[Pieces of Me] It Takes Time

/ 12/31/2019 07:51:00 AM
“Apa jadinya jika saya benar-benar menikah di usia 23 tahun seperti keinginan saya dulu?”

Saya sedang membuka-buka lembaran sebuah novel favorit saya di kamar ketika sepotong tanya menggelitik itu muncul di kepala saya. Ya, apa jadinya saya? Apakah saya akan baik-baik saja? Bila mengingat kondisi mental kejiwaan saya selama sepuluh tahun terakhir, maka saya—dengan nada yakin dan penuh kesedihan—bisa menjawab, tidak. Saya tidak akan baik-baik saja. Saya (mungkin) memiliki keyakinan menggebu-gebu pada saat itu, bahwa saya bisa melewati hari-hari yang sulit dengan pasangan saya, tapi saya yang saat ini bisa melihat jelas, kenyataan tidak akan seindah yang saya bayangkan. Saya tidak memiliki kesabaran tanpa batas seperti ibu saya, saya di masa lalu ibarat sekam kering, dengan kondisi mental yang tidak stabil, reaktif seperti Hidrogen, sedikit percikan saja akan membakar diri saya sendiri, juga pasangan saya. Potensi saya untuk membuat seluruhnya berantakan sangat besar. Oh, tidak. Saya tidak sedang meragukan dan menjatuhkan diri sendiri dengan semena-mena, memang sudah seperti itulah gambaran keadaan jika saya benar-benar menikah di usia 23 tahun, seperti keinginan saya dulu. Menikah bukan soal kita ingin atau belum, tapi soal kesiapan kita menempuh perjalanan asing, yang menuntut kecakapan kita menerima dan menjalani hal-hal baru, dihidupi olehnya. Jika menikah dalam keadaan mental yang kacau, maka saya tak ubahnya sedang menciptakan neraka baru bahi hidup saya.

So, what are you really talking about, gurl? Still talking about marriage like before?
HAHAHAHA. Nope. I’ll talk about something else. Bear with me, okay?

Sebenarnya pertanyaan itu hanya satu dari sekian banyak deret tanya yang diawali kata jika, andai, misal yang semuanya itu erat hubungannya dengan waktu-waktu yang sudah saya lewati. Masa lalu.

Jika saya tidak pernah memutuskan pacar saya karena tidak ingin berada dalam situasi penuh kepura-puraan, apakah saya akan baik-baik saja?
Jika saya lulus tepat waktu, akan seperti apa dunia kerja yang saya tinggali? Apakah itu jenis pekerjaan yang membuat saya betah?
Jika saya benar-benar meninggalkan rumah kala itu, pergi ke tempat yang jauh, meninggalkan unfinished problems—lari, apakah itu berhasil membuat saya sembuh?
Jika saja saya tetap percaya bahwa saya lebih baik menutup pintu hati saya rapat-rapat...
Jika saja saya tetap percaya bahwa saya tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk hidup saya...
Jika saja saya memutuskan tetap tinggal di dalam keyakinan bahwa saya bukan orang berhati hangat, bahwa saya jahat, bahwa saya judes, ketus, membenci laki-laki sepenuh hati, bahwa bersikap dingin adalah jurus terjitu melindungi diri sendiri dari luka dari kekecewaan, dari apa-apa yang telah dan bisa membuat saya babak belur... jika saya tetap memercayai itu semua saya tidak akan pernah mampu menghadapi diri saya sendiri, selamanya saya akan percaya bahwa saya adalah korban dari kegagalan orang-orang dewasa mengatasi ego mereka sendiri.

... Hari-hari panjang yang saya lewati yang acapkali disebut hari yang gagal itu, nyatanya telah membantu saya menemukan jalan pulang. Berdamai dengan diri sendiri.
Melepas usia 20-an, saya mencoba menoleh sekali lagi pada tahun-tahun panjang itu, betapa banyak pertolongan yang Allah berikan kepada saya agar tetap mampu merawat kewarasan. Dulu, saya berpikir hidup saya terlanjur berantakan, tidak bisa diperbaiki lagi, nyatanya, pandangan saya terlampau picik. Saya terlalu cepat menghakimi proses yang sedang saya jalani. Jika saya tidak mengalami hal-hal buruk itu, saya tidak akan menjadi saya yang sekarang.

It takes time.

Butuh waktu yang panjang bagi saya hingga bisa sepenuhnya pulih dari luka yang dirawat dengan telaten oleh diri saya sendiri, untuk menerima kenyataan bahwa kita yang dibesarkan kesakitan-kesakitan sesungguhnya adalah sosok yang kuat, bahwa melalui itu semua, hati dan nurani kita diasah agar lebih peka, lebih sabar, lebih tabah—they say everything happens for reason.  Kita bisa saja mengalami kesakitan serupa, tapi alasan mengapa harus kita yang mengalaminya, bisa jadi berbeda. Pun prosesnya. Tidak pernah ada yang benar-benar sama. Tapi, dengan melalui itu semua, kita jadi tahu seberapa mampu kapasitas hati kita menampung kesedihan. Dengan melalui itu semua, kita bisa mengantisipasi agar kelak, kejadian-kejadian buruk itu tidak perlu diwariskan. Bahwa perjalanan setiap luka akan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, dan diri kita sendiri. Hanya jika kita berani dan mau belajar.

It takes time.

Setiap nama menyimpan ceritanya sendiri. Dan setiap cerita tidak selalu punya alur yang manis, yang bahagia. Selalu ada cerita yang stuck di titik yang sama, tidak ke mana-mana. Juga ada cerita berulang dengan objek yang sama namun memiliki ending berbeda. Bila setiap nama diibaratkan buku, maka buku saya berisi banyak sekali cerita kegagalan. Gagal menemukan warna diri, gagal memeluk kata maaf dengan setulus hati, gagal mengurai kemarahan yang bertumpuk-tumpuk—saya pernah terbiasa membenci hidup saya, membenci orang-orang yang menempatkan saya di titik kesakitan paling dalam. Pernah, saking sesaknya dada saya menahan beban, beberapa kali saya ingin berteriak sekeras yang saya bisa dan hanya berakhir menangis sesenggukan sembari membekap mulut saya dengan bantal. Sekali waktu, saya pernah mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika pergelangan tangan saya disentuh pinggiran silet yang tajam dan dingin itu... Saya percaya orang-orang yang mengenal saya di real life tidak akan memercayai saya pernah mengalami depresi. Karena bagi mereka, saya terlihat baik-baik saja. Saya terbiasa menyimpan semuanya sendirian, maka begitulah...

Saya ingat, suatu ketika pernah meminta tolong kepada Teh Wiwit agar dikenalkan kepada seorang psikolog atau psikiater, kalau-kalau beliau punya teman—itulah saat-saat saya sering memikirkan bunuh diri sebagai jalan terbaik. Alhamdulillah, saya masih ditolong Allah hingga saya akhirnya berhasil mengabaikan.jalan terbaik versi pikiran gila saya itu.

 “... jangan lebay deh, jangan manja, jangan cengeng, tuh liat di luar sana masih banyak orang yang masalahnya lebih berat dan mereka masih bisa menahannya.” Please, jangan ngasih kata-kata semacam ini kepada mereka yang sedang berjuang mengatasi masalahnya, meskipun niatmu untuk menguatkan. Itu tindakan keliru. Toxic. Banyak mental illness lahir karena orang-orang memilih menyimpan sendiri masalah-nya.

Everyone has their own story. You can’t judge them based on your own perspective.
Dan lagi hidup tidak melulu soal membandingkan luka siapa yang paling dalam paling sakit paling babak belur. Temanmu menceritakan kesulitan-kesulitannya kepadamu, bukan berarti dia lemah, bukan berarti ia ingin dikasihani, mungkin saja ia hanya ingin didengar. Sebatas itu.
Kita dianugerahkan Tuhan kemampuan berbeda-beda dalam menangani masalah yang datang kepada kita. Kebisa-anmu melewati masalah, tidak mungkin sama dengan temanmu, dengan orang lain.

