[POV] Novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982

/ 12/13/2019 04:31:00 AM

Yeay! Akhirnya saya bikin POV buku pertama di MS, dan ini adalah pertama kalinya  saya nulis POV buku. Seingat saya sih begitu. Jadi, karena ini POV buku pertama saya, mon maap kalau isi-nya nggak sebagus di blog-blog yang lain. Namanya juga masih belajar hehe #ngelestetep jadijurusterjitu.
Tentang novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982, saya memutuskan membeli bukunya di Buka Buku, tobuk online langganan saya, setelah membaca tanggapan teman-teman di medsos terhadap filmnya. Iya. Novel yang kemunculannya telah memicu kontroversi di negara asalnya—Korea Selatan ini memang sudah dibuat versi filmnya, dibintangi Goblin Ahjussi eh Gong Yoo dan Jung Yu Mi. Kabar gembiranya, meski terus mendapatkan protes, versi film Kim Ji Yeong disambut positif penonton. Inilah yang semakin menguatkan minat saya memasukkan novel ini ke keranjang belanja saya mendampingi buku nonfiksi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat-nya Mark Manson.
Karena nggak bisa nonton filmnya—bioskopnya jauh, saya tinggal di pulau—jadi saya baca bukunya aja dulu.
Saya segera membaca Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 begitu bukunya tiba di tangan saya. Saya tidak membutuhkan waktu lama menamatkannya, saya baca di sela-sela pengawasan PAS. Hasilnya? Saya tidak terlalu terkejut dengan apa yang diceritakan di novel yang berjudul asli 82 년생 김지영.
Judul                         : Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis                     : Cho Nam-joo
Alih Bahasa            : Iingliana
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : November, 2019
Blurb
Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang memgharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalan pulang dari sekolah di malam hari.
Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.
Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.
Kim Ji-yeong mulai mengalamu depresi.
Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.
Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.
Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.
***
Dari petikan blurb-nya sudah ketahuan seperti apa potret kehidupan Kim Ji-yeong yang diceritakan di dalam novel ini. Diskriminasi, perlakuan berbeda yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan itu terbaca jelas. Inilah realitas sesungguhnya yang dialami perempuan-perempuan di Korea Selatan. Sekian dekade telah berlalu, namun praktik misoginis, patriarki, masih betah mengakar pada sendi-sendi kehidupan masyarakatnya.
Novel setebal 192 halaman ini memiliki alur maju-mundur yang dibagi menjadi 6 bagian memakai kurun waktu 1982, kelahiran Ji-yeong sampai 2016, mencakup hari kelahiran Kim Ji-yeong, masa-masa sekolahnya, kehidupan pekerjaan hingga pernikahannya, yang pada setiap fase itu kita bisa melihat secara terang-terangan dan gamblang betapa tak adil-nya lingkungan di Korea Selatan memperlakukan perempuan. Dan kehidupan Kim Ji-yeong merangkum seluruhnya tanpa terkecuali.
Kim Ji-yeong terlahir dari seorang perempuan hebat yang meski telah dibuat babak belur oleh pilihan-pilihan yang tidak diinginkannya tapi mesti diambilnya karena ia perempuan, Oh Mi-sook tidak lantas luruh begitu saja dalam ketidakberdayaan. Oh Mi-sook melawan dengan caranya sendiri. Ia adalah sebuah pengecualian. Di dalam rumahnya, Oh Mi-sook memegang peranan besar.
Lihat, Seoul ada di sini. Bentuknya hanya satu titik. Saat ini, kita hidup di dalam titik ini. Walaupun kalian mungkin tidak akan mengunjungi semua tempat yang ada, aku ingin kalian tahu bahwa dunia ini sangat luas.” –Oh Mi-sook (hal 47)
Itulah yang dikatakan Oh Mi-sook pada kedua putrinya saat menunjuk sebuah peta dunia berukuran besar yang tergantung di dinding kamar mereka. Betapa ia ingin agar anak-anaknya tak bernasib sama dengannya—terpaksa memangkas habis mimpi-mimpinya karena tanggung jawab yang harus diembannya, sebab, lagi-lagi karena ia perempuan.
Namun sayang, harapan ibunya gagal mewujud pada Kim Ji-yeong. Karena ia perempuan yang dilahirkan dan tumbuh besar dalam lingkungan yang pelik, yang memandang perempuan sebagai sumber masalah, bahwa perempuanlah yang patut disalahkan bila ada hal-hal buruk menimpanya, Kim Ji-yeong terbiasa menelan bulat-bulat kemarahannya. Perempuan malang itu, entah di mulai dari titik mana, telah kehilangan suara-nya.
Kim Ji-yeong menikah dengan Jeong Dae-hyeon saat dirinya berumur 31 tahun, lalu melahirkan anak pertamanya—Jeong Ji-won setahun setelahnya.
Di suatu pagi, Jeong Dae-hyeon menyaksikan sendiri perubahan aneh terjadi pada diri istrinya. Kim Ji-yeong bertingkah dan berbicara seperti orang lain. Awalnya Jeong Dae-hyeon tidak menganggap serius hal tersebut. Namun ketika Kim Ji-yeong tiba-tiba menirukan Cha Seung-yeon—sahabat Ji-yeong yang sudah meninggal akibat emboli air ketuban saat melahirkan anak keduanya, Jeong Dae-hyeon mulai dihinggapi kekhawatiran.
Kulminasi keanehan juga kesedihan hidup Kim Ji-yeong terjadi pada musim gugur 2015.  Saat itu adalah perayaan Chuseok. Jeong Dae-hyeon mengajak Kim Ji-yeong dan putri mereka mengunjungi orang tuanya di Busan. Di hadapan kedua orang tua Dae-hyeon, Ji-yeong bertingkah tidak wajar. Ia mengomeli ibu Dae-hyeon, mertuanya sendiri. Dan lagi-lagi, saat melakukannya, ia seperti bukan Ji-yeong biasanya. Ia berubah menjadi orang lain. Jeong Dae-hyeon memutuskan membawa istrinya ke psikiater.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Kim Ji-yeong? Benarkah keanehan demi keanehan yang terjadi padanya semata karena depresi pascamelahirkan?
Kilas balik kehidupan Kim Ji-yeong sebelum dan setelah dilahirkan, suasana rumah, perlakuan sistem dan guru-gurunya di sekolah terhadap anak-anak perempuan, kehidupan perkuliahan hingga lingkungan kerja, dan sampai akhirnya ia pada kehidupan pernikahannya, telah membuktikan apa yang dialami Kim Ji-yeong bukan hanya tersebab depresi pascamelahirkan. Itu adalah rangkaian rel panjang kemarahan, rasa ketidakadilan yang mengendap lama, berkarat di lubuk terdalam memori Kim Ji-yeong. Ji-yeong tak mampu lagi menampung lebih lama, maka meledaklah ia. Rel-nya macet. Dunia Kim Ji-yeong berhenti berotasi.
Lalu mengapa Ji-yeong tidak mencoba melawan seperti ibunya?
Seperti yang ditulis Kim Go Yeon-ju, seorang Sarjana Kajian Perempuan di penutup buku ini, ada waktu-waktu di mana Kim Ji-yeong ingin melawan, ingin bersuara namun urung, karena sejumlah alasan. Kim Ji-yeong sudah terlanjur pesimis terhadap suara-nya sendiri. Sebagai golongan minoritas, di tengah ‘masyarakat misoginis’—Ji yeong memilih diam, karena jika pun ia memilih menyuarakan pendapatnya yang berbeda dari nilai-nilai yang sudah mengakar di masyarakat tersebut, maka ia akan dianggap hanya sebagai suara sumbang yang tak jelas artikulasinya. Konsekuensi yang mesti ditanggungnya sangat besar. Terlampau berat untuk ditanggungnya. Begitu pula akhirnya, sudah terang benderang. Peluang dikucilkan, dijadikan bulan-bulanan sangat besar.
Saya teringat potongan kalimat Jang Geurae dari Misaeng, “in life there are many things you start even if you know the end.” Walaupun kita sudah tahu hasil akhirnya, kita tetap memulainya dengan harapan akan terjadi perubahan. Bagi Kim Ji-yeong, berlaku hal sebaliknya. Karena sudah tahu akhirnya, maka ia memilih tidak melakukan apa-apa. Mengapa mencoba sesuatu yang sudah jelas hasil akhirnya. Sebuah sikap kalah yang muncul karena hilangnya harapan. Ironis bukan?
Apa-apa yang diceritakan di dalam novel ini tidak terlalu mengejutkan saya karena kejadian-kejadian yang menimpa Kim Ji-yeong sudah cukup sering kita temukan di drama, sebut saja Misaeng, atau yang paling terbaru—kisah jaksa perempuan yang mengalami keguguran di Miss Hammurabi. Tidak mengejutkan bukan berarti tidak bisa membuat hati saya nyeri, bukan? Kehadiran novel ini kian menegaskan kefatalan sistem sosial memperlakukan perempuan di Korea Selatan, dan dunia pada umumnya.
Di sinilah letak ironinya. Mengapa orang-orang bersuara keras terhadap kehadiran novel ini, padahal jika menyoal isi bukunya, sudah bukan lagi menjadi hal baru? Mengapa harus marah? Tersinggung? Apakah karena Kim Ji-yeong secara blak-blakan menelanjangi kebrutalan pandangan dan perlakukan masyarakat umum terhadap perempuan di sana sehingga orang-orang ini takut akan munculnya gelombang tuntutan perubahan dalam tatanan sosial masyarakat terhadap perempuan? Memangnya apa salah bila perempuan menyuarakan ketidakadilan yang menimpanya? Bukankah perlakuan tidak adil pada perempuan di Korea Selatan sudah sering divisualisasikan di drama? Semestinya kehadiran novel yang diterbitkan pertama kali di tahun 2016 ini dijadikan momentum baik untuk mengurai benang kusut isu misoginis di Korea Selatan—andai orang-orang yang menentang Kim Ji-yeong itu mau mengoreksi sudut pandang akut mereka tentang posisi perempuan di lingkungan sosial, maka Kim Ji-yeong adalah angin segar. Sayangnya itu tidak terjadi.
Pelecehan seksual, verbal abuse, dan bentuk diskriminasi lain dalam lingkungan pekerjaan, sudah sering kita saksikan di drama-drama Korea dan kehidupan para artis-artisnya, harusnya itu menjadi kritik sosial yang ampuh untuk menghancurkan pondasi ketidakadilan pada perempuan di Korea Selatan. Saya tidak tahu banyak mengenai produk hukum di negara itu, namun membaca bagaimana penanganan kasus pelecehan pada perempuan yang kerap berat sebelah, saya tidak yakin orang-orang benar-benar menganggap serius isu misoginis. Kasus artis pemeran Boys Over Flower yang bunuh diri itu, lalu kasus mendiang Go Hara yang berlarut-larut dan malah menyerang pribadi Hara—banyak sekali... perempuan-perempuan yang memilih untuk bersuara seolah berusaha diredam dengan macam-macam cara. Mengapa? Apa yang salah pada perempuan?
Isu diskriminasi terhadap perempuan bukanlah hal baru, itu tidak hanya terjadi di Korea Selatan, tapi juga di dunia. Dan di sekitar kita. Selama tiga puluh tahun hidup saya, saya tumbuh dan melihat bagaimana perempuan-perempuan di sekitar saya memanggul kesedihannya sendirian karena diperlakukan tidak adil. Saya kenal seorang perempuan, seorang istri. Ia sudah terbiasa mengalah dalam banyak hal, menerima kesalahan yang bukan miliknya. Saya tidak pernah bisa mengerti. Ketika suatu saat saya bertanya mengapa tidak melawan, ia menjawab saya dengan memasang wajah teduhnya, “demi anak-anak...”
Demi anak-anak sering jadi alasan para perempuan yang telah menjadi ibu, mengorbankan apa-apa yang seharusnya menjadi milik-nya. Pada kejadian lain, seorang perempuan yang menjadi korban perkosaan justru disalahkan orang-orang. Pakaiannya, kata mereka. Jika masalahnya hanya berkisar pada pakaian, lalu bisakah orang-orang bersuara sama ketika pelecehan tersebut menimpa perempuan yang berpakaian sopan? Mengapa perempuannya melulu yang disalahkan? Mengapa kita kerapkali gagal menangkap gambar besar sebuah masalah?
Novel Kim Ji-yeong sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan menjadi internasional best seller—populer tak hanya di Korea Selatan—tidakkah ini menyiratkan memang ada yang salah pada tatanan sosial kita?
Sepatutnya kita sadar bahwa persoalan diskriminasi pada perempuan tidak terbatas pada hal-hal teknis, ada hal-hal mendasar yang sudah mengurat-akar pada masyarakat kita yang kerap memandang perempuan sebagai sebagai objek pelampiasan.
Kim Ji-yeong adalah sebuah kritik keras terhadap tatanan masyarakat sosial dalam pandangan dan perlakuannya terhadap perempuan. Kim Ji-yeong adalah simbol suara-suara perempuan yang dipaksa memilih redam oleh pesimisme, oleh ketakutan, oleh kekecewaan, oleh banyak hal yang membuatnya tampak kerdil tak berdaya... Kim Ji-yeong, sesuai namanya yang populer di tahun 80-an, adalah teriakan frustasi yang mewakili perempuan-perempuan  di Korea Selatan, dan dunia.
Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia....
Dari sekian banyaknya potongan-potongan cerita kehidupan menyakitkan Kim Ji-yeong di novel ini yang membuat saya menghela napas panjang—kesal, marah, sebut saja apa pun itu—saat membacanya, saya tuliskan bagian-bagian paling membekas saja.
Seorang ibu meminta maaf kepada keluarga suaminya karena melahirkan anak
Ketika Kim Ji-yeong lahir, Ibu memeluknya sambil menangis dan meminta maaf kepada Nenek. (Hal. 25)
Karena Oh Mi-sook melahirkan dua anak perempuan berturut-turut, bukan anak laki-laki, sebab itulah ia meminta maaf. .Dan yang paling menyesakkannya lagi, penyambutan kelahiran Jeong Ji-woon tak berbeda jauh dari ibunya, Kim Ji-yeong. Para ibu (Ibu Kim Ji-yeong dan ibu mertuanya) yang sudah tahu rasa dan beban melahirkan anak perempuan semestinya tak perlu lagi mengulang perlakuan yang sama pada Kim Ji-yeong. Luka itu tak perlu diturunkan. Tapi, itulah yang terjadi.
Kesalahan sebesar apakah yang ditanggung seorang perempuan hingga kelahirannya membuat ibunya harus meminta maaf kepada suami dan keluarganya? Bisa dibayangkan, jika kelahirannya saja sudah disambut dingin, bagaimanalah rupa jejak-jejak kehidupannya kelak...
Pelecehan seksual berkedok minum-minum bersama
Terdengar tidak asing, bukan? Saya tidak bisa menyebutkan secara spesifik di drama apa saya pernah melihat adegan semacam ini, tapi saya ingat sudah banyak drama mengangkat isu ini. Perempuan yang bekerja diposisikan di tempat serba salah. Tidak ikut acara minum-minum dipastikan akan mendapat kritik dan respon negatif dari atasan dan rekan kerjanya, ikut—artinya membuka peluang selebar-lebarnya untuk dipermainkan atasannya.
Perlakuan tidak menyenangkan terhadap perempuan hamil
Di salah satu episode Miss Hammurabi dikisahkan dengan sangat baik ketika seorang jaksa perempuan mengalami keguguran karena dipaksa bekerja melampaui jam kerja oleh atasannya.
Perusahaan tempat Ji-yeong bekerja memberikan keringanan keterlambatan tiga puluh menit untuk karyawati yang hamil, namun yang menyakitkan justru datang dari rekan kerjanya yang pria. Mereka—saya merasakan nada sinis—berkomentar, “wah enak sekali. Sekarang kau bisa datang terlambat”, (hal. 138). Itu terdengar seolah-olah Ji-yeong sengaja memanfaatkan kehamilannya ckck. Lalu ini, “orang yang berkeliaran di kereta bawah tanah dengan perut buncit demi mencari uang masih ingin punya anak?” (hal 140), ucapan yang dilontarkan seorang gadis (mahasiswa), BAHKAN SESAMA PEREMPUAN JUGA MEMPERLAKUKAN JI-YEONG SEKASAR ITU! SAKIT.
Saya hanya bisa menyebutkan tiga kejadian di atas, selebihnya silakan baca sendiri novelnya.
Novel ini tak banyak menonjolkan karakter Jeong Dae-hyeon, jadi saya tidak bisa membahas karakternya lebih jauh. Hanya saja sebagai suami, Dae-hyeon memiliki tingkat kepekaan yang minim terhadap penderitaan istrinya. Okelah, Dae-hyeon sudah berinisiatif membawa Kim Ji-yeong ke psikiater, tapi itu bukan satu-satunya jalan keluar untuk menyembuhkan istrinya. Untuk mengembalikan suara Kim Ji-yeong yang hilang, Dae-hyeon harus terlebih dahulu menerima fakta bahwa yang mengambil suara Ji-yeong bukanlah depresi pascamelahirkan melainkan orang-orang, lingkungan yang mengelilinginya, termasuk suaminya sendiri.
Kim Ji-yeong, Lahir 1982 bukanlah tipikal kisah yang mengikuti alur novel biasa, yang pada setiap konfliknya selalu di akhiri dengan kesimpulan—sad ending, happy ending, atau open ending. Tidak ada akhir untuk kisah Kim Ji-yeong. Dan sebagai pembaca, saya tidak menuntut itu. Bagi saya, novel ini sangat sukses membuka mata saya mengenai isu misoginis, diskriminasi perempuan, sistem patriarki di Korea Selatan, yang segera saja menggiring pikiran saya mendekat pada kehidupan di sekeliling saya. Mereka—Kim Ji-yeong-Kim Ji-yeong lain ada dan hidup di dekat kita. Saya tidak tahu riwayat isu itu sudah mengakar jauh lama di sana, yang membutuhkan rangkaian waktu yang tidak pendek untuk bisa, setidaknya, pelan-pelan memperbaiki tatanan yang sudah rusak itu.

