatir. Tidak akan terjadi kesalahpahaman seperti yang ada di kepalamu. Semua baik-baik saja. Lihat, kakakmu bahkan meminjamkan baju-bajunya padaku. Sekarang bisakah kau keluar?”
Ye?”
Naga...” Changsun menunjuk pintu dan membuat gerakan seperti orang hendak membuka baju.
Suzy mengerjap polos, sedetik kemudian meringis malu sembari bergegas memutar badan, cepat-cepat melintasi pintu. Babo! Ia memukul kepalanya sendiri. Dipencetnya hidungnya yang terus menerus mengeluarkan air. Bukankah ia menemuinya untuk menanyakan sesuatu sekaligus membereskan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka semalam? Tidak boleh dibiarkan.
Suzy menerobos masuk kembali ke kamar tamu.
“Mwohaneungeoya? Michyeoss-eo?!” Changsun berteriak kalap mendapat ‘serbuan’ mendadak itu, di saat ia belum sempurna memakai bajunya. Tanpa pikir panjang, ia meraih handuk di atas kasur dan menutupkannya ke tubuh bagian atasnya. Wajahnya terang menunjukkan kekesalan tingkat tinggi.
Suzy mengernyit mendapatkan semprotan sedemikian rupa. Ia segera menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
“Aku tidak melihat apapun!”
Naga! Apa yang kau lakukan? Bukankah sudah kubilang aku akan mengganti baju? Aigooo, anak gadis macam apa yang suka melihat pria tanpa baju... tsk tsk... tak kusangka wajah polosmu itu...”
“Ya!” Suzy menunjuk Changsun. Ia benar-benar sudah lupa pada degub jantungnya saat ia menerobos masuk dan melihat apa yang tidak boleh ia lihat. Ia lupa kalau wajahnya saat ini mungkin saja memerah seperti kepiting rebus karena menahan malu. “Jangan asal bicara! Aku tidak tertarik dengan tubuh kerempengmu itu. Aku hanya ingin meminta maaf sudah salah paham padamu tadi malam, kau juga harusnya minta maaf padaku bukannya sok cool begitu. Dasar aneh!” usai berkata dengan suara keras bercampur kesal dan marah (malu?), Suzy berlari keluar.
Mweoya? Kau bilang aku aneh? Hei, jangan kabur! Kau mau ke mana?” Changsun hendak memburu tapi teringat ia belum memakai baju.
“Aiiish! Gadis itu benar-benar... Apa? Kerempeng katanya?” Changsun meraba perutnya yang bahkan tanpa lemak berlebih itu. Ia menghadap ke cermin. Huh, atletis begini dibilang kerempeng? Dia pasti melihatnya makanya berbohong. Changsun tak sanggup menahan tawanya. Hanya sesaat karena mendung dengan cepat menguasai hatinya. Ini sungguh tidak lucu, Tuhan...
Suzy membenturkan kepalanya ke dinding kamarnya. Mengutuk dirinya sendiri berkali-kali.
“Apa yang sudah kulihat, Tuhan...” Degub aneh masih tersisa di bilik dadanya.

-Bersambung-