Di masa lalu, mungkin saja situasinya akan berbeda jika saja tidak memilih memendam semuanya sendirian, jika saja saya lebih berani menyuarakan isi kepala saya, berani keluar dari tekanan, tidak memilih meringkuk ketakutan di sudut kamar sembari menangis diam-diam, jika saja saya tidak mengamini ‘di luar sana masih banyak orang yang masalahnya lebih besar dari kamu, jadi jangan berisik’, kemarahan dan kebencian saya tidak akan sepekat yang pernah saya rasakan. Mungkin saja, saya tidak akan terlalu sulit berdamai dengan hidup saya, dengan orang-orang yang saya benci, dengan segala hal yang membuat saya percaya bahwa saya tidak berharga.
Karena terbiasa memendam, terbiasa menelan bulat-bulat kesedihan dan kemarahan yang datang kepada saya, terbiasa menyalahkan entah keadaan entah mereka, saya membutuhkan waktu separuh dari usia saya untuk sembuh. Sungguh hari-hari yang melelahkan.

So, it’s okay not to be okay. Some days are rough and it’s ok to cry. You don’t have to be postivie all the time.

Tak ada bahagia, senang-senang yang bisa bertahan selamanya. Kadang kita perlu kesedihan agar tahu harganya bahagia. Untuk menjadi tangguh, kita mesti melewati fase berkali-kali jatuh. Setiap jatuh, setiap sedih, setiap luka yang kita alami adalah satu tangga menuju kita yang kuat. Kadang saat kita begitu bersemangat mendengar cerita sukses seseorang yang selamat dari cengkeraman jelaga masa lalu, tapi kita tidak sepenuhnya bisa merasakan dan memahami perjuangannya untuk bisa lolos dari sana, tidak hingga kita mengalaminya sendiri. Hidup memang seperti itu, lebih mudah berkata-kata, lebih mudah membayangkan.

It takes time.
Untuk bangkit,
Untuk tidak menyerah,
Untuk memahami,
Untuk menerima
Untuk mengatasi,
Untuk belajar memeluk diri sendiri dengan hangat seraya berkata, “terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih...”

Setiap dari kita sudah punya garis waktunya masing-masing, jadi, jangan membuat hidup kita seolah-seolah berada di jalur lomba lari, yang mesti bersaing dengan yang lain demi mencapai finish. Capek, nanti. Mungkin baik membandingkan pencapaian orang lain dengan tujuan melesatkan diri, tapi kalau hasilnya justru bikin kita jiwa kita kerdil, untuk apa?

Pada akhirnya, hari-hari buruk, dan hal-hal buruk yang seringkali menumbuhkan rasa percaya bahwa kita adalah produk gagal sejatinya adalah ruang belajar tanpa batas bagi setiap yang mengalaminya.

... and let me say this to my twenties, “You have worked hard, sayangku... thank you. I love you so much, I really do.
-Azz-

“Apa jadinya jika saya benar-benar menikah di usia 23 tahun seperti keinginan saya dulu?”

Saya sedang membuka-buka lembaran sebuah novel favorit saya di kamar ketika sepotong tanya menggelitik itu muncul di kepala saya. Ya, apa jadinya saya? Apakah saya akan baik-baik saja? Bila mengingat kondisi mental kejiwaan saya selama sepuluh tahun terakhir, maka saya—dengan nada yakin dan penuh kesedihan—bisa menjawab, tidak. Saya tidak akan baik-baik saja. Saya (mungkin) memiliki keyakinan menggebu-gebu pada saat itu, bahwa saya bisa melewati hari-hari yang sulit dengan pasangan saya, tapi saya yang saat ini bisa melihat jelas, kenyataan tidak akan seindah yang saya bayangkan. Saya tidak memiliki kesabaran tanpa batas seperti ibu saya, saya di masa lalu ibarat sekam kering, dengan kondisi mental yang tidak stabil, reaktif seperti Hidrogen, sedikit percikan saja akan membakar diri saya sendiri, juga pasangan saya. Potensi saya untuk membuat seluruhnya berantakan sangat besar. Oh, tidak. Saya tidak sedang meragukan dan menjatuhkan diri sendiri dengan semena-mena, memang sudah seperti itulah gambaran keadaan jika saya benar-benar menikah di usia 23 tahun, seperti keinginan saya dulu. Menikah bukan soal kita ingin atau belum, tapi soal kesiapan kita menempuh perjalanan asing, yang menuntut kecakapan kita menerima dan menjalani hal-hal baru, dihidupi olehnya. Jika menikah dalam keadaan mental yang kacau, maka saya tak ubahnya sedang menciptakan neraka baru bahi hidup saya.

So, what are you really talking about, gurl? Still talking about marriage like before?
HAHAHAHA. Nope. I’ll talk about something else. Bear with me, okay?

Sebenarnya pertanyaan itu hanya satu dari sekian banyak deret tanya yang diawali kata jika, andai, misal yang semuanya itu erat hubungannya dengan waktu-waktu yang sudah saya lewati. Masa lalu.

Jika saya tidak pernah memutuskan pacar saya karena tidak ingin berada dalam situasi penuh kepura-puraan, apakah saya akan baik-baik saja?
Jika saya lulus tepat waktu, akan seperti apa dunia kerja yang saya tinggali? Apakah itu jenis pekerjaan yang membuat saya betah?
Jika saya benar-benar meninggalkan rumah kala itu, pergi ke tempat yang jauh, meninggalkan unfinished problems—lari, apakah itu berhasil membuat saya sembuh?
Jika saja saya tetap percaya bahwa saya lebih baik menutup pintu hati saya rapat-rapat...
Jika saja saya tetap percaya bahwa saya tidak akan bisa melakukan apa-apa untuk hidup saya...
Jika saja saya memutuskan tetap tinggal di dalam keyakinan bahwa saya bukan orang berhati hangat, bahwa saya jahat, bahwa saya judes, ketus, membenci laki-laki sepenuh hati, bahwa bersikap dingin adalah jurus terjitu melindungi diri sendiri dari luka dari kekecewaan, dari apa-apa yang telah dan bisa membuat saya babak belur... jika saya tetap memercayai itu semua saya tidak akan pernah mampu menghadapi diri saya sendiri, selamanya saya akan percaya bahwa saya adalah korban dari kegagalan orang-orang dewasa mengatasi ego mereka sendiri.

... Hari-hari panjang yang saya lewati yang acapkali disebut hari yang gagal itu, nyatanya telah membantu saya menemukan jalan pulang. Berdamai dengan diri sendiri.
Melepas usia 20-an, saya mencoba menoleh sekali lagi pada tahun-tahun panjang itu, betapa banyak pertolongan yang Allah berikan kepada saya agar tetap mampu merawat kewarasan. Dulu, saya berpikir hidup saya terlanjur berantakan, tidak bisa diperbaiki lagi, nyatanya, pandangan saya terlampau picik. Saya terlalu cepat menghakimi proses yang sedang saya jalani. Jika saya tidak mengalami hal-hal buruk itu, saya tidak akan menjadi saya yang sekarang.

It takes time.