Ketika membaca berita bahwa film Kim Ji-yeong merajai chart Box Office di Korea Selatan,  saya bertanya-tanya mungkinkah momentum baik itu telah tiba pada tempatnya yang seharusnya? Semoga saja masyarakat yang bebal ini mau dan mampu mengoreksi dirinya sendiri. Om Gong Yoo aja dibikin nangis gara-gara baca naskahnya dan segera neleponin emaknya, ngucapin makasih. Curiga, yang nggak tersentuh hatinya baca dan nonton kisah Kim Ji-yeong ini jangan-jangan hatinya terbuat dari plastik daur ulang! /maap/
Omong-omong, sambil membaca buku ini, terpikir satu pertanyaan menggelitik di kepala saya. Orang-orang itu, yang mempermasalahkan kehadiran Kim Ji-yeong, yang menganggap dan memperlakukan perempuan seperti barang, seolah-olah perempuan adalah makhluk yang datang dari dunia yang jauh yang kehadirannya membawa petaka, dari manakah mereka terlahir? Batu?
=OoO=
Membaca Kim Ji-yeong, Lahir 1982 ini bikin saya makin mantap untuk selektif memilih drama yang saya tonton. Dulu, awal-awal ngikutin drakor saya gampang banget suka sama tipikal lead male yang sok cool, demen kasar sama lead female-nya, yang tsundere, yang katanya cinta tapi malah seneng ngejatuhin harga diri orang yang disukainya—kesannya romantis gitu, sekarang no way! Jauh-jauh sama karakter kayak gitu. Dan emang sih sadar nggak sadar secara alamiah saya juga udah nggak seneng nonton drama yang karakter utamanya seperti itu. Drama-drama kayak gitu tuh yang sudah membantu menumbuhsuburkan praktek misoginis.
Saya pernah ngomong ke Hafidh soal pergeseran selera ini. Waktu itu saya nyinggung bacaan sih, saya bilang kalau sekarang saya udah nggak terlalu minat baca novel-novel romantis—asli! koleksi buku romantis saya dikiiiiiit banget. Kata dia kurang lebih gini, memang, seiring bertambahnya usia seseorang, referensi bacaannya pun akan berubah. Nah, ini juga (sepertinya) berlaku dalam urusan tontonan drama. Saya cenderung malas mengikuti drama yang cerita dan karakternya, versi logika berpikir saya nggak realistis. Saya nggak ngomongin genre ya.
Saya tidak akan memberikan rating untuk novel ini. Well, POV ini tidak bisa sepenuhnya disebut review karena saya tidak runut membahasnya, lebih banyak membahas isi dan tanggapan dari sudut pandang saya sebagai pembaca ketimbang mengorek hal-hal lain.. Tidak ada kritik, atau masukan. Kelemahan dan kelebihan novelnya tidak saya urai. Saya memang masih harus banyak membaca dan belajar dari review orang-orang. Hehe.
Oya, ini novel terjemahan Korea Selatan yang saya baca setelah Leafie. Dan karena ini buku terjemahan makanya saya enggan membahas diksi berceritanya. Saya menyelesaikan bukunya tidak kurang dari 24 jam bukan karena bukunya enggak menarik, suer, saya nggak pake jurus skip-skip halaman. Saya benar-benar membacanya halaman demi halaman, menyerap setiap paragrafnya dengan serius. Karena sudah masuk jadwal PAS, aktivitas ngajar nggak ada lagi, makanya saya punya waktu luang yang lebih untuk membaca. Lagi pula halamannya tidak terlalu tebal, hanya 192 halaman.
Oke, adakah di antara pembaca MS yang sudah membaca novel ini? Yuk, ngobrol! ^^