Butuh waktu yang panjang bagi saya hingga bisa sepenuhnya pulih dari luka yang dirawat dengan telaten oleh diri saya sendiri, untuk menerima kenyataan bahwa kita yang dibesarkan kesakitan-kesakitan sesungguhnya adalah sosok yang kuat, bahwa melalui itu semua, hati dan nurani kita diasah agar lebih peka, lebih sabar, lebih tabah—they say everything happens for reason.  Kita bisa saja mengalami kesakitan serupa, tapi alasan mengapa harus kita yang mengalaminya, bisa jadi berbeda. Pun prosesnya. Tidak pernah ada yang benar-benar sama. Tapi, dengan melalui itu semua, kita jadi tahu seberapa mampu kapasitas hati kita menampung kesedihan. Dengan melalui itu semua, kita bisa mengantisipasi agar kelak, kejadian-kejadian buruk itu tidak perlu diwariskan. Bahwa perjalanan setiap luka akan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan, dan diri kita sendiri. Hanya jika kita berani dan mau belajar.

It takes time.

Setiap nama menyimpan ceritanya sendiri. Dan setiap cerita tidak selalu punya alur yang manis, yang bahagia. Selalu ada cerita yang stuck di titik yang sama, tidak ke mana-mana. Juga ada cerita berulang dengan objek yang sama namun memiliki ending berbeda. Bila setiap nama diibaratkan buku, maka buku saya berisi banyak sekali cerita kegagalan. Gagal menemukan warna diri, gagal memeluk kata maaf dengan setulus hati, gagal mengurai kemarahan yang bertumpuk-tumpuk—saya pernah terbiasa membenci hidup saya, membenci orang-orang yang menempatkan saya di titik kesakitan paling dalam. Pernah, saking sesaknya dada saya menahan beban, beberapa kali saya ingin berteriak sekeras yang saya bisa dan hanya berakhir menangis sesenggukan sembari membekap mulut saya dengan bantal. Sekali waktu, saya pernah mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika pergelangan tangan saya disentuh pinggiran silet yang tajam dan dingin itu... Saya percaya orang-orang yang mengenal saya di real life tidak akan memercayai saya pernah mengalami depresi. Karena bagi mereka, saya terlihat baik-baik saja. Saya terbiasa menyimpan semuanya sendirian, maka begitulah...

Saya ingat, suatu ketika pernah meminta tolong kepada Teh Wiwit agar dikenalkan kepada seorang psikolog atau psikiater, kalau-kalau beliau punya teman—itulah saat-saat saya sering memikirkan bunuh diri sebagai jalan terbaik. Alhamdulillah, saya masih ditolong Allah hingga saya akhirnya berhasil mengabaikan.jalan terbaik versi pikiran gila saya itu.

 “... jangan lebay deh, jangan manja, jangan cengeng, tuh liat di luar sana masih banyak orang yang masalahnya lebih berat dan mereka masih bisa menahannya.” Please, jangan ngasih kata-kata semacam ini kepada mereka yang sedang berjuang mengatasi masalahnya, meskipun niatmu untuk menguatkan. Itu tindakan keliru. Toxic. Banyak mental illness lahir karena orang-orang memilih menyimpan sendiri masalah-nya.

Everyone has their own story. You can’t judge them based on your own perspective.
Dan lagi hidup tidak melulu soal membandingkan luka siapa yang paling dalam paling sakit paling babak belur. Temanmu menceritakan kesulitan-kesulitannya kepadamu, bukan berarti dia lemah, bukan berarti ia ingin dikasihani, mungkin saja ia hanya ingin didengar. Sebatas itu.
Kita dianugerahkan Tuhan kemampuan berbeda-beda dalam menangani masalah yang datang kepada kita. Kebisa-anmu melewati masalah, tidak mungkin sama dengan temanmu, dengan orang lain.

Di masa lalu, mungkin saja situasinya akan berbeda jika saja tidak memilih memendam semuanya sendirian, jika saja saya lebih berani menyuarakan isi kepala saya, berani keluar dari tekanan, tidak memilih meringkuk ketakutan di sudut kamar sembari menangis diam-diam, jika saja saya tidak mengamini ‘di luar sana masih banyak orang yang masalahnya lebih besar dari kamu, jadi jangan berisik’, kemarahan dan kebencian saya tidak akan sepekat yang pernah saya rasakan. Mungkin saja, saya tidak akan terlalu sulit berdamai dengan hidup saya, dengan orang-orang yang saya benci, dengan segala hal yang membuat saya percaya bahwa saya tidak berharga.
Karena terbiasa memendam, terbiasa menelan bulat-bulat kesedihan dan kemarahan yang datang kepada saya, terbiasa menyalahkan entah keadaan entah mereka, saya membutuhkan waktu separuh dari usia saya untuk sembuh. Sungguh hari-hari yang melelahkan.

So, it’s okay not to be okay. Some days are rough and it’s ok to cry. You don’t have to be postivie all the time.

Tak ada bahagia, senang-senang yang bisa bertahan selamanya. Kadang kita perlu kesedihan agar tahu harganya bahagia. Untuk menjadi tangguh, kita mesti melewati fase berkali-kali jatuh. Setiap jatuh, setiap sedih, setiap luka yang kita alami adalah satu tangga menuju kita yang kuat. Kadang saat kita begitu bersemangat mendengar cerita sukses seseorang yang selamat dari cengkeraman jelaga masa lalu, tapi kita tidak sepenuhnya bisa merasakan dan memahami perjuangannya untuk bisa lolos dari sana, tidak hingga kita mengalaminya sendiri. Hidup memang seperti itu, lebih mudah berkata-kata, lebih mudah membayangkan.

It takes time.
Untuk bangkit,
Untuk tidak menyerah,
Untuk memahami,
Untuk menerima
Untuk mengatasi,
Untuk belajar memeluk diri sendiri dengan hangat seraya berkata, “terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih...”

Setiap dari kita sudah punya garis waktunya masing-masing, jadi, jangan membuat hidup kita seolah-seolah berada di jalur lomba lari, yang mesti bersaing dengan yang lain demi mencapai finish. Capek, nanti. Mungkin baik membandingkan pencapaian orang lain dengan tujuan melesatkan diri, tapi kalau hasilnya justru bikin kita jiwa kita kerdil, untuk apa?

Pada akhirnya, hari-hari buruk, dan hal-hal buruk yang seringkali menumbuhkan rasa percaya bahwa kita adalah produk gagal sejatinya adalah ruang belajar tanpa batas bagi setiap yang mengalaminya.

... and let me say this to my twenties, “You have worked hard, sayangku... thank you. I love you so much, I really do.
-Azz-

Continue Reading

Pada suatu hari, sepulang dari tugas mengajarnya, Shin So Yi yang lelah menemukan sebuah paket kiriman dari Paman dan Bibinya di kampung, isinya macam-macam hasil kebun. Di bagian terbawah paket itu, So Yi menemukan sebuah buku tebal mirip album. Kata bibinya, buku itu ditemukannya di rak perpustakaan sekolah saat sedang bersih-bersih. Ia tahu itu milik So Yi.
Membuka buku itu, membuat ingatan So Yi terlempar ke masa lalu. Kembali ke masa-masa ketika ia harus pindah dari Seoul dan tinggal di Nonsan bersama nenek dan pamannya. So Yi yang masih enambelas tahun marah pada ibunya. Ia merasa telah diabaikan dan dibuang. Menjelmalah ia seorang gadis pemarah, sensitif dan tidak ramah. Di hari pertamanya sekolah, ia bahkan terlibat perkelahian dengan seorang murid perempuan Di sekolah barunya itu, So Yi dipertemukan dengan Jin Hyun—si ketua kelas yang berprestasi.. Dan dari situlah buku itu berasal. Wali kelas memberi tugas kepada mereka agar membuat sebuah antologi kelas yang memuat surat dari setiap murid yang isinya tentang mimpi mereka di masa depan dan juga surat kepada teman-teman mereka. Mengabadikan kenangan, maksudnya.
Perkenalan So Yi dan Jin Hyun membawa perubahan yang baik pada karakter gadis itu. Well, bisa ketebak sih kelanjutannya—mereka saling jatuh cinta. Namun perasaan So Yi terhempas tiba-tiba ketika di suatu pagi, ia menemukan Jin Hyun telah menghilang bersama keluarganya. Ayahnya terlibat penipuan, dan membawa lari uang iuran warga.
Sekian tahun berlalu, So Yi menyangka Antologi itu tidak pernah selesai bersama hilangnya Jin Hyun hingga bibinya menemukan antologi itu terselip di antara buku-buku di rak perpusatakaan.
Antologi itu ibarat penyejuk di tengah mumetnya hari-hari So Yi. Ia mengingat-ingat kembali bagaimana rupa masa lalunya. So Yi remaja bermimpi bisa kuliah di Harvard, bertemu pria tampan seperti Brad Pitt, dan tinggal di Beverly Hills. Dan lihatlah bagaimana kehidupan So Yi dewasa sekarang? Ia hanya lulusan universitas tak jelas di Amerika, karena tak kunjung mendapatkan pekerjaan ia pun kembali ke kampung halamannya—Seoul. So Yi akhirnya bekerja sebagai guru bimbel swasta, single, dan tinggal di sebuah apartemen sempit. Tapi So Yi tidak menyesali mimpi masa remajanya. Ia malah menyemangati murid-muridnya agar berani bermimpi. Mumpung bermimpi tidak membutuhkan uang.
Itulah cuplikan singkat Anthology, salah satu episode Drama Stage yang ditayangkan tvN di tahun 2018 ini. Drama satu episode ini dibintangi oleh One, dan Shin Eun Soo—dua aktor muda potensial Korea Selatan. 
Adalah narasi Shin So Yi menjelang ending drama ini yang membuat saya terpikat pada Anthology. Ini drama sederhana dengan moral story yang menyentuh titik sadar saya.
“Hidup tidak semudah yang kau pikirkan. Berlubang, berliku dan penuh rintangan. Sewaktu-waktu kau bisa terjatuh di dalamnya. Andai diriku saat 17 tahun melihat hidupku yang sekarang, bagaimana dia akan memercayainya?  Aku berpikir kalau 17 tahunku adalah saat paling kelam dalam hidup. Namun, di suatu musim gugur... ia berubah menjadi pelangiku. Jika aku bisa kembali, aku akan menceritakan aku hari ini. Bahwa hidupku sekarang tidak apa-apa... tidak seburuk itu.”
Saya melihat sosok masa remaja saya pada So Yi enambelas tahun.
Saat itu, persis seperti So Yi, saya menganggap hidup saya diberati masalah-masalah yang seolah tak memiliki pangkal-ujungnya. Yang (bisa) terpikir oleh saya kala itu adalah run away, melarikan diri sejauh-jauhnya dari rumah. Saya menyangka dengan melakukan itu, saya bisa menemukan jalan keluar. Selang sekian tahun berlalu, dan saya diberi kesempatan menoleh pada masa lalu—saya tidak bisa menolong diri saya untuk tidak tertawa. Betapa syahdu, melankolik, dan lucu-nya saya pada saat itu. Masalah yang saya hadapi di usia belasan ternyata masih kalah berat dan rumit dibandingkan apa yang saya hadapi di akhir usia 20-an saya saat ini.
Saya berdiri di ambang kesadaran, bahwa hidup adalah siklus melewati satu ujian untuk menyelami ujian lain, yang setiap fasenya memiliki takaran kesulitan yang berbeda—semakin berat saja tampaknya. Dan bila kita telah melewati satu ujian hidup, maka itu menandakan kita telah menjelma jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ujian hidup bagi setiap orang berbeda-beda. Hanya seringkali, kita khilaf menuduh ujian berupa masalah yang datang pada kita lebih sulit dari apa yang dihadapi orang lain.
So Yi benar, hidup tidak semudah yang kita pikir. Tapi, bukan berarti, karena tidak mudah, lantas kita memilih menyerah dan kalah saja. Saya tidak berbicara dalam nada sok tahu dan sinis, karena saya tahu benar, untuk bisa meluangkan ruang selapang-lapangnya di dalam hati bagi pemakluman dan pengertian bahwa ujian hidup adalah sebuah ke-ada-an yang pasti, tidaklah semudah membicarakannya. Untuk tiba di sana, kita harus melewati perjuangan yang tidak sederhana. Kita butuh waktu, keikhlasan, juga keberanian. Dan bukan mustahil kita pun akan merasakan banyak sekali kehilangan karenanya.
Saya percaya. Nanti, akan datang hari di mana kita mengingat masa-masa sulit itu seraya tersenyum malu-malu diiringi syukur yang tak habis-habis. Untunglah, saya tidak menyerah....
Hidup ini penuh kejutan. Dengan ekspektasi atau pun tidak, ia tetap mampu mengejutkanmu dengan caranya yang rahasia.
Azz

*)tulisan ini pernah diposting di blog saya yang lain (Blossom Memories)

ANTOLOGI

by on 12/16/2019 01:49:00 PM
Pada suatu hari, sepulang dari tugas mengajarnya, Shin So Yi yang lelah menemukan sebuah paket kiriman dari Paman dan Bibinya di kampun...