Azz—yang sedang patah hati ㅋㅋㅋㅋ

P.s : yang mau ngerekomendasiin buku-buku bagus boleh dong ninggalin komentarnya...


Yeay! Akhirnya saya bikin POV buku pertama di MS, dan ini adalah pertama kalinya  saya nulis POV buku. Seingat saya sih begitu. Jadi, karena ini POV buku pertama saya, mon maap kalau isi-nya nggak sebagus di blog-blog yang lain. Namanya juga masih belajar hehe #ngelestetep jadijurusterjitu.
Tentang novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982, saya memutuskan membeli bukunya di Buka Buku, tobuk online langganan saya, setelah membaca tanggapan teman-teman di medsos terhadap filmnya. Iya. Novel yang kemunculannya telah memicu kontroversi di negara asalnya—Korea Selatan ini memang sudah dibuat versi filmnya, dibintangi Goblin Ahjussi eh Gong Yoo dan Jung Yu Mi. Kabar gembiranya, meski terus mendapatkan protes, versi film Kim Ji Yeong disambut positif penonton. Inilah yang semakin menguatkan minat saya memasukkan novel ini ke keranjang belanja saya mendampingi buku nonfiksi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat-nya Mark Manson.
Karena nggak bisa nonton filmnya—bioskopnya jauh, saya tinggal di pulau—jadi saya baca bukunya aja dulu.
Saya segera membaca Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 begitu bukunya tiba di tangan saya. Saya tidak membutuhkan waktu lama menamatkannya, saya baca di sela-sela pengawasan PAS. Hasilnya? Saya tidak terlalu terkejut dengan apa yang diceritakan di novel yang berjudul asli 82 년생 김지영.
Judul                         : Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis                     : Cho Nam-joo
Alih Bahasa            : Iingliana
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : November, 2019
Blurb
Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang memgharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalan pulang dari sekolah di malam hari.
Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.
Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.
Kim Ji-yeong mulai mengalamu depresi.
Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.
Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.
Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.
***
Dari petikan blurb-nya sudah ketahuan seperti apa potret kehidupan Kim Ji-yeong yang diceritakan di dalam novel ini. Diskriminasi, perlakuan berbeda yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan itu terbaca jelas. Inilah realitas sesungguhnya yang dialami perempuan-perempuan di Korea Selatan. Sekian dekade telah berlalu, namun praktik misoginis, patriarki, masih betah mengakar pada sendi-sendi kehidupan masyarakatnya.
Novel setebal 192 halaman ini memiliki alur maju-mundur yang dibagi menjadi 6 bagian memakai kurun waktu 1982, kelahiran Ji-yeong sampai 2016, mencakup hari kelahiran Kim Ji-yeong, masa-masa sekolahnya, kehidupan pekerjaan hingga pernikahannya, yang pada setiap fase itu kita bisa melihat secara terang-terangan dan gamblang betapa tak adil-nya lingkungan di Korea Selatan memperlakukan perempuan. Dan kehidupan Kim Ji-yeong merangkum seluruhnya tanpa terkecuali.
Kim Ji-yeong terlahir dari seorang perempuan hebat yang meski telah dibuat babak belur oleh pilihan-pilihan yang tidak diinginkannya tapi mesti diambilnya karena ia perempuan, Oh Mi-sook tidak lantas luruh begitu saja dalam ketidakberdayaan. Oh Mi-sook melawan dengan caranya sendiri. Ia adalah sebuah pengecualian. Di dalam rumahnya, Oh Mi-sook memegang peranan besar.
Lihat, Seoul ada di sini. Bentuknya hanya satu titik. Saat ini, kita hidup di dalam titik ini. Walaupun kalian mungkin tidak akan mengunjungi semua tempat yang ada, aku ingin kalian tahu bahwa dunia ini sangat luas.” –Oh Mi-sook (hal 47)
Itulah yang dikatakan Oh Mi-sook pada kedua putrinya saat menunjuk sebuah peta dunia berukuran besar yang tergantung di dinding kamar mereka. Betapa ia ingin agar anak-anaknya tak bernasib sama dengannya—terpaksa memangkas habis mimpi-mimpinya karena tanggung jawab yang harus diembannya, sebab, lagi-lagi karena ia perempuan.
Namun sayang, harapan ibunya gagal mewujud pada Kim Ji-yeong. Karena ia perempuan yang dilahirkan dan tumbuh besar dalam lingkungan yang pelik, yang memandang perempuan sebagai sumber masalah, bahwa perempuanlah yang patut disalahkan bila ada hal-hal buruk menimpanya, Kim Ji-yeong terbiasa menelan bulat-bulat kemarahannya. Perempuan malang itu, entah di mulai dari titik mana, telah kehilangan suara-nya.
Kim Ji-yeong menikah dengan Jeong Dae-hyeon saat dirinya berumur 31 tahun, lalu melahirkan anak pertamanya—Jeong Ji-won setahun setelahnya.
Di suatu pagi, Jeong Dae-hyeon menyaksikan sendiri perubahan aneh terjadi pada diri istrinya. Kim Ji-yeong bertingkah dan berbicara seperti orang lain. Awalnya Jeong Dae-hyeon tidak menganggap serius hal tersebut. Namun ketika Kim Ji-yeong tiba-tiba menirukan Cha Seung-yeon—sahabat Ji-yeong yang sudah meninggal akibat emboli air ketuban saat melahirkan anak keduanya, Jeong Dae-hyeon mulai dihinggapi kekhawatiran.
Kulminasi keanehan juga kesedihan hidup Kim Ji-yeong terjadi pada musim gugur 2015.  Saat itu adalah perayaan Chuseok. Jeong Dae-hyeon mengajak Kim Ji-yeong dan putri mereka mengunjungi orang tuanya di Busan. Di hadapan kedua orang tua Dae-hyeon, Ji-yeong bertingkah tidak wajar. Ia mengomeli ibu Dae-hyeon, mertuanya sendiri. Dan lagi-lagi, saat melakukannya, ia seperti bukan Ji-yeong biasanya. Ia berubah menjadi orang lain. Jeong Dae-hyeon memutuskan membawa istrinya ke psikiater.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Kim Ji-yeong? Benarkah keanehan demi keanehan yang terjadi padanya semata karena depresi pascamelahirkan?
Kilas balik kehidupan Kim Ji-yeong sebelum dan setelah dilahirkan, suasana rumah, perlakuan sistem dan guru-gurunya di sekolah terhadap anak-anak perempuan, kehidupan perkuliahan hingga lingkungan kerja, dan sampai akhirnya ia pada kehidupan pernikahannya, telah membuktikan apa yang dialami Kim Ji-yeong bukan hanya tersebab depresi pascamelahirkan. Itu adalah rangkaian rel panjang kemarahan, rasa ketidakadilan yang mengendap lama, berkarat di lubuk terdalam memori Kim Ji-yeong. Ji-yeong tak mampu lagi menampung lebih lama, maka meledaklah ia. Rel-nya macet. Dunia Kim Ji-yeong berhenti berotasi.
Lalu mengapa Ji-yeong tidak mencoba melawan seperti ibunya?
Seperti yang ditulis Kim Go Yeon-ju, seorang Sarjana Kajian Perempuan di penutup buku ini, ada waktu-waktu di mana Kim Ji-yeong ingin melawan, ingin bersuara namun urung, karena sejumlah alasan. Kim Ji-yeong sudah terlanjur pesimis terhadap suara-nya sendiri. Sebagai golongan minoritas, di tengah ‘masyarakat misoginis’—Ji yeong memilih diam, karena jika pun ia memilih menyuarakan pendapatnya yang berbeda dari nilai-nilai yang sudah mengakar di masyarakat tersebut, maka ia akan dianggap hanya sebagai suara sumbang yang tak jelas artikulasinya. Konsekuensi yang mesti ditanggungnya sangat besar. Terlampau berat untuk ditanggungnya. Begitu pula akhirnya, sudah terang benderang. Peluang dikucilkan, dijadikan bulan-bulanan sangat besar.
Saya teringat potongan kalimat Jang Geurae dari Misaeng, “in life there are many things you start even if you know the end.” Walaupun kita sudah tahu hasil akhirnya, kita tetap memulainya dengan harapan akan terjadi perubahan. Bagi Kim Ji-yeong, berlaku hal sebaliknya. Karena sudah tahu akhirnya, maka ia memilih tidak melakukan apa-apa. Mengapa mencoba sesuatu yang sudah jelas hasil akhirnya. Sebuah sikap kalah yang muncul karena hilangnya harapan. Ironis bukan?
Apa-apa yang diceritakan di dalam novel ini tidak terlalu mengejutkan saya karena kejadian-kejadian yang menimpa Kim Ji-yeong sudah cukup sering kita temukan di drama, sebut saja Misaeng, atau yang paling terbaru—kisah jaksa perempuan yang mengalami keguguran di Miss Hammurabi. Tidak mengejutkan bukan berarti tidak bisa membuat hati saya nyeri, bukan? Kehadiran novel ini kian menegaskan kefatalan sistem sosial memperlakukan perempuan di Korea Selatan, dan dunia pada umumnya.