“Apa yang terpikirkan olehmu mengenai benda itu?”
Pada satu kesempatan yang tidak begitu cerah, di bawah langit pukul lima sore, di antara lalu lalang kendaraan yang ramai, Senja mendadak melemparkan pertanyaan itu kepadaku setelah kami terdiam cukup lama karena kehabisan topik pembicaraan.
Itu pertemuan kesepuluh kami.
Kuikuti arah telunjuknya. Alisku bertaut. “Itu?”
Ia mengangguk. “Apa yang kamu pikirkan?”
Yang ia tunjuk adalah sebuah tong sampah besar yang terletak di pojok kiri halte. Kukembalikkan tatapanku kepada Senja. “Itu hanya... tong... sampah?” ucapku hati-hati.
“Hanya itu? Hanya tong sampah?”
Bola mataku terangkat ke atas. Berpikir. Namun, alih-alih mencoba mencari opsi jawaban lain terhadap pertanyaan aneh Senja, aku malah sibuk menebak maksud di balik pertanyaan lelaki berkacamata itu. Seharusnya aku tidak lupa, Senja selalu mengagetkanku dengan lompatan-lompatan pikirannya. Bahkan sejak pertemuan perdana kami, di halte itu.
“Memangnya ada sebutan lain untuk tong sampah?” Aku tahu, saat itu aku terdengar sangat tolol. Aku sungguh tidak tahu apa istimewanya sebuah tong sampah besar berisi sampah yang mengeluarkan bau busuk itu.
Tapi Senja tidak tertawa. Wajahnya berubah serius. “Kamu benar-benar hanya memikirkan tong sampah?”
Aku menggeram jengkel. “Oh c’mon, Senja Dirgantara, bisa nggak kita langsung ke poin intinya saja? Ada apa sih dengan tong sampah? Katakan padaku apa yang membuatmu begitu tertarik pada tong sampah?”
Senja tergelak. “As always, di antara kita berdua, selalu kamu yang paling nggak sabar.”
Aku tidak membantah.
“Aku sedang membicarakan sudut pandang, Jingga.” Senja memulai. Dan aku tidak memiliki pilihan lain, kecuali menyimak.
“Tong sampah itu, jika kamu bertanya pada—setidaknya sepuluh orang yang mampir di halte ini, aku yakin ada satu atau dua dari mereka yang akan memberimu jawaban berbeda. Mungkin ada ibu-ibu yang akan mengomel mengapa para petugas kebersihan selalu terlambat mengangkut sampah-sampah di dalam tong itu, mungkin ada seorang bapak parobaya yang dengan segera akan menceritakan padamu tentang seorang peminta-minta yang mati keracunan kemarin malam setelah memakan sepotong roti sisa yang ia temukan di antara tumpukan sampah di dalam tong itu. Ini tentang sudut pandang, Jingga.”
Kuhela napas, hati-hati.. “Tapi aku benar kan? Itu hanya tong sampah?”
Bagi kamu, itu memang hanya tong sampah. Tapi bagi orang lain, benda itu bisa memiliki arti berbeda. Kamu masih belum menangkap maksudku?”
Aku menggeleng lemah.
Senja menatapku lama sekali. “Mungkin, kita perlu sekali-kali mengganti sudut pandang agar bisa memahami segala sesuatu dengan lebih adil. Aku tahu itu tidak mudah, tapi... apa yang akan kita ketahui jika tidak mencoba?”
Ada percikan kesedihan yang belum kering di bola mata cokelat Senja. Tanpa sadar, ingatanku melayang pada potongan koran yang diperlihatkan Senja padaku sepekan lalu. Judul berita utamanya terdengar menggembirakan sekali, mengenai seorang pemimpin daerah yang berhasil menyabet penghargaan internasional karena dianggap berhasil memberikan perubahan yang signifikan terhadap pembangunan daerahnya, padahal beliau baru setahun memimpin. Ia begitu dielu-elukkan. Media cetak dan online  dipenuhi namanya, memenuhi Trending topic Twitter selama berhari-hari.
“Meski dalam keadaan paling buruk sekali pun?” tanyaku. Kuusahakan menggunakan tone nada paling tenang yang kumiliki.
Senja mengangguk. Senyumnya kembali. “Meski dalam keadaan paling buruk sekali pun,” ulangnya.
Kurasa, Senja telah menemukan jawaban mengapa ia harus merelakan sebuah rumah singgah untuk anak jalanan yang ia bangun dari nol bersama teman-temannya diratakan dengan tanah oleh PEMDA atas nama pemerataan pembangunan.
Aku terdiam. Tak tahu harus mengatakan apa.
Senja juga.
Lalu lalang kendaraan di depan halte semakin ramai mendekati jam pulang kantor. Sebentar lagi, serapah dan bunyi klakson yang melengking silih berganti akan terdengar dari berbagai penjuru. Di jalanan, keramaian selalu punya namanya sendiri.
“Betapa bisingnya...” ada getir yang gagal kusembunyikan.
“Seperti isi kepala kita...”
Perbincangan di Halte; Sebuah Kolase
==
Pernah, suatu ketika saya mendengar cerita yang tidak seragam mengenai satu urusan. Ketidakseragaman itu berasal banyak sekali mulut. Berpindah-pindah. lalu lahir kembali dengan modifikasi yang tidak sedikit. Tapi ini bukan tentang gosip.
Pada kesempatan lain, pernah juga saya berasa di tengah-tengah dua orang yang saling salah paham. Dan setelah saya mencoba menarik diri, memberi jarak pada apa sebenarnya yang membuat keduanya tidak menyukai satu sama lain, inilah yang saya dapatkan; bahwa mereka hanya tidak menyukai cara berbicara masing-masing. Bahwa versi si Mbak satu, si A sangat annoying, gila urusan, apa-apa dikomentarin. Yang membuat saya berpikir keras, mengapa ketika saya berinteraksi dengan si A,  saya tidak menemukan identifikasi annoying pada dirinya? Ah—atau mungkin belum? Entahlah. Ataukah annoying versi si Mbak berbeda dengan annoying versi saya?
Voila! Sepertinya ini persoalan sudut pandang.
Mengenai dari sudut mana kita melahirkan pandangan. Penilaian. Soal angle. Sebuah kamera akan menghasilkan gambar berbeda dari satu objek jika saya mencoba memotretnya dari titik yang berbeda; padahal objeknya sama. Dan tentu hasil jepretan saya akan sangat berbeda pula kalau kamera yang saya gunakan adalah 360. Kamera 360, sebuah fatarmogana tentang keindahan, kamuflase yang menyenangkan tapi menipu. Jebakan Betmen HAHAHAHA.
Well, saya tidak ingin membahas Camera 360.
Hari-hari belakangan ini, saya tidak lagi mencoba memaksakan kepala saya untuk menerjemahkan situasi dengan ngotot. Bila persoalannya memang mengenai sudut pandang, maka benar, atau salah menjadi sesuatu yang variatif. Sudut pandang berkaitan juga dengan standar baik atau buruk yang berbeda pada setiap orang. Ini bukan pekerjaan yang mudah mengingat saya yang kerap terperosok dalam penilaian yang dilandasi kejengkelan alias emosional. Sudut pandang membuat kita bisa sangat berbeda, tapi kita tidak perlu saling menebaskan kata-kata tajam untuk membunuh langkah. Sudut pandang bukan alat untuk menciptakan musuh sebanyak-banyaknya, sebanyak perbedaan yang kita panjangkan dari hari ke hari. Sudut pandang tidak lantas mengajarkan kita mengeja kebencian yang tidak habis-habis pada orang lain.
Sudut pandang, pada titik lain sanggup menciptakan kesalahpahaman yang berlarut-larut.
Pernah ndak, kamu sepenuh hati kesal kepada seseorang karena penilaian sepihakmu? Namun, ketika kamu mencoba berjarak dari kekesalanmu, kamu mencoba mencerna persoalan dengan jernih, kamu menyadari segalanya akan jauh lebih baik seandainya sedari awal kamu membuka jalur komunikasi—bukan malah meletupkan kekesalan. Dari 100 orang yang kamu kenal, mustahil sekali keseratus orang tersebut pas dengan standardisasi sifat dan sikap yang kamu miliki. Tidak sekali dua kali hal seperti ini terjadi pada saya, yang belakangan ini membuat saya banyak sekali merenung, tak terhitung berapa kali saya menghela napas berat. Khawatirnya, semakin banyak saya berburuk sangka kepada orang lain, maka akan semakin sulit pula saya mengenali diri saya sendiri, karena terlalu sibuk meng-upgrade ketidaksukaan saya pada orang lain.
Saya tersentil ketika menonton Episode 11 Miss Hammurabi, ada satu scene yang menunjukkan Hakim Park Cha Oh Reum mengeluh pada neneknya dengan nada frustasi.. Setelah menjadi hakim, Cha Oh Reum meyadari ternyata banyak sekali orang jahat di dunia ini, orang yang tak merasa bersalah atas apa yang mereka perbuat, dan juga tak pantang mundur. Hakim Park rasa-rasanya ingin berhenti melakukannya—berhenti menjadi hakim...
Apa yang dikatakan neneknya kemudian yang berhasil menyentil saya.
“Oh Reum-ah, do you know what the dirtiest thing in the world is? What about the purest thing in the world? You see, in my over 80 years of life, i’ve realized that everything, from the ugliest and the prettiest, to the most evil and most benevolent, as well as the cruelest and even the most sympathetic thing... all comes down to people.~
Perhaps, we’re all born into this world to learn to be patient. Maybe that’s the lesson we’re here to learn.
belajar untuk sabar.
... sabar menghadapi manusia lain.
... sabar menghadapi hal-hal yang tidak sesuai dengan standardisasi yang kita miliki
... sabar menghadapi diri sendiri,
Hidup ya, belajar menjadi sabar di waktu dan tempat yang tepat.
Andai di dunia ini ada sekolah yang menjadikan sabar dan ikhlas sebagai skripsi, sepertinya saya akan lama lulusnya
Tapi kalau klausulnya ditambah, misalnya sabar dalam menunggu jodoh, Insyaa Allah saya bisa lulus cepet HAHAHA.

*)Tulisan ini pernah saya posting di blog saya yang lain (Blossom Memories). 

[Pieces of Me] Sudut Pandang

by on 12/16/2019 01:28:00 PM
ㅡ “Apa yang terpikirkan olehmu mengenai benda itu?” Pada satu kesempatan yang tidak begitu cerah, di bawah langit pukul lima sore, ...

Yeay! Akhirnya saya bikin POV buku pertama di MS, dan ini adalah pertama kalinya  saya nulis POV buku. Seingat saya sih begitu. Jadi, karena ini POV buku pertama saya, mon maap kalau isi-nya nggak sebagus di blog-blog yang lain. Namanya juga masih belajar hehe #ngelestetep jadijurusterjitu.
Tentang novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982, saya memutuskan membeli bukunya di Buka Buku, tobuk online langganan saya, setelah membaca tanggapan teman-teman di medsos terhadap filmnya. Iya. Novel yang kemunculannya telah memicu kontroversi di negara asalnya—Korea Selatan ini memang sudah dibuat versi filmnya, dibintangi Goblin Ahjussi eh Gong Yoo dan Jung Yu Mi. Kabar gembiranya, meski terus mendapatkan protes, versi film Kim Ji Yeong disambut positif penonton. Inilah yang semakin menguatkan minat saya memasukkan novel ini ke keranjang belanja saya mendampingi buku nonfiksi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat-nya Mark Manson.
Karena nggak bisa nonton filmnya—bioskopnya jauh, saya tinggal di pulau—jadi saya baca bukunya aja dulu.
Saya segera membaca Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 begitu bukunya tiba di tangan saya. Saya tidak membutuhkan waktu lama menamatkannya, saya baca di sela-sela pengawasan PAS. Hasilnya? Saya tidak terlalu terkejut dengan apa yang diceritakan di novel yang berjudul asli 82 년생 김지영.
Judul                         : Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982
Penulis                     : Cho Nam-joo
Alih Bahasa            : Iingliana
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit         : November, 2019
Blurb
Kim Ji-yeong adalah anak perempuan yang terlahir dalam keluarga yang memgharapkan anak laki-laki, yang menjadi bulan-bulanan para guru pria di sekolah, dan yang disalahkan ayahnya ketika ia diganggu anak laki-laki dalam perjalan pulang dari sekolah di malam hari.
Kim Ji-yeong adalah mahasiswi yang tidak pernah direkomendasikan dosen untuk pekerjaan magang di perusahaan ternama, karyawan teladan yang tidak pernah mendapat promosi, dan istri yang melepaskan karier serta kebebasannya demi mengasuh anak.
Kim Ji-yeong mulai bertingkah aneh.
Kim Ji-yeong mulai mengalamu depresi.
Kim Ji-yeong adalah sosok manusia yang memiliki jati dirinya sendiri.
Namun, Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia.
Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982 adalah novel sensasional dari Korea Selatan yang ramai dibicarakan di seluruh dunia. Kisah kehidupan seorang wanita muda yang terlahir di akhir abad ke-20 ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan tentang praktik misoginis dan penindasan institusional yang relevan bagi kita semua.
***
Dari petikan blurb-nya sudah ketahuan seperti apa potret kehidupan Kim Ji-yeong yang diceritakan di dalam novel ini. Diskriminasi, perlakuan berbeda yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan itu terbaca jelas. Inilah realitas sesungguhnya yang dialami perempuan-perempuan di Korea Selatan. Sekian dekade telah berlalu, namun praktik misoginis, patriarki, masih betah mengakar pada sendi-sendi kehidupan masyarakatnya.
Novel setebal 192 halaman ini memiliki alur maju-mundur yang dibagi menjadi 6 bagian memakai kurun waktu 1982, kelahiran Ji-yeong sampai 2016, mencakup hari kelahiran Kim Ji-yeong, masa-masa sekolahnya, kehidupan pekerjaan hingga pernikahannya, yang pada setiap fase itu kita bisa melihat secara terang-terangan dan gamblang betapa tak adil-nya lingkungan di Korea Selatan memperlakukan perempuan. Dan kehidupan Kim Ji-yeong merangkum seluruhnya tanpa terkecuali.
Kim Ji-yeong terlahir dari seorang perempuan hebat yang meski telah dibuat babak belur oleh pilihan-pilihan yang tidak diinginkannya tapi mesti diambilnya karena ia perempuan, Oh Mi-sook tidak lantas luruh begitu saja dalam ketidakberdayaan. Oh Mi-sook melawan dengan caranya sendiri. Ia adalah sebuah pengecualian. Di dalam rumahnya, Oh Mi-sook memegang peranan besar.
Lihat, Seoul ada di sini. Bentuknya hanya satu titik. Saat ini, kita hidup di dalam titik ini. Walaupun kalian mungkin tidak akan mengunjungi semua tempat yang ada, aku ingin kalian tahu bahwa dunia ini sangat luas.” –Oh Mi-sook (hal 47)
Itulah yang dikatakan Oh Mi-sook pada kedua putrinya saat menunjuk sebuah peta dunia berukuran besar yang tergantung di dinding kamar mereka. Betapa ia ingin agar anak-anaknya tak bernasib sama dengannya—terpaksa memangkas habis mimpi-mimpinya karena tanggung jawab yang harus diembannya, sebab, lagi-lagi karena ia perempuan.
Namun sayang, harapan ibunya gagal mewujud pada Kim Ji-yeong. Karena ia perempuan yang dilahirkan dan tumbuh besar dalam lingkungan yang pelik, yang memandang perempuan sebagai sumber masalah, bahwa perempuanlah yang patut disalahkan bila ada hal-hal buruk menimpanya, Kim Ji-yeong terbiasa menelan bulat-bulat kemarahannya. Perempuan malang itu, entah di mulai dari titik mana, telah kehilangan suara-nya.
Kim Ji-yeong menikah dengan Jeong Dae-hyeon saat dirinya berumur 31 tahun, lalu melahirkan anak pertamanya—Jeong Ji-won setahun setelahnya.
Di suatu pagi, Jeong Dae-hyeon menyaksikan sendiri perubahan aneh terjadi pada diri istrinya. Kim Ji-yeong bertingkah dan berbicara seperti orang lain. Awalnya Jeong Dae-hyeon tidak menganggap serius hal tersebut. Namun ketika Kim Ji-yeong tiba-tiba menirukan Cha Seung-yeon—sahabat Ji-yeong yang sudah meninggal akibat emboli air ketuban saat melahirkan anak keduanya, Jeong Dae-hyeon mulai dihinggapi kekhawatiran.
Kulminasi keanehan juga kesedihan hidup Kim Ji-yeong terjadi pada musim gugur 2015.  Saat itu adalah perayaan Chuseok. Jeong Dae-hyeon mengajak Kim Ji-yeong dan putri mereka mengunjungi orang tuanya di Busan. Di hadapan kedua orang tua Dae-hyeon, Ji-yeong bertingkah tidak wajar. Ia mengomeli ibu Dae-hyeon, mertuanya sendiri. Dan lagi-lagi, saat melakukannya, ia seperti bukan Ji-yeong biasanya. Ia berubah menjadi orang lain. Jeong Dae-hyeon memutuskan membawa istrinya ke psikiater.
Apa sebenarnya yang terjadi pada Kim Ji-yeong? Benarkah keanehan demi keanehan yang terjadi padanya semata karena depresi pascamelahirkan?
Kilas balik kehidupan Kim Ji-yeong sebelum dan setelah dilahirkan, suasana rumah, perlakuan sistem dan guru-gurunya di sekolah terhadap anak-anak perempuan, kehidupan perkuliahan hingga lingkungan kerja, dan sampai akhirnya ia pada kehidupan pernikahannya, telah membuktikan apa yang dialami Kim Ji-yeong bukan hanya tersebab depresi pascamelahirkan. Itu adalah rangkaian rel panjang kemarahan, rasa ketidakadilan yang mengendap lama, berkarat di lubuk terdalam memori Kim Ji-yeong. Ji-yeong tak mampu lagi menampung lebih lama, maka meledaklah ia. Rel-nya macet. Dunia Kim Ji-yeong berhenti berotasi.
Lalu mengapa Ji-yeong tidak mencoba melawan seperti ibunya?
Seperti yang ditulis Kim Go Yeon-ju, seorang Sarjana Kajian Perempuan di penutup buku ini, ada waktu-waktu di mana Kim Ji-yeong ingin melawan, ingin bersuara namun urung, karena sejumlah alasan. Kim Ji-yeong sudah terlanjur pesimis terhadap suara-nya sendiri. Sebagai golongan minoritas, di tengah ‘masyarakat misoginis’—Ji yeong memilih diam, karena jika pun ia memilih menyuarakan pendapatnya yang berbeda dari nilai-nilai yang sudah mengakar di masyarakat tersebut, maka ia akan dianggap hanya sebagai suara sumbang yang tak jelas artikulasinya. Konsekuensi yang mesti ditanggungnya sangat besar. Terlampau berat untuk ditanggungnya. Begitu pula akhirnya, sudah terang benderang. Peluang dikucilkan, dijadikan bulan-bulanan sangat besar.
Saya teringat potongan kalimat Jang Geurae dari Misaeng, “in life there are many things you start even if you know the end.” Walaupun kita sudah tahu hasil akhirnya, kita tetap memulainya dengan harapan akan terjadi perubahan. Bagi Kim Ji-yeong, berlaku hal sebaliknya. Karena sudah tahu akhirnya, maka ia memilih tidak melakukan apa-apa. Mengapa mencoba sesuatu yang sudah jelas hasil akhirnya. Sebuah sikap kalah yang muncul karena hilangnya harapan. Ironis bukan?