Di sinilah letak ironinya. Mengapa orang-orang bersuara keras terhadap kehadiran novel ini, padahal jika menyoal isi bukunya, sudah bukan lagi menjadi hal baru? Mengapa harus marah? Tersinggung? Apakah karena Kim Ji-yeong secara blak-blakan menelanjangi kebrutalan pandangan dan perlakukan masyarakat umum terhadap perempuan di sana sehingga orang-orang ini takut akan munculnya gelombang tuntutan perubahan dalam tatanan sosial masyarakat terhadap perempuan? Memangnya apa salah bila perempuan menyuarakan ketidakadilan yang menimpanya? Bukankah perlakuan tidak adil pada perempuan di Korea Selatan sudah sering divisualisasikan di drama? Semestinya kehadiran novel yang diterbitkan pertama kali di tahun 2016 ini dijadikan momentum baik untuk mengurai benang kusut isu misoginis di Korea Selatan—andai orang-orang yang menentang Kim Ji-yeong itu mau mengoreksi sudut pandang akut mereka tentang posisi perempuan di lingkungan sosial, maka Kim Ji-yeong adalah angin segar. Sayangnya itu tidak terjadi.
Pelecehan seksual, verbal abuse, dan bentuk diskriminasi lain dalam lingkungan pekerjaan, sudah sering kita saksikan di drama-drama Korea dan kehidupan para artis-artisnya, harusnya itu menjadi kritik sosial yang ampuh untuk menghancurkan pondasi ketidakadilan pada perempuan di Korea Selatan. Saya tidak tahu banyak mengenai produk hukum di negara itu, namun membaca bagaimana penanganan kasus pelecehan pada perempuan yang kerap berat sebelah, saya tidak yakin orang-orang benar-benar menganggap serius isu misoginis. Kasus artis pemeran Boys Over Flower yang bunuh diri itu, lalu kasus mendiang Go Hara yang berlarut-larut dan malah menyerang pribadi Hara—banyak sekali... perempuan-perempuan yang memilih untuk bersuara seolah berusaha diredam dengan macam-macam cara. Mengapa? Apa yang salah pada perempuan?
Isu diskriminasi terhadap perempuan bukanlah hal baru, itu tidak hanya terjadi di Korea Selatan, tapi juga di dunia. Dan di sekitar kita. Selama tiga puluh tahun hidup saya, saya tumbuh dan melihat bagaimana perempuan-perempuan di sekitar saya memanggul kesedihannya sendirian karena diperlakukan tidak adil. Saya kenal seorang perempuan, seorang istri. Ia sudah terbiasa mengalah dalam banyak hal, menerima kesalahan yang bukan miliknya. Saya tidak pernah bisa mengerti. Ketika suatu saat saya bertanya mengapa tidak melawan, ia menjawab saya dengan memasang wajah teduhnya, “demi anak-anak...”
Demi anak-anak sering jadi alasan para perempuan yang telah menjadi ibu, mengorbankan apa-apa yang seharusnya menjadi milik-nya. Pada kejadian lain, seorang perempuan yang menjadi korban perkosaan justru disalahkan orang-orang. Pakaiannya, kata mereka. Jika masalahnya hanya berkisar pada pakaian, lalu bisakah orang-orang bersuara sama ketika pelecehan tersebut menimpa perempuan yang berpakaian sopan? Mengapa perempuannya melulu yang disalahkan? Mengapa kita kerapkali gagal menangkap gambar besar sebuah masalah?
Novel Kim Ji-yeong sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan menjadi internasional best seller—populer tak hanya di Korea Selatan—tidakkah ini menyiratkan memang ada yang salah pada tatanan sosial kita?
Sepatutnya kita sadar bahwa persoalan diskriminasi pada perempuan tidak terbatas pada hal-hal teknis, ada hal-hal mendasar yang sudah mengurat-akar pada masyarakat kita yang kerap memandang perempuan sebagai sebagai objek pelampiasan.
Kim Ji-yeong adalah sebuah kritik keras terhadap tatanan masyarakat sosial dalam pandangan dan perlakuannya terhadap perempuan. Kim Ji-yeong adalah simbol suara-suara perempuan yang dipaksa memilih redam oleh pesimisme, oleh ketakutan, oleh kekecewaan, oleh banyak hal yang membuatnya tampak kerdil tak berdaya... Kim Ji-yeong, sesuai namanya yang populer di tahun 80-an, adalah teriakan frustasi yang mewakili perempuan-perempuan  di Korea Selatan, dan dunia.
Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia....
Dari sekian banyaknya potongan-potongan cerita kehidupan menyakitkan Kim Ji-yeong di novel ini yang membuat saya menghela napas panjang—kesal, marah, sebut saja apa pun itu—saat membacanya, saya tuliskan bagian-bagian paling membekas saja.
Seorang ibu meminta maaf kepada keluarga suaminya karena melahirkan anak
Ketika Kim Ji-yeong lahir, Ibu memeluknya sambil menangis dan meminta maaf kepada Nenek. (Hal. 25)
Karena Oh Mi-sook melahirkan dua anak perempuan berturut-turut, bukan anak laki-laki, sebab itulah ia meminta maaf. .Dan yang paling menyesakkannya lagi, penyambutan kelahiran Jeong Ji-woon tak berbeda jauh dari ibunya, Kim Ji-yeong. Para ibu (Ibu Kim Ji-yeong dan ibu mertuanya) yang sudah tahu rasa dan beban melahirkan anak perempuan semestinya tak perlu lagi mengulang perlakuan yang sama pada Kim Ji-yeong. Luka itu tak perlu diturunkan. Tapi, itulah yang terjadi.
Kesalahan sebesar apakah yang ditanggung seorang perempuan hingga kelahirannya membuat ibunya harus meminta maaf kepada suami dan keluarganya? Bisa dibayangkan, jika kelahirannya saja sudah disambut dingin, bagaimanalah rupa jejak-jejak kehidupannya kelak...
Pelecehan seksual berkedok minum-minum bersama
Terdengar tidak asing, bukan? Saya tidak bisa menyebutkan secara spesifik di drama apa saya pernah melihat adegan semacam ini, tapi saya ingat sudah banyak drama mengangkat isu ini. Perempuan yang bekerja diposisikan di tempat serba salah. Tidak ikut acara minum-minum dipastikan akan mendapat kritik dan respon negatif dari atasan dan rekan kerjanya, ikut—artinya membuka peluang selebar-lebarnya untuk dipermainkan atasannya.
Perlakuan tidak menyenangkan terhadap perempuan hamil
Di salah satu episode Miss Hammurabi dikisahkan dengan sangat baik ketika seorang jaksa perempuan mengalami keguguran karena dipaksa bekerja melampaui jam kerja oleh atasannya.
Perusahaan tempat Ji-yeong bekerja memberikan keringanan keterlambatan tiga puluh menit untuk karyawati yang hamil, namun yang menyakitkan justru datang dari rekan kerjanya yang pria. Mereka—saya merasakan nada sinis—berkomentar, “wah enak sekali. Sekarang kau bisa datang terlambat”, (hal. 138). Itu terdengar seolah-olah Ji-yeong sengaja memanfaatkan kehamilannya ckck. Lalu ini, “orang yang berkeliaran di kereta bawah tanah dengan perut buncit demi mencari uang masih ingin punya anak?” (hal 140), ucapan yang dilontarkan seorang gadis (mahasiswa), BAHKAN SESAMA PEREMPUAN JUGA MEMPERLAKUKAN JI-YEONG SEKASAR ITU! SAKIT.
Saya hanya bisa menyebutkan tiga kejadian di atas, selebihnya silakan baca sendiri novelnya.
Novel ini tak banyak menonjolkan karakter Jeong Dae-hyeon, jadi saya tidak bisa membahas karakternya lebih jauh. Hanya saja sebagai suami, Dae-hyeon memiliki tingkat kepekaan yang minim terhadap penderitaan istrinya. Okelah, Dae-hyeon sudah berinisiatif membawa Kim Ji-yeong ke psikiater, tapi itu bukan satu-satunya jalan keluar untuk menyembuhkan istrinya. Untuk mengembalikan suara Kim Ji-yeong yang hilang, Dae-hyeon harus terlebih dahulu menerima fakta bahwa yang mengambil suara Ji-yeong bukanlah depresi pascamelahirkan melainkan orang-orang, lingkungan yang mengelilinginya, termasuk suaminya sendiri.
Kim Ji-yeong, Lahir 1982 bukanlah tipikal kisah yang mengikuti alur novel biasa, yang pada setiap konfliknya selalu di akhiri dengan kesimpulan—sad ending, happy ending, atau open ending. Tidak ada akhir untuk kisah Kim Ji-yeong. Dan sebagai pembaca, saya tidak menuntut itu. Bagi saya, novel ini sangat sukses membuka mata saya mengenai isu misoginis, diskriminasi perempuan, sistem patriarki di Korea Selatan, yang segera saja menggiring pikiran saya mendekat pada kehidupan di sekeliling saya. Mereka—Kim Ji-yeong-Kim Ji-yeong lain ada dan hidup di dekat kita. Saya tidak tahu riwayat isu itu sudah mengakar jauh lama di sana, yang membutuhkan rangkaian waktu yang tidak pendek untuk bisa, setidaknya, pelan-pelan memperbaiki tatanan yang sudah rusak itu.

Ketika membaca berita bahwa film Kim Ji-yeong merajai chart Box Office di Korea Selatan,  saya bertanya-tanya mungkinkah momentum baik itu telah tiba pada tempatnya yang seharusnya? Semoga saja masyarakat yang bebal ini mau dan mampu mengoreksi dirinya sendiri. Om Gong Yoo aja dibikin nangis gara-gara baca naskahnya dan segera neleponin emaknya, ngucapin makasih. Curiga, yang nggak tersentuh hatinya baca dan nonton kisah Kim Ji-yeong ini jangan-jangan hatinya terbuat dari plastik daur ulang! /maap/
Omong-omong, sambil membaca buku ini, terpikir satu pertanyaan menggelitik di kepala saya. Orang-orang itu, yang mempermasalahkan kehadiran Kim Ji-yeong, yang menganggap dan memperlakukan perempuan seperti barang, seolah-olah perempuan adalah makhluk yang datang dari dunia yang jauh yang kehadirannya membawa petaka, dari manakah mereka terlahir? Batu?
=OoO=
Membaca Kim Ji-yeong, Lahir 1982 ini bikin saya makin mantap untuk selektif memilih drama yang saya tonton. Dulu, awal-awal ngikutin drakor saya gampang banget suka sama tipikal lead male yang sok cool, demen kasar sama lead female-nya, yang tsundere, yang katanya cinta tapi malah seneng ngejatuhin harga diri orang yang disukainya—kesannya romantis gitu, sekarang no way! Jauh-jauh sama karakter kayak gitu. Dan emang sih sadar nggak sadar secara alamiah saya juga udah nggak seneng nonton drama yang karakter utamanya seperti itu. Drama-drama kayak gitu tuh yang sudah membantu menumbuhsuburkan praktek misoginis.
Saya pernah ngomong ke Hafidh soal pergeseran selera ini. Waktu itu saya nyinggung bacaan sih, saya bilang kalau sekarang saya udah nggak terlalu minat baca novel-novel romantis—asli! koleksi buku romantis saya dikiiiiiit banget. Kata dia kurang lebih gini, memang, seiring bertambahnya usia seseorang, referensi bacaannya pun akan berubah. Nah, ini juga (sepertinya) berlaku dalam urusan tontonan drama. Saya cenderung malas mengikuti drama yang cerita dan karakternya, versi logika berpikir saya nggak realistis. Saya nggak ngomongin genre ya.
Saya tidak akan memberikan rating untuk novel ini. Well, POV ini tidak bisa sepenuhnya disebut review karena saya tidak runut membahasnya, lebih banyak membahas isi dan tanggapan dari sudut pandang saya sebagai pembaca ketimbang mengorek hal-hal lain.. Tidak ada kritik, atau masukan. Kelemahan dan kelebihan novelnya tidak saya urai. Saya memang masih harus banyak membaca dan belajar dari review orang-orang. Hehe.
Oya, ini novel terjemahan Korea Selatan yang saya baca setelah Leafie. Dan karena ini buku terjemahan makanya saya enggan membahas diksi berceritanya. Saya menyelesaikan bukunya tidak kurang dari 24 jam bukan karena bukunya enggak menarik, suer, saya nggak pake jurus skip-skip halaman. Saya benar-benar membacanya halaman demi halaman, menyerap setiap paragrafnya dengan serius. Karena sudah masuk jadwal PAS, aktivitas ngajar nggak ada lagi, makanya saya punya waktu luang yang lebih untuk membaca. Lagi pula halamannya tidak terlalu tebal, hanya 192 halaman.
Oke, adakah di antara pembaca MS yang sudah membaca novel ini? Yuk, ngobrol! ^^

Azz—yang sedang patah hati ㅋㅋㅋㅋ

P.s : yang mau ngerekomendasiin buku-buku bagus boleh dong ninggalin komentarnya...

Continue Reading
Semua akan baik-baik saja saat kamu memasuki usia tigapuluh.
Pesan itulah yang coba disampaikan drama Korea Be Melodramatic kepada penontonnya. Kutipan di atas di ambil dari judul drama yang menjadi bagian cerita Be Melodramatic. Saya nggak akan ngebahas dramanya, saya akan membahasnya di postingan lain. Saya tertarik mengajukan pertanyaan lain kepada diri saya setelah menonton drama tersebut. Jika usia duapuluh dianggap sebagi gerbang peralihan dari remaja menuju kedewasaan, maka tigapuluh adalah angka di mana seseorang telah dianggap mapan. Memasuki bilangan angka ini, seseorang tak boleh lagi terlalu banyak main-main, pilihan-pilihan menyoal hidup sudah tak seramai ketika kamu masih belasan atau dua puluhan. Dan bagi perempuan, seringkali oleh lingkungan sosial angka ini dijadikan patokan mengenai keberhasilan baik itu menyangkut perkara pekerjaan dan urusan pribadi. Saya tumbuh dan besar di lingkungan yang memandang terlambat menikah di usia tiga puluh adalah sebuah persoalan besar. Orang-orang menaruh keingintahuan yang terlalu besar tentang mengapa perempuan yang bersangkutan belum menikah dan kapan kiranya?

Apakah semuanya benar-benar akan baik saja?
Saya bertanya kepada diri saya sendiri.

Kurang dari dua bulan lagi, saya akan memasuki akhir dari usia dupuluhan saya. Tak banyak yang berubah. Beberapa dari sedikit perubahan yang saya alami, misalnya kemampuan saya mengelola emosi yang sudah jauh lebih baik selama lima tahun terakhir, serta upaya saya agar lebih terbuka kepada orang lain dengan meninggalkan lingkup antisosial saya yang parah, perlahan membuahkan hasil. Saya tidak se-introvert seperti yang saya sangka.
Dan saya sudah banyak tertawa.

Saya masih belum yakin, apakah perubahan-perubahan ini menandakan saya sudah sepenuhnya sembuh dari trauma masa lalu. Karena seringnya, pada satu keadaan tertentu saya secara sadar kembali kepada melankoli kesedihan yang familiar—ingatan-ingatan masa lalu yang terang benderang tentang kesakitan dan ketidakmampuan menikmati apa itu namanya kelegaan. Barangkali selama ini bukan kesedihan-kesedihan yang tidak ingin pergi, namun alam bawah sadar sayalah yang menahannya agar tetap tinggal.

Mungkin memang benar adanya. Hidup ada perjuangan melawan serentetan kesedihan yang datang dari berbagai penjuru.

Ketika memasuki usia tertentu, biasanya orang-orang dengan semangatnya membuat target-target yang ingin dicapai, dulu saya juga turut mengamininya—ingin menikah di usia 23 tahun, berkeluarga dan hidup bahagia. Lalu targetnya dimajukan di angka 26 karena beberapa alasan hingga akhirnya saya menyerah dengan target itu sendiri. Akhir-akhir ini, banyak sekali tekanan berupa pertanyaan-pertanyaan yang beruntun datang kepada saya dan ini erat kaitannya dengan bilangan usia saya.

Kapan menikah?
Kenapa belum menikah?

Ah. I don’t think everything will be fine when I’m turning 30...

Pertanyaan kapan menikah akan semakin tidak terelakkan jika kamu telah melewati angka-angka krusial usiamu dan terihat (seolah) masih betah sendiri. Kamu juga tidak akan berdaya untuk sekadar menyalahkan se-siapa yang bertanya, terlebih bila kamu tinggal di lingkungan yang orang-orangnya bersepakat belum menikah di usia 30 adalah sebuah bencana.
Sigh.