Apa-apa yang diceritakan di dalam novel ini tidak terlalu mengejutkan saya karena kejadian-kejadian yang menimpa Kim Ji-yeong sudah cukup sering kita temukan di drama, sebut saja Misaeng, atau yang paling terbaru—kisah jaksa perempuan yang mengalami keguguran di Miss Hammurabi. Tidak mengejutkan bukan berarti tidak bisa membuat hati saya nyeri, bukan? Kehadiran novel ini kian menegaskan kefatalan sistem sosial memperlakukan perempuan di Korea Selatan, dan dunia pada umumnya.
Di sinilah letak ironinya. Mengapa orang-orang bersuara keras terhadap kehadiran novel ini, padahal jika menyoal isi bukunya, sudah bukan lagi menjadi hal baru? Mengapa harus marah? Tersinggung? Apakah karena Kim Ji-yeong secara blak-blakan menelanjangi kebrutalan pandangan dan perlakukan masyarakat umum terhadap perempuan di sana sehingga orang-orang ini takut akan munculnya gelombang tuntutan perubahan dalam tatanan sosial masyarakat terhadap perempuan? Memangnya apa salah bila perempuan menyuarakan ketidakadilan yang menimpanya? Bukankah perlakuan tidak adil pada perempuan di Korea Selatan sudah sering divisualisasikan di drama? Semestinya kehadiran novel yang diterbitkan pertama kali di tahun 2016 ini dijadikan momentum baik untuk mengurai benang kusut isu misoginis di Korea Selatan—andai orang-orang yang menentang Kim Ji-yeong itu mau mengoreksi sudut pandang akut mereka tentang posisi perempuan di lingkungan sosial, maka Kim Ji-yeong adalah angin segar. Sayangnya itu tidak terjadi.
Pelecehan seksual, verbal abuse, dan bentuk diskriminasi lain dalam lingkungan pekerjaan, sudah sering kita saksikan di drama-drama Korea dan kehidupan para artis-artisnya, harusnya itu menjadi kritik sosial yang ampuh untuk menghancurkan pondasi ketidakadilan pada perempuan di Korea Selatan. Saya tidak tahu banyak mengenai produk hukum di negara itu, namun membaca bagaimana penanganan kasus pelecehan pada perempuan yang kerap berat sebelah, saya tidak yakin orang-orang benar-benar menganggap serius isu misoginis. Kasus artis pemeran Boys Over Flower yang bunuh diri itu, lalu kasus mendiang Go Hara yang berlarut-larut dan malah menyerang pribadi Hara—banyak sekali... perempuan-perempuan yang memilih untuk bersuara seolah berusaha diredam dengan macam-macam cara. Mengapa? Apa yang salah pada perempuan?
Isu diskriminasi terhadap perempuan bukanlah hal baru, itu tidak hanya terjadi di Korea Selatan, tapi juga di dunia. Dan di sekitar kita. Selama tiga puluh tahun hidup saya, saya tumbuh dan melihat bagaimana perempuan-perempuan di sekitar saya memanggul kesedihannya sendirian karena diperlakukan tidak adil. Saya kenal seorang perempuan, seorang istri. Ia sudah terbiasa mengalah dalam banyak hal, menerima kesalahan yang bukan miliknya. Saya tidak pernah bisa mengerti. Ketika suatu saat saya bertanya mengapa tidak melawan, ia menjawab saya dengan memasang wajah teduhnya, “demi anak-anak...”
Demi anak-anak sering jadi alasan para perempuan yang telah menjadi ibu, mengorbankan apa-apa yang seharusnya menjadi milik-nya. Pada kejadian lain, seorang perempuan yang menjadi korban perkosaan justru disalahkan orang-orang. Pakaiannya, kata mereka. Jika masalahnya hanya berkisar pada pakaian, lalu bisakah orang-orang bersuara sama ketika pelecehan tersebut menimpa perempuan yang berpakaian sopan? Mengapa perempuannya melulu yang disalahkan? Mengapa kita kerapkali gagal menangkap gambar besar sebuah masalah?
Novel Kim Ji-yeong sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dan menjadi internasional best seller—populer tak hanya di Korea Selatan—tidakkah ini menyiratkan memang ada yang salah pada tatanan sosial kita?
Sepatutnya kita sadar bahwa persoalan diskriminasi pada perempuan tidak terbatas pada hal-hal teknis, ada hal-hal mendasar yang sudah mengurat-akar pada masyarakat kita yang kerap memandang perempuan sebagai sebagai objek pelampiasan.
Kim Ji-yeong adalah sebuah kritik keras terhadap tatanan masyarakat sosial dalam pandangan dan perlakuannya terhadap perempuan. Kim Ji-yeong adalah simbol suara-suara perempuan yang dipaksa memilih redam oleh pesimisme, oleh ketakutan, oleh kekecewaan, oleh banyak hal yang membuatnya tampak kerdil tak berdaya... Kim Ji-yeong, sesuai namanya yang populer di tahun 80-an, adalah teriakan frustasi yang mewakili perempuan-perempuan  di Korea Selatan, dan dunia.
Kim Ji-yeong adalah bagian dari semua perempuan di dunia....
Dari sekian banyaknya potongan-potongan cerita kehidupan menyakitkan Kim Ji-yeong di novel ini yang membuat saya menghela napas panjang—kesal, marah, sebut saja apa pun itu—saat membacanya, saya tuliskan bagian-bagian paling membekas saja.
Seorang ibu meminta maaf kepada keluarga suaminya karena melahirkan anak
Ketika Kim Ji-yeong lahir, Ibu memeluknya sambil menangis dan meminta maaf kepada Nenek. (Hal. 25)
Karena Oh Mi-sook melahirkan dua anak perempuan berturut-turut, bukan anak laki-laki, sebab itulah ia meminta maaf. .Dan yang paling menyesakkannya lagi, penyambutan kelahiran Jeong Ji-woon tak berbeda jauh dari ibunya, Kim Ji-yeong. Para ibu (Ibu Kim Ji-yeong dan ibu mertuanya) yang sudah tahu rasa dan beban melahirkan anak perempuan semestinya tak perlu lagi mengulang perlakuan yang sama pada Kim Ji-yeong. Luka itu tak perlu diturunkan. Tapi, itulah yang terjadi.
Kesalahan sebesar apakah yang ditanggung seorang perempuan hingga kelahirannya membuat ibunya harus meminta maaf kepada suami dan keluarganya? Bisa dibayangkan, jika kelahirannya saja sudah disambut dingin, bagaimanalah rupa jejak-jejak kehidupannya kelak...
Pelecehan seksual berkedok minum-minum bersama
Terdengar tidak asing, bukan? Saya tidak bisa menyebutkan secara spesifik di drama apa saya pernah melihat adegan semacam ini, tapi saya ingat sudah banyak drama mengangkat isu ini. Perempuan yang bekerja diposisikan di tempat serba salah. Tidak ikut acara minum-minum dipastikan akan mendapat kritik dan respon negatif dari atasan dan rekan kerjanya, ikut—artinya membuka peluang selebar-lebarnya untuk dipermainkan atasannya.
Perlakuan tidak menyenangkan terhadap perempuan hamil
Di salah satu episode Miss Hammurabi dikisahkan dengan sangat baik ketika seorang jaksa perempuan mengalami keguguran karena dipaksa bekerja melampaui jam kerja oleh atasannya.
Perusahaan tempat Ji-yeong bekerja memberikan keringanan keterlambatan tiga puluh menit untuk karyawati yang hamil, namun yang menyakitkan justru datang dari rekan kerjanya yang pria. Mereka—saya merasakan nada sinis—berkomentar, “wah enak sekali. Sekarang kau bisa datang terlambat”, (hal. 138). Itu terdengar seolah-olah Ji-yeong sengaja memanfaatkan kehamilannya ckck. Lalu ini, “orang yang berkeliaran di kereta bawah tanah dengan perut buncit demi mencari uang masih ingin punya anak?” (hal 140), ucapan yang dilontarkan seorang gadis (mahasiswa), BAHKAN SESAMA PEREMPUAN JUGA MEMPERLAKUKAN JI-YEONG SEKASAR ITU! SAKIT.
Saya hanya bisa menyebutkan tiga kejadian di atas, selebihnya silakan baca sendiri novelnya.
Novel ini tak banyak menonjolkan karakter Jeong Dae-hyeon, jadi saya tidak bisa membahas karakternya lebih jauh. Hanya saja sebagai suami, Dae-hyeon memiliki tingkat kepekaan yang minim terhadap penderitaan istrinya. Okelah, Dae-hyeon sudah berinisiatif membawa Kim Ji-yeong ke psikiater, tapi itu bukan satu-satunya jalan keluar untuk menyembuhkan istrinya. Untuk mengembalikan suara Kim Ji-yeong yang hilang, Dae-hyeon harus terlebih dahulu menerima fakta bahwa yang mengambil suara Ji-yeong bukanlah depresi pascamelahirkan melainkan orang-orang, lingkungan yang mengelilinginya, termasuk suaminya sendiri.
Kim Ji-yeong, Lahir 1982 bukanlah tipikal kisah yang mengikuti alur novel biasa, yang pada setiap konfliknya selalu di akhiri dengan kesimpulan—sad ending, happy ending, atau open ending. Tidak ada akhir untuk kisah Kim Ji-yeong. Dan sebagai pembaca, saya tidak menuntut itu. Bagi saya, novel ini sangat sukses membuka mata saya mengenai isu misoginis, diskriminasi perempuan, sistem patriarki di Korea Selatan, yang segera saja menggiring pikiran saya mendekat pada kehidupan di sekeliling saya. Mereka—Kim Ji-yeong-Kim Ji-yeong lain ada dan hidup di dekat kita. Saya tidak tahu riwayat isu itu sudah mengakar jauh lama di sana, yang membutuhkan rangkaian waktu yang tidak pendek untuk bisa, setidaknya, pelan-pelan memperbaiki tatanan yang sudah rusak itu.