Sejujurnya, pertanyaan kapan menikah tidak membuat saya alergi. Saya berusaha semampu saya untuk mengambil sisi postifnya. Saya anggap mereka secara tidak langsung sedang mendoakan agar saya lekas bertemu pasangan sehidup semati saya meski dengan cara yang tidak terlalu menyenangkan. Namun di sisi lain, saya lelah disodori pertanyaan yang saya sendiri pun tidak tahu bagaimana jawaban pastinya. Lalu tanpa disadari efek dari pertanyaan itu telah berkelindan memenuhi ruang-ruang berpikir saya. Saya—seperti orang-orang itu—diam-diam dalam diam rajin menggumamkan pertanyaan kepada diri saya sendiri; kenapa ya saya belum menikah? Jodoh saya di mana? Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia sedang bersama orang lain, hingga datang begitu terlambat kepada saya? Ataukah ia pun juga sedang berusaha mencari saya di belantara waktu? Atau yang lebih sedihnya—kata temen saya sambil bercanda—jangan-jangan jodoh saya belum lahir?

Saya tidak tahu rupa-rupa jawabannya, dan tidak tahu mesti ke mana mencari jawabannya. Satu-satunya yang bisa menjawab hanya Tuhan. Mungkin saja selama ini Tuhan sudah memberikan jawaban-jawaban kepada saya, namun saya yang hatinya sedemikian kerdil dan seringkali alpa ini tak lihai membaca tanda.  Entahlah.

Memasuki usia 30, saya tidak bisa menampik ragam ketakutan dan kekhawatiran yang sudah menunggu. Tak terelakkan. Banyak mimpi-mimpi saya masih membeku di tempat di mana ia dirumuskan. Dan seujujurnya—tanpa saya sadari—menikah tidak pernah menjadi prioritas utama saya. Namun menjadi (sok) cuek dan bermasa bodoh dalam situasi seperti ini bukanlah pilihan yang tepat. Jika hanya berpijak pada diri sendiri, saya bisa saja bersikap nothing to lose—menikah bukan sebuah beban, bukan pula sebuah target yang mesti dikejar sampai dapat. Adalah sosok ibu—mamah saya, yang meski tak begitu nampak, tapi beliau jelas menyimpan kekhawatiran dan kegelisahan yang teramat sangat menyangkut kehidupan masa depan saya. Saya pikir ibu mana pun akan bereaksi seperti Mamah. Terlebih bila selama hampir sepuluh tahun terakhir anak perempuan sulungnya tidak pernah terlihat dekat dengan seorang lelaki.

Lucu mengingat betapa dulu, semasa sekolah, Mamah mewanti-wanti—jika tak mau disebut melarang—agar saya tidak menyeriusi pacaran. Sekolah dulu yang bener, kalau sudah sudah sukses, nanti jodohnya dateng sendiri. Kata mamah saya begitu.

Bukan tersebab larangan Mamah hingga pengalaman pacaran saya cuman seuprit—satu-satunya yang saya anggap serius hanya cinta pertama saya HAHAHAHAH DEMI APAAAAHHHH. Ya begitulah. Seringnya, inisial-inisial nama yang inginnya dengan mereka saya serius—tak pernah benar-benar menyentuh isi cerita, sebatas rumusan yang gagal. Mengenai tipe ideal, saya tidak pernah memasang standar tinggi—untuk apa coba? Mengutip dari Novel Aditya Mulya, Sabtu Bersama Bapak, “membangun sebuah hubungan butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan.”

Saya ingin bertemu laki-laki seperti yang dikatakan tokoh Saka itu.

Hhhhhhhh. Saya tidak bisa egois mementalkan begitu saja ekspresi penuh harap Mamah setiap kali—bila secara tak sengaja—obrolan kami menyerempet ke urusan nikah. Ditambah makin mengecilnya jumlah teman seangkatan saya yang sudah mengakhiri masa lajangnya. Wajar bila Mamah khawatir. Anak perempuannya masih sendiri di usia di mana beliau dulu telah memiliki saya dan kedua adik saya (si bungsu lahir saat mamah saya 35 tahun).

“Banyakin doa. Mendekat sama Allah. Minta sama Allah supaya didekatkan jodohnya. Tahajud. Shalat,” ucap Mamah di akhir kalimatnya. Pesannya tidak pernah berubah. Selalu seperti itu.

Kalau sudah seperti itu, sodokan rasa bersalah seketika menyentuh ulu hati saya. Mamah seperti bisa membaca kelakuan saya. Saya tidak mau berbohong. Trauma masa lalu masih menggenapi hari-hari saya. Sama seperti perempuan kebanyakan, saya pun ingin menikah. Tapi di di bagian lain hati saya, masih kental ketakutan untuk menjalani kehidupan bersama orang lain di bawah satu atap. Kepada sahabat, saya pernah terang-terangan mengungkapkan ketakutan saya untuk menikah. Saya takut bertemu orang yang salah. Saya takut memori-memori menyakitkan masa kecil hingga remaja saya yang terekam di otak akan direka ulang dengan saya sebagai pelakon utamanya. Saya benar-benar takut. Maka di ujung pergolakan batin itu, saya hanya bisa mendesah pasrah. Dan lagi-lagi saya gagal pro aktif mengetuk pintunya Allah.

Kata sahabat saya, saya harus banyakin Istigfar. Minta maaf sama Allah. Mungkin dulu saya pernah melontarkan kata-kata yang tidak bagus, dan tentu saja setiap kata yang kita keluarkan telah mewujud doa, sudi atau tidak sudi.

Kadang kepikiran, melihat anak-anak, mengakrabi mereka, mendengar celoteh bebas mereka, saya membatin akan seperti apa rasanya bila saya bermain dengan anak-anak saya sendiri? Menyaksikan mereka tumbuh berkembang.... Luar biasa mengingat betapa dulu saya enggan bersinggungan dengan anak-anak, dan sekarang justru sebaliknya, anak-anak menjadi magnet kuat yang selalu berhasil menarik perhatian saya—kecintaan saya kepada mereka begitu dalam di hati saya. Juga, sering ada waktu-waktu di mana saya tak sadar berharap ada seseorang di samping saya yang akan dengan sabar menanggapi lompatan-lompatan pikiran saya mulai dari hal-hal remeh hingga yang topiknya serius. Tampaknya, tubuh dan pikiran saya mengikuti porsinya secara alamiah.

Well, saya tidak ingin menjadikan urusan menikah ini sebagai beban. Alih-alih memikirkannya sampai kepala sakit, saya akan membiarkannya mengalir begitu saja, nggak mau ngoyo, seraya—tentu saja memperbaiki niat dan kualitas diri saya.
Saya tidak tahu apakah saya akan baik-baik saja ketika memasuki usia tiga puluh saya. Saya ingin baik-baik saja, senantiasa sehat dan bahagia. Saya ingin menikmati hidup saya.



Setelah namatin Put Your Head on My Shoulder beberapa bulan lalu, saya bergerilya nyari-nyari drama China yang kira-kira cocok sama selera saya. Gak gampang nyarinya soalnya selama ini saya fokusnya sama drama Korea aja, gak familiar sama drama China. Untungnya nih, gak susah nyari link donlotan C-Drama, di Youtube banyakkk. Yaa mungkin karena Put Your Head on My Shoulder nancep banget di otak sampe bikin saya gak gampang ngeklik sama drama-drama China yang saya coba nonton—itu tuh saking niatnya, saya bela-belain search di Google drama-drama China populer. Saya donlotin tuh satu-satu, tapi yaaa itu tadi—gara-gara efek Put Your Head On My Shoulder masih nancep kuat di otak, saya kesulitan menikmati drama-drama tersebut.
Trus gimana ceritanya bisa nemu Le Coup De Foudre?
Saya gak sengaja liat twit-nya Ori tentang drama ini. Langsung aja deh penasaran, karena selama ini suka samaan selera ngedrama saya dan Ori—sejak kenal pertama kali melalui Healer (semoga ingatan saya nggak keliru). Gak pake lama saya coba donlot ep 1 Le Coup De Foudre dan SUKA! Dramanya asik, relatable, materi ceritanya memuat aspek-aspek hidup yang kita hadapi sehari-hari—masalah keluarga, hubungan orangtua dan anak, sekolah, besarnya tekanan gimana cara menemui masa depan dengan selamat, jatuh cinta, persahabatan, pandangan mengenai pernikahan. Le Coup De Foudre punya semuanya! Konflik-konflik kehidupan yang selama ini berkelindan dalam pikiran-pikiran kita.
DAAAAAAAAN LEAD MALE-NYA UNIK! ㅋㅋㅋㅋ
Banyak banget yang pengen saya omongin tentang drama Le Coup De Foudre, dan ini juga yang bikin saya kuatir. Jangan sampe review saya gagal menyampaikan kepada pembaca betapa berharga-nya drama berjumlah 35 episode ini. 35 episode bbookk! Jarang banget tuh saya mau nonton drama ber-episode banyak. Anehnya, saya OGAH BANGET ninggalin drama satu ini walaupun storyline-nya hanya berputar di kehidupan Qiao Yi dan Yan Mo serta orang-orang disekitar mereka. Salah satu alasan saya betah ngikutin Le Coup De Foudre adalah tone penceritaannya sederhana tapi gak murahan. Petikan-petikan dialognya nggak kosong. Nggak ada satu pun saya temui wasting scene. Andai aja saya full-time blogger saya nggak akan ragu-ragu bikin review per episodenya. KEREN BANGET SOALNYA. Ceritanya asik, chemistry antar-karakternya luar biasa kuatnya—nggak ada alasan untuk nggak nonton Le Coup De Foudre!
Jadi nih, kalau kamu nyari drama ringan tapi berisi yang manis-nya kayak gula, yang bisa bikin hati berdesir alus seperti ditiupin angin seopi-sepoi pas lagi panas-panasnya, dan drama yang bikin kamu nyusut sudut mata karena terharu, saya rekomendasiin Le Coup De Foudre! Trust me! You won’t regret!
Tau nggak drama apa yang seketika nongol di kepala saya ketika nonton Le Coup De Foudre? Il Gup Palpal! Reply 1988. Saya nggak bilang Le Coup De Foudre niru Reply 1988, tapi kesederhanaan dan kesantunan yang dimiliki Le Coup De Foudre-lah yang ngingetin saya sama Reply 1988. Saya suka drama seperti ini. Tipikal drama yang akan saya inget hingga bertahun-tahun lamanya, dan saya nggak akan sungkan rewatch dramanya. Lagi dan lagi.
Btw, ada satu scene yang nunjukkin Qiao Yi lagi nonton Reply 1988—Qiao Yi masuk tim Junghwan pemirsah wkwk.
Sinopsis
Mengutip dari Wikipedia, Le Coup De Foudre (Love at First Sight) merupakan web drama China yang diangkat berdasarkan Novel berjudul I Don’t Like This World, I Only Like You (我不喜欢这世界,我只喜) yang ditulis Qiao Yi. Drama ini disiarkan pertama kali pada 29 April sampai 5 Juni 2019 melalui Tencent dan Youku. Novel I Don’t Like This World, I Only Like You berisi kisah perjalanan cinta Qiao Yi dan suaminya sejak bangku sekolah, kuliah, hingga akhirnya menikah.
Kisah tersebut kemudian divisualisasikan kembali ke dalam bentuk drama.
Saat pembagian posisi duduk di kelas, Qiao Yi berada di peringkat dua terakhir. Dia dituduh berbuat curang saat ujian makanya peringkatnya amblas bablas. Nah, saat itu ada aturan, mereka bisa milih tempat duduk berdasarkan peringkat. Yang paling enak sih siswa yang peringkatnya bagus. Qiao Yi yang urutannya berada di ujung antrian terakhir akhirnya hanya punya tiga pilihan dan semuanya (menurut dia) serem-serem; pilihan pertama duduk sama si tukang gombal yang males cuci rambut (TOLONGIN QIAO YI),  pilihan kedua duduk sama Fei Dachuan—cowok yang punya body gede. Siswa pindahan, denger-denger doi dikeluarin dari sekolah sebelumnya karena mukul gurunya (KURANG SEREM GIMANA COBA). Pilihan ketiga, Yan Mo—si ranking satu yang luar biasa dingin­-nya, saklek, irit ngomong, ga punya ati sama sekali pas ulangan. Kalau kamu jadi Qiao Yi, kamu bakal milih yang mana?
Dan Qiao Yi menjatuhkan pilihannya pada Yan Mo, ia duduk di dekat cowok itu. Sontak seluruh warga kelasnya shock gak percaya dengan kenekatannya Qiao Yi. Kurang lebih reaksinya kayak—HAH, BERANI MATI BANGET LO DUDUK DEKET PATUNG ES YANG PUNYA TATAPAN TAJAM SETAJAM GOLOK YANG DIASAH TIAP HARI ITUU?! Kasian banget Qiao Yi, mana sodara kembarnya si Zhao Guanchao ngasih gestur gorok leher pulak! Nggak nolong sama sekali! Horor pisan euy. .
Berawal dari situlah sejarah kehidupannya Qiao Yi dan Yan Mo. Jatuh bangunnya hubungan dua insan berbeda karakter ini. Yang satu cewek ajaib dengan segala macam keriuwehannya, satunya lagi cowok pendiem bin cool, yang minim banget ekspresi wajahnya. Sumpah, pertama kali liat dia pengen saya timpukin pake buku 300 lembar halaman HAHAHAHA. Maafkeun...
Cast dan Characters
Saya nggak familiar dengan artis-artis China. Mon maap.
Wu Qian/Jenice Wu as Zhao Qiaoyi
Gadis baik hati yang memiliki jiwa optimisme yang tinggi. Ceria sekali anaknya, Tapi sayangnya sejak kecil Qiaoyi menderita self-esteem yang rendah, nggak percaya dirinya tinggi banget. Minderan gitu, terlebih dalam hal pelajaran. Dibanding sodara kembarnya yang selalu masuk ranking teratas, Qiao Yi memang selalu tertinggal jauh. Gadis berhati lembut ini bercita-cita menjadi Produser acara televisi. Namun, ketika ia sudah semakin dekat dengan mimpinya itu, Qiao Yi mutusin berhenti demi ngejar Yan Mo. Ia bela-belain pindah ke perusahan yang baru dirintis Yan Mo bareng Fei Dachuan. Qiao Yi nge-fans berat sama Jay Chou. Kek nggak banget ya kedengarannya? Cewek ninggalin pekerjaannya yang menjanjikkan demi seorang cewek—kalau nggak nonton kamu mungkin akan berpikir demikian. Tapi coba deh dinonton dramanya...
Jenice Wu cantik banget. Bening. Senyumnya itu loh.. saya aja yang cewek terpesona. Her smile is contagious.
Zhang Yu Jian as Yan Mo
“You are my soft spot. The only consequence I can’t take.” –Yan Mo to Qiao Yi
Cowok pendiem yang punya tatapan tajam. Si saklek. Pinter, pinter banget. Nggak suka basa-basi. Langganan juara satu di angkatannya—bayangin dari ratusan siswa, dia juara satu mulu. Makanannya sandwich sama aer putih, bajunya kaos putih nggak ada yang lain, selemari isinya itu doang—Ya Allah bosen amat idup lu bang. Ngomong-ngomong Yan Mo cuman makan sandwich tiap hari kok bisa sepinter itu ya? Dan bisa menjulang gitu badannya padahal asupan empat sehat lima sempurnanya nggak terpenuhi, doi udah kek tiang jemuran belakang rumah saya.
Zhao Zhi Wei as Zhao Guangchao
“Yes, you are beautiful, but my sister is my bottomline.” –Guanchao, ep 4
Sodara kembar-nya Zhao Qiao Yi. Cowok terpinter kedua di kelas setelah Yan Mo. Hobi-nya tepe-tepe sama cewek. Genit. Ga bisa diem kalo liat cewek bening, udah bawaan dari kecil gitu—belakangan ketahuan alasan kenapa Guangchao lebih seneng pacaran nggak serius daripada yang menjurus ke nikah. Seneng banget ngegodain dan ngusilin adeknya. Tapi jangan ditanyain level sayangnya ke adek dan keluarganya—its beyond your expectation!  Guangchao nggak tegaan liat adeknya sedih. Apapun bakal dia lakuin supaya adeknya bahagia. Kakaknya Qiao Yi terbaek seluruh dunia.
Jaman sekolah saat ditanya wali kelasnya mau ngambil profesi apa nanti, Guangchao nyebut pilot tanpa ragu-ragu. Ternyata dia malah jadi dokter.
Ma Li as Hao Wu Yi
Sahabat dekatnya Qiao Yi. Satu-satunya di dunia. Tomboi. Nantinya dia jadi seorang penulis novel sukses. Wu Yi sayang sama kakaknya Qiao Yi.
An Ge as Fei Dachuan
Gara-gara body-nya yang gede dan tampangnya yang galak, dia disangkain tukang bully wkwk. Padahal mah tampang doang galak, aslinya pria berhati bunga. Oya, Fei Dachuan ini om-nya Yan Mo.
Zhang Rui Ying as Cheng Youmei
Temen masa kecilnya Yan Mo yang semangat banget ngejar-ngejar Yan Mo, tapi sama Yan Mo-nya nggak digubrisin. Belakangan May jadiannya sama om-nya Yan Mo, Fei Dachuan.
My Two Cents
“Some biases will be changed with time, but some won’t. We misread others and are also misread by others. One who seems to be fierce actually is kind. Smart people work hard in their spare time. The one who is like a cold fish also has a warm heart. In fact, the stupidest guy also tries to work hard. All can be seen are not facts. The truth needs to be proved by time.”  -Qiao Yi, episode 2