Ketika membaca berita bahwa film Kim Ji-yeong merajai chart Box Office di Korea Selatan,  saya bertanya-tanya mungkinkah momentum baik itu telah tiba pada tempatnya yang seharusnya? Semoga saja masyarakat yang bebal ini mau dan mampu mengoreksi dirinya sendiri. Om Gong Yoo aja dibikin nangis gara-gara baca naskahnya dan segera neleponin emaknya, ngucapin makasih. Curiga, yang nggak tersentuh hatinya baca dan nonton kisah Kim Ji-yeong ini jangan-jangan hatinya terbuat dari plastik daur ulang! /maap/
Omong-omong, sambil membaca buku ini, terpikir satu pertanyaan menggelitik di kepala saya. Orang-orang itu, yang mempermasalahkan kehadiran Kim Ji-yeong, yang menganggap dan memperlakukan perempuan seperti barang, seolah-olah perempuan adalah makhluk yang datang dari dunia yang jauh yang kehadirannya membawa petaka, dari manakah mereka terlahir? Batu?
=OoO=
Membaca Kim Ji-yeong, Lahir 1982 ini bikin saya makin mantap untuk selektif memilih drama yang saya tonton. Dulu, awal-awal ngikutin drakor saya gampang banget suka sama tipikal lead male yang sok cool, demen kasar sama lead female-nya, yang tsundere, yang katanya cinta tapi malah seneng ngejatuhin harga diri orang yang disukainya—kesannya romantis gitu, sekarang no way! Jauh-jauh sama karakter kayak gitu. Dan emang sih sadar nggak sadar secara alamiah saya juga udah nggak seneng nonton drama yang karakter utamanya seperti itu. Drama-drama kayak gitu tuh yang sudah membantu menumbuhsuburkan praktek misoginis.
Saya pernah ngomong ke Hafidh soal pergeseran selera ini. Waktu itu saya nyinggung bacaan sih, saya bilang kalau sekarang saya udah nggak terlalu minat baca novel-novel romantis—asli! koleksi buku romantis saya dikiiiiiit banget. Kata dia kurang lebih gini, memang, seiring bertambahnya usia seseorang, referensi bacaannya pun akan berubah. Nah, ini juga (sepertinya) berlaku dalam urusan tontonan drama. Saya cenderung malas mengikuti drama yang cerita dan karakternya, versi logika berpikir saya nggak realistis. Saya nggak ngomongin genre ya.
Saya tidak akan memberikan rating untuk novel ini. Well, POV ini tidak bisa sepenuhnya disebut review karena saya tidak runut membahasnya, lebih banyak membahas isi dan tanggapan dari sudut pandang saya sebagai pembaca ketimbang mengorek hal-hal lain.. Tidak ada kritik, atau masukan. Kelemahan dan kelebihan novelnya tidak saya urai. Saya memang masih harus banyak membaca dan belajar dari review orang-orang. Hehe.
Oya, ini novel terjemahan Korea Selatan yang saya baca setelah Leafie. Dan karena ini buku terjemahan makanya saya enggan membahas diksi berceritanya. Saya menyelesaikan bukunya tidak kurang dari 24 jam bukan karena bukunya enggak menarik, suer, saya nggak pake jurus skip-skip halaman. Saya benar-benar membacanya halaman demi halaman, menyerap setiap paragrafnya dengan serius. Karena sudah masuk jadwal PAS, aktivitas ngajar nggak ada lagi, makanya saya punya waktu luang yang lebih untuk membaca. Lagi pula halamannya tidak terlalu tebal, hanya 192 halaman.
Oke, adakah di antara pembaca MS yang sudah membaca novel ini? Yuk, ngobrol! ^^

Azz—yang sedang patah hati ㅋㅋㅋㅋ

P.s : yang mau ngerekomendasiin buku-buku bagus boleh dong ninggalin komentarnya...