Le Coup De Foudre dibuka dengan scene wawancara Qiao Yi dan Yan Mo. Nggak pernah dijelasin dalam rangka apa mereka diwawancara. Namun melalui wawancara tersebut diketahui Qiao Yi dan Yan Mo sudah menikah dan itu adalah tahun keempat pernikahan mereka.
Scene itu bikin saya narik napas lega—setidaknya nggak akan ada aksi main tebak-tebakan siapa nikah sama siapa karena udah ketahuan sejak awal. Mon maap, mbak-nya trauma ㅋㅋㅋ
Pada kebanyakan drama yang saya nonton, episode plot seringnya ninggalin puzzle demi puzzle yang akan terungkap seiring berjalannya waktu *cough*. Alur drama romance nggak akan jauh-juh dari format; kenalan-pedekate-pacaran-putus-baikan-tamat. Le Coup De Foudre tidak seperti itu. Vibe drama ini menenangkan dan menyenangkan—sedihnya ada hepinya ada, saya nggak sadar episode demi episode berlalu, dan di setiap episodenya selalu ada hal-hal positif yang saya temukan. Le Coup De Foudre ber-genre drama romantis, tapi nyatanya isi dramanya nggak melulu fokus pada part romantisnya. Total 35 episodenya memuat perkembangan karakter-karakter-nya tentang perspektif mereka soal hidup, tak terkecuali karakter pendukung. Kayaknya motto drama ini adalah keep moving forward. They are growing up through episode by episode.
Saya sudah bilang di awal tulisan ini kalau saya kuatir tulisan saya gagal menyampaikan bahwa betapa berharga-nya Le Coup De Foudre. Sedih rasanya saat saya nyari review dramanya di Google—masih sedikit dan kebanyakan blog berbahasa Inggris. Saya ingin mereka yang belum menonton drama ini akan memutuskan—setidaknya—nyoba dua-tiga episodenya setelah baca postingan saya, saya ingin mereka membuktikan kalau saya tidak berbohong, bahwa Le Coup De Foudre sayang untuk dilewatkan. Berikut saya sebutin apa saja yang membuat saya muji Le Coup De Foudre setinggi-tingginya.
Nggak ada karakter antagonisnya
Saya ngomong gini bukan berarti drama yang punya karakter antagonis itu jelek. Karena Le Coup De Foudre genre-nya romantis, saya pikir kehadiran tokoh antagonis—orang ketiga, keempat, kelima dst—akan membuat drama ini tak berbeda dari drama romantis kebanyakan. Konflik drama ini udah cukup bagus tanpa orang ketiga. Btw, saya ngerasa l Le Coup De Foudre lebih tepatnya disebut drama keluarga ketimbang drama romance.
Nilai tambah drama ini adalah dengan menjadikan setiap karakter memiliki sisi antagonisnya masing-masing—bukankah tokoh antagonis sesungguhnya memang berasal dari diri kita sendiri?
Bapak tiri rasa kandung
Udah pada tau kan stereotype-nya Bapak Tiri di masyarakat kita? Nggak terlepas dari yang negatif—jahat, kejam bla bla bla... Tapi Bapak Tiri di Le Coup De Foudre ngalahin baeknya bapak kandung sendiri. . 
Qiao Yi dan Guanchao memiliki masa kanak-kanak yang keras dan meninggalkan luka yang mereka bawa hingga dewasa, dan bahkan turut memengaruhi arah berpikir anak kembar ini mengenai gambaran masa depan yang ingin mereka miliki. Kedua orang tua Qiao Yi-Guanchao berpisah saat usia mereka enam tahun. Qiao Yi kerap mendapatkan pelakuan kasar dari ayahnya. Pernah, karena perlakuan kejam bapaknya, gadis itu harus menjalani operasi. Kejadian itulah yang membuat ibunya memilih berpisah. Beberapa tahun kemudian Zhao Suying—ibu Qiao Yi dan Guanchao—bertemu Tian Weimin, seorang polisi baik hati. Pria itu menolong Qiao Yi yang tersesat ketika sedang bermain dengan Guanchao. Tersentuh dengan kebaikan Tian, Suying pun bersedia menikah dengan pria itu meski usia terpaut jauh. Sebuah pilihan tepat, Tian pria yang baik.
Tian Weimin is a funny guy—nginget-nginget tingkahnya aja bisa bikin ketawa ㅋㅋㅋㅋ. Dia sayang banget sama Qiao Yi dan Guanchao—dia siap mempertaruhkan hidupnya demi anak-anaknya. Saya berkali-kali dibuat terharu sama Tian Weimin. Bapak yang penyayang dan selalu ada untuk Qiao Yi dan Guanchao, seringkali jadi sekutu si kembar ini. Ngakak dong liat mereka bisik-bisik ngegocipin Mak Suying di meja makan. Lucu banget liat Tian Weimin yang selalu kedapatan sama istrinya lagi megang botol minuman keras , ia dilarang keras minum HAHAHA. Udah disembunyiin di tempat paling rahasia pun pasti ketahuan. Suying semacam punya mata di mana-mana yang mengintai pergerakan suaminya ㅋㅋㅋㅋ
Kelakuan keluarga Zhao tuh kek nyata banget, bisa kita lihat pada keseharian keluarga-keluarga di sekitar kita. Bukan sesutu yang utopis. Potret keluarga bahagia yang saling melindungi satu sama lain. Lantas apakah mereka tidak pernah terlibat konflik? Pernah. Tapi, seperti katanya Qiao Yi,
“Family is everyone’s weakness. It makes you fragile. But after tears, you will incomparable strong.” –Qiao Yi, ep 8
Keharmonisan keluarga Zhao sangat menginspirasi. I’m not kidding.
Le Coup De Foudre punya Super Mom
Di scene Suying dan Tian ngelepas Qiao Yi yang bakal menetap di Beijing untuk urusan pekerjaan, saya teringat orangtua saya dulu sewaktu melepas saya kuliah ke kota orang, mirip banget. Trus yang scene-nya Qiao Yi merasa terganggu oleh telepon ibunya yang terlampau sering. Padahal ibunya melakukan itu selain karena kangen anaknya, juga karena khawatir. Ibu-nya sampe dijagain berita tivi demi liat ramalan cuaca di Beijing. Makanan juga dikirimin ke tempatnya Qiao Yi  supaya Qiao Yi sering-sering ngajak makan temen-temen kantornya, tapi gadis itu malah salah paham .
“Growing up,  I don’t remember how many things I’ve done to hurt her. Because she is the most intimate person. I always lose my temper over her. My mom is my whole world. She’s the most talkative person but she is the easiest to comfort. Because she loves me more than I love her...” –Qiao Yi, ep 20
Qiao Yi seperti bisa membaca pikiran saya. Apa yang diucapkannya tentang ibunya setelah menyadari kesalahannya, adalah apa yang pernah saya katakan (sambil nangis) kepada diri saya sendiri, tentang mama saya. Di scene itu saya ikut nangis bareng Qiao Yi.
Yan Mo is (not) just an Ordinary Man
Coba deh cari cowok yang udah ditolak berkali-kali tapi masih setia nunggu yang nolak dia sampe bertahun-tahun padahal nggak ada jaminan penantiannya akan berbuah manis. Setia-nya Yan Mo tuh bikin meleleh. Sulit dipercaya. Sampe ponsel Nokia bututnya masih disimpen berikut nomer hpnya—berharap suatu hari Qiao Yi akan menghubungi nomornya. DUH. Tuhan, mau dong yang kayak Yan Mo... #NgarepBangetLoMbak
Yan Mo bukan tipikal lead male tsundere yang biasa kita lihat di drama-drama romantis. Emang sih cool di luar tapi soft di dalem (catet; bukan sok cool ya), tapi Yan Mo-nya nggak kasar sama Qiao Yi atau sok jual mahal. Yan Mo is Yan Mo—cowok ganteng bin pinter yang nggak tau gimana cara menunjukkan perasaannya, kaku, jarang senyum tapi giliran doi bertindak—dunia seakan berubah jadi warna pinkeu-pinkeu, bunga-bunga bertebaran di mana-mana dan yang nonton (wabilkhusus jomlo langsung gigit-gigit ujung bantal) HAHAHAHA. Smooth meeeeeeeeeeen.
Beruntungnya Qiao Yi . SAYA CEMBURU BERKUBIK-KUBIK!!! .
Ada scene Qiao Yi telat pulang, pulangnya udah malem banget. Bukan Qiao Yi namanya kalo nggak bisa nyari alasan, dan bukan Yan Mo namanya kalo dia ngebiarin Qiao Yi lolos gitu aja. Yan Mo dengan tenangnya ngambilin istrinya air minum sambil ngomong pelan—kurang lebih seperti ini, “aku ngelakuin ini bukan berarti kamu dimaafin,”  Marahnya bukan yang kayak gimana-gimana, tetep care sama istrinya. #BAPERNOMOR777
Ngakak liat Yan Mo cemburu, jadi rada-rada absurd gitu mas-nya (melampaui ke-absurdan istrinya) HAHAHAHA. LUCUUUUUU. GEMESIIINNYA PAKE BANGET. Dan siapa yang nggak mesem-mesem otw meleleh ngeliat Yan Mo ngikutin permainan absurd Qiao Yi? Scene di hotel! *KETAWASETAN*
We Love Friendship!
Selain urusan romansa dan keluarga, Le Coup De Foudre juga menyuguhkan ikatan persahabatan yang kental antarkarakter, sebut saja Qiao Yi dan Hao Wu Yi—friendship goals banget. Selalu ada di saat-saat sulit dan bahagia. Sempat berselisih namun itu justru kian mempererat persahabatan mereka.
Nggak boleh dilupa juga, betapa supportif-nya Fei Dachuan terhadap Qiao Yi dan Yan Mo. Fe Dachuan sampe ngomong ke Yan Mo—gue akan brenti nonton drama romantis kalo lo berdua gak jadian! HAHAHAHA
... and of course we got a happy ending!
RATING
★★★★
4/5
Drama ini berhasil mendefiniskan makna keluarga dengan sangat baik. Saya paling suka saat-saat di mana setiap karakter berjuang melewati satu fase krusial yang setelahnya akan kian mendewasakan pola pikir serta memperbaharui sudut pandang mereka. Saya nggak ngebahas gimana Yan Mo menghadapi masalah keluarganya, tapi jujur saja momen-momen tersebut sangat menyentuh.
Saya menutup postingan ini dengan sebuah kutipan favorit saya dari Guanchao,
“Don’t fear. We just meet a red light for a moment.”
Tabik,
Azz (yang lagi patah hati)
HAHAHAHAHA *fake laugh*

[Review C-Drama] Le Coup De Foudre

by on 10/22/2019 03:54:00 AM
Setelah namatin Put Your Head on My Shoulder beberapa bulan lalu, saya bergerilya nyari-nyari drama China yang kira-kira cocok sama